Turis Prancis Diperkosa di Labuan Bajo, Faktor Keamanan Wisata yang Diabaikan

0
Kenyamanan Spiritual Wisatawan di Tirta Empul, Gianyar Bali

Pemerkosaan terhadap turis perempuan asal Prancis, NDL, yang dilakukan oleh A, pemandu wisata di Labuan Bajo. Ini bukti faktor keamanan dan kenyamanan wisatawan diabaikan di salah satu destinasi wisata menarik di dunia itu.

Pembinaan sektor pariwisata di Indonesia lebih banyak hanya menyentuh faktor fisik, keselamatan, fasilitas akomodasi dan infrastruktur, namun mengabaikan unsur keamanan spiritual. Padahal salah satu hal yang bisa membuat kenyamanan bagi wisatawan adalah unsur kenyamanan di dalam jiwa sebagai bagian dari pengalaman berwisata.

Faktor paling penting sektor pariwisata adalah perilaku masyarakat. Keamanan adalah salah satu faktor penentu suatu wilayah layak dikunjungi oleh wisatawan. Keamanan yang dimaksudkan bukan hanya secara fisik namun juga secara mental dan spiritual.

Perubahan sikap masyarakat juga akan menentukan pergeseran trend kunjungan turis di Indonesia. Jogjakarta yang pada dekade 70 sampai 90-an awal sangat populer sebagai destinasi wisatawan mancanegara.

Perkampungan turis asing Sosrowijayan untuk kalangan turis kelas bawah sangat terkenal di kalangan wisatawan mancanegara. Untuk kalangan menengah wilayah Prawirotaman dan Jalan Parangtritis dan Dagen menjadi pusat wisata yang hidup dan menarik untuk dikunjungi baik oleh wisatawan asing dan domestik.

Karena perubahan perilaku masyarakat, salah satunya adalah fungsi kemenarikan Jalan Malioboro. Pada masa tahun 80-90-an awal, Jalan Malioboro menjadi tempat yang sangat nyaman untuk berbelanja pada pagi sampai sore hari.

Menjelang malam para pedagang cinderamata non makanan menyingkirkan dagangan diganti dengan aktivitas perdagangan kuliner lesehan khas Jogjakarta. Jalanan lebar dan tidak mengganggu lalu lalang wisatawan, pun hiburan para pengamen kelas kuliahan sangat menarik untuk dinikmati.

Wisatawan berbagai negara kelas atas pun mengunjungi Jogjakarta. Fasilitas akomodasi di sekitar Malioboro pada saat itu bisa memenuhi kebutuhan mereka, dengan atraksi kemenarikan wisata Jalan Malioboro, Kraton Jogjakarta, Prambanan, Boroudur, Parangtritis dan Baron, dan masyarakat yang ramah dan teratur.

Cinderamata khas Jogjakarta seperti lukisan batik, batik, celana khas batik, dan sentra perak Kota Gede mencapai puncaknya. Wisata Jogjakarta hidup dan marak yang pada saat bersamaan menarik minat wisatawan lokal.

Semarak wisata itu meredup di Sosrowijayan dan Prawirotaman. Hal sama terjadi di Jakarta dengan meredupnya Jalan Jaksa. Penyebabnya adalah salah satunya perilaku pelaku wisata terutama pemandu wisata. Khusus di Jogjakarta sistem komisi di tempat belanja suvenir menghancurkan seluruh bangunan sistem kejujuran wisata, merusak kenyamanan. Wisatawan menjadi sapi perah dan obyek penipuan pelaku wisata.

Pergeseran perilaku masyarakat di Jogjakarta yang lebih kompleks lagi telah membuat wisatawan kelas atas menghindari atau mengurangi jumlah hari kunjugan wisatawan yang rata-rata hanya 1-2 hari. Untuk wisatawan kelas bawah yang long stay di Jogjakarta hampir tidak ada lagi. Desa wisata yang marak pada tahun 2010-an gagal menarik minat wisatawan.

Penyebabnya adalah desa-desa wisata itu bukan desa wisata dengan budaya alami, namun created culture yang plastis. Ini berbeda sekali dengan misalnya Ubud yang memang kebudayaan dan peradaban menyatu dengan napas kehidupan masyarakat secara alami.

Perubahan ini tidak terlalu berlaku di Bali dengan kampung turis di Legian dan Kuta. Pengaturan Pantai Kuta yang tetap aman dan nyaman untuk bersantai menjadi kunci keberlangsungan Legian dan Kuta. Kehidupan wisata kuliner, akomodasi, cinderamata, hiburan berjalan beriringan. Wisatawan merasa nyaman. Pelaku wisata sadar akan pentingnya menjaga kenyamanan spiritual yang terwujud dalam laku budaya.

Labuan Bajo yang eksotis dengan keindahan alam yang luar biasa – dan peradaban dan laku masyarakat yang mengingatkan kita pada masa Jogjakarta, Jalan Jaksa, Candidasa, dan wilayah menarik lainnya pada tahun 80-90-an awal – kini tengah dikoyak oleh perilaku buruk masyarakat.

Pemandu wisata yang menjadi salah satu ujung tombak keberhasilan pariwisata justru menjadi titik paling tidak senonoh yang merusak kenyamanan dan keamanan.

Kriminalitas seperti pemerkosaan atas turis Prancis oleh pemandu wisata tidak bisa dibiarkan, jika Labuan Bajo ingin bertahan sebagai destinasi wisata. Pemerintah wajib mengambil tindakan tegas dan melakukan pembenahan menyangkut masalah keamanan dan kenyamanan spiritual wisatawan. Dengan demikian tingkat kepuasan wisatawan tertinggi yakni experience tercapai.