Tragedi New Zealand , Kebingungan Ideologi, dan Post Truth

0

Tragedi New Zealand yang menewaskan 49 orang sungguh mengenaskan. Pembunuhan itu menjadi salah satu kekejaman, yang hanya bisa dibandingkan dengan kekejaman ISIS terhadap kaum Yazidi, Kristen Koptik di Mesir. Publik terbelah. Namun satu kesepakatan. Aksi terorisme, yang semakin menjadi bagian dari kehidupan.

Aksi terorisme di zaman Internet, international network, bukan hanya soal ideologi. Terorisme bukan hanya soal identitas. Terorisme telah menjadi ISME itu sendiri. Manusia menjadi begitu reaktif, menjadi cepat bereaksi, menjadi impulsif, bukan oleh fakta semata, namun oleh peristiwa.

Peristiwa yang kadang tanpa didasari oleh nilai, sehingga peristiwa itu hanya menjadi sebuah peristiwa an sich. Hingga peristiwa (event) itu mendapatkan legitimasi, entah benar atau salah, dengan atau tanpa nilai (value) yang menjadi ukuran.

Alhasil, hanya interpretasi, cuma sudut pandang, random, arbritari, yang menghasilkan apa yang disebut fakta atau kebenaran.

Pembunuhan di New Zealand, dengan ukuran nilai kemanusiaan, agama, atau pun budaya, apapun bentuknya, tetap kekejaman yang tak bisa diterima (dalam koridor nilai-nilai). Namun, yang kemudian menjadi persoalan serius adalah ketika peristiwa itu mulai dimaknai oleh idelogi-ideologi yang berbeda, dan dengan tujuan tertentu yang berbeda.

Pembunuh (di medsos menamakan diri Brenton Tarrant) dan yang dibunuh (49 orang) dalam satu peristiwa mulai dimaknai. Pamaknaan ini, celakanya, berdasarkan ideologi pembunuh – dan yang dibunuh. Jelas perspektifnya menjadi bias dan liar.

Brenton Tarrant menganut buku Ranaud Camus dalam Le Grand Remplacement (2012), yang didasari oleh buku The Turner Diaries (1978) dan The Passing of a Great Race, yang keduanya memaparkan kebencian dan menebar ketakutan Ras Putih kehilangan supremasi – oleh bayi-bayi berwarna hitam atau coklat.

Donald Trump adalah Pemimpin White Supremacy paling sukses. Dia berhasil membangun kebencian lewat strategi kebencian, pengingkaran, hoaks, fitnah, yang secara fenomemal melahirkan ideologi baru: Post Truth, yang tak terelakkan.

Para pembantu Trump, Jeff Sessions, Steve Bannon, Steve King, Tucker Carlson dari Fox News (seperti host acara TVOne Karni Ilyas), tukang konspirasi pun terpilih seperti Mark Meadows. Mereka termasuk Trump adalah para penganut paham rasis yang selalu menebarkan ketakutan. Ketakutan sedang dibangun, untuk kepentingan ideologi rasis.

Bahwa di Amerika sedang terjadi invasi oleh kaum selain Putih, yang mengancam kehidupan kaum Putih, sehingga harus membangun Supremasi Putih. Suatu paham ideologi ekstrim kanan yang sedang menggejala di seluruh dunia.

Mereka menamakan diri sebagai gerakan populis, nasionalis, bahkan fasis dan rasis. Semua dimulai dari Trump 2016. Brexit, Pemilu Italia, Austria, Brazil, dan bahkan Filipina adalah contoh sukses gerakan populis.

Di Indonesia, dalam skala kecil, Pilkada DKI 2017 adalah contoh sempurna kebencian etnis, agama, suku, dicampur dengan nilai-nilai primordial berhasil menang. Bahkan fitnah, hoaks dan ancaman kebencian – bahkan dengan memelintir nilai agama – seperti jika memilih Ahok, kalau mati tidak disholatkan, adalah alat efektif yang menghalalkan segala cara untuk menang.

Kembali ke tragedi New Zealand. Pembunuh itu melakukan pembenaran terhadap tindakannya. Ideologinya berdasarkan ‘keadilan media massa’. Bahwa dia tahu segala peristiwa, event di Bumi, karena internet.

Pembunuhan oleh ekstrimis Uzbek di Swedia April 2017 atas bocah 11 tahun Ebba Akerlund menjadi dasar balas dendam Brenton Tarrant. Yang Jeannette Akerlund, ibu si bocah justru mengecam tindakan Brenton. Bagi Jeannette, tindakan Brenton bertentangan dengan ‘nilai’. Sementara Brenton memiliki nilai ‘balas dendam’ atas sebuah peristiwa.

Dalam ranah yang besar, sejarah panjang kisah perjalanan ideologi: Islam dan non Islam, atau Islam dan Kristen, selalu mewarnai pemaknaan, pandangan, sikap, yang menguatkan ideologi masing-masing. Jika terjadi ‘konflik, pembunuhan, bom, terorisme’ maka yang beredar paling kuat adalah: siapa yang membunuh dan siapa yang dibunuh. Identitas (bahkan hanya sekedar persepsi, dan ini sebagai ciri Post Truth) dianggap sebagai legitimasi dan ilegitimasi atas suatu peristiwa.

Dalam kasus Brenton Tarrant, dia dianggap sebagai ‘kelompok non Islam / Kristen, kulit putih’. Sementara para korban yang dibunuh ‘dipersepsikan sebagai Muslim’. Walau tidak ada yang bisa memastikan ke-Kristen-an Brenton. Dan, satu orang di jalanan yang dibunuh Brenton pun diklasifikasikan sebagai Muslim, karena ‘peristiwa besar’ pembunuhan itu membangun opini, persepsi sendiri. Liar dan bias.

Ingatan dan bangunan ideoloogi, dan konflik ideologi, antara Islam dan Kristen, yang merupakan ingatan sejarah – yang sesungguhnya tidak semata konflik agama – Perang Salib, muncul ke permukaan. Salah satu orang yang mengkapitalisasi konflik itu adalah akun Twitter Mustofa Nahrawardaya. Provokasi yang berlebihan – yang menjadi bukti betapa persepsi mengalahkan fakta. Post Truth.

Kenapa demikian? Karena dalam zaman Post Truth, post truth sudah menjadi suatu ideologi independen, dengan segala manipulasinya. Post Truth menjadi bagian dari, dan alat dari, perebutan supremasi, perebutan pengaruh, dan paling dangkal, perebutan kekuasaan. Trump, Brexit, Bolsonaro, Italia, Austria, dengan segala bumbu retorika mereka, dan Pilkada DKI Jakarta 2017, telah terbukti efektif.

Maka pembunuhan seperti di New Zealand pun dimaknai berbeda, diberi label tidak sama. Bahkan nilai kebenaran bahwa membunuh adalah salah, bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan agama, seperti terlupakan. Pembunuhan itu menjadi – hanya isu soal ideologi. Ini sungguh merusak peradaban kemanusiaan, sejarah peradaban manusia.

Lalu ideologi apa yang bisa mengatasi semua ini? Kemanusiaan. Humanity. Ya kemanusiaan yang dalam Post Truth tanpa nilai di kemudian hari akan menjadi soko guru kekuatan Post Truth, setelah mengalami badai dan pembantaian perang ideologi, perang konsep besar pergeseran peradaban. (Penulis: Ninoy N Karundeng).