Wahyu dan Pulung Jokowi Didukung Pasangannya

1
Presiden Megawati dan Presiden Jokowi

Ini pesan spiritual menarik untuk Presiden Joko Widodo dari Ki Sabdopanditoratu. Dia yang serasa sendirian, dan kadang suka menyendiri. Sejalan dengan waktu dan kepentingan, susut sosok sekinerja dirinya di lingkaran Istana. Titik kulminasi itu diakhiri dengan petunjuk dari Yang Maha Gaib kepada Jokowi, yang laku (menjalani).

Manusia Jawa memahami mikro dan makro-kosmos. Manusia adalah bagian dari alam semesta. Diri individu dan alam saling memberi tanda – sinkronisasi hubungan yang esensi dasarnya adalah hubungan dengan sang pencipta dan antar manusia.

Salah satu interaks itu adalah antara pemimpin dan kawulo. Termasuk penentuan pemimpin, dari mulai Raja, Bupati, Lurah dan bahkan Presiden.

Pulung dalam Kosmologi Jawa

Pulung itu adalah kenyataan dalam kosmologi magis spiritual masyarakat di Jawa. Pulung itu selalu bisa dilihat bahkan oleh orang awam tanpa ‘tapa brata’ sekali pun. Pulung berbeda dengan Andaru, Teluhbraja dan Guntur.

Pulung adalah keniscayaan. Kepastian. Jangankan Presiden. Untuk sekelas Kepala Desa pulung dipastikan turun menjelang pemilihan. Pulung yang berwarna kebiruan turun dari angkasa mendekati wilayah atau tempat tinggal seseorang calon pemimpin.

Terkait dengan Jokowi, pulung itu masih samar. Belum berupa kilatan bola api yang meluncur ke Istana Bogor. Pulung itu masih berputar samar di langit antara Jakarta dan Bogor. (Di Jawa Tengah dan Jawa Timur tim spiritual kami menemukan penampakan pulung yang nyaris sama. Belum berupa bola api bulat berekor.)

Pulung Presiden Jokowi

Untuk Periode II Jokowi, wahyu dan pulung Jokowi masih ada. Energi masih tampak. Namun berbeda dengan di 2012 dan 2014 lalu. Pun wahyu atau pulung itu tampak berwujud cahaya biru dengan ekor menggemuk. Lintang clorot alias bintang jatuh, alias pulung itu telah jatuh. Namun, belum terang.

Pulung seperti itu menandakan bahwa Jokowi masih ketiban pulung. Namun keadaan berbeda. Jokowi dipastikan perlu dikuatkan oleh pasangannya, tandemnya, skondannya, dan sesama yang juga mendapatkan pulung.

Fakta Politik

Teriakan nyaring Jusuf Kalla bahwa Jokowi harus menentukan pasangan cawapresnya yang bisa menarik 15% suara nasional adalah relatif tepat. Kenyataan substansial bukan 15% suara namun semestinya angka di kisaran 7% sudah bagus. Asumsi kondisi sospol normal.

Pun mayoritas parpol mendukung Jokowi. Namun permainan zig zag politik tingkat tinggi tengah berlangsung. Unsur api SBY dan api khilafah tetap mendominasi. Api kehijauan pun tetap berseliweran.

Mesin politik PKS pun tetap yang paling kuat dengan bukti Pilkada Sumut, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Fakta isu politik terkait hutang, nasionalisme, pekerjaan, buruh, harga menjadi isu yang luar biasa. Strategi Prabowo, SBY, Gatot, bahkan Anies, Aher, Anis Matta, AHY, dan kalangan khilafah dan PKS (yang selalu oportunis) pun tidak bisa dinafikan. Jusuf Kalla tentu. Semua adalah faktor yang harus di-contented, dibahagiakan. Harus di-addressed.

Antidot Situasi Politik dan Pulung

Jokowi pun paham bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Mengendalikan. Bukan ikut menari genderang yang ditabuh lawan. Strategi menentukan capres dan cawapres di tikungan terakhir antara tanggal 8, 9, Agustus 2018 pun tepat.

Dengan begitu, maka hanya tersisa sedikit manuver bagi Jokowi sendiri maupun oposan terutama SBY, PKS dan Gerindra mungkin hanya penggembira, meski PKS memiliki mesin politik mumpuni.

Dalam konteks pulung, upaya manusia pun menentukan. Tidak serta merta pulung yang sudah jatuh tidak diperlukan usaha. Perlu itu. Maka antidot untuk pulung yang masih samar itu, dan terkait juga dengan penentuan cawapres, yang masih samar.

Maka kaitan antara pulung Jokowi dan kenyataan politik, sudah sangat sinkron ketika Jokowi telah mantap dengan pilihannya. Yang senyatanya sampai detik tadi malam tetap pas. Tetap bersesuaian dengan energinya.

Maka hal yang terbaik yang dilakukan Jokowi adalah kembali membaca tanda-tanda alam yang sejak Januari 2018 telah terwujud. Tentang elektabilitas dan jaringan.

Kehadiran secara fisik utusan alam sunnatullah yang santun, kuat, yang sejak usia 4 tahun tinggal di surau, bisa menjadi bemper bagi Jokowi sekarang dan di 2019 and beyond adalah pulung pendamping Jokowi yang sesungguhnya. Itulah hasil Batu Tulis semalam. Demikian Ki Sabdopanditoratu.