Strategi Politik Prabowo-Sandi Tiru Jair Bolsonaro dan Donald Trump

0

Orang awam tak bisa membayangkan tentang strategi politik Prabowo-Sandi. Yang tampak di permukaan seperti terlihat konyol. Sandi minum air bekas kakus. Dia lari pagi dengan celana yang menonjolkan sesuatu. Dia memegang tempe setebal kartu ATM. Dia menjadikan petai sebagai rambut gimbalnya. Dan, yang terakhir  dia melangkahi makam KH Bisri Syansuri.

Prabowo lain lagi. Dia berpidato mengatai orang Boyolali. Dia sebelumnya menyuruh orang untuk memanfaatkan kesusahan orang lain. Lalu dia ingin menggunakan kebohongan sebagai alat merusak. Seluruh upaya diarahkan pada upaya merusak nama musuh politik.

Rakyat dibuat takut. Tanpa batas. Tanpa rem. Harga mahal. Negara bubar. Impor barang. Prabowo menggambarkan ketakutan dan kekhawatiran. Seolah negara terancam. Rakyat dibuat bingung.

Padahal senyatanya Sandi dan Prabowo tidak menawarkan solusi apa pun atas omongan negatifnya. Yang dilakukan oleh Prabowo dengan ejekan Tampang Boyolali, atau Sandi yang melangkahi makam KH Bisri Syansuri, adalah kesengajaan.

Sama halnya dengan kasus Ratna Sarumpaet. Itu satu paket. Satu tarikan napas strategi. Operasi Ratna Sarumpaet yang akan dijadikan sumber berita penuh kebohongan dari luar negeri gagal.  Terlepas kegagalan itu disinyalir karena operasi pembusukan dari dalam Prabowo sendiri.

Sukses menempatkan Rizieq sebagai corong Prabowo-Sandi, ternyata membuat nafsu kampanye negatif, nyinyir, makin menjadi-jadi. Ratna hendak dijadikan juru bicara tentang HAM, dengan bukti muka bonyok dirinya. Gagal.

Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Sandi dan Prabowo adalah strategi. Meski terlihat konyol, itu adalah strategi jitu. Sandi bertindak konyol. Prabowo menakuti rakyat dengan retorika dibalut nasionalisme. Rakyat hanya menangkap kulitnya. Kesan negatif tersemat pada Jokowi dan pemerintahannya.

Kubu Jokowi pun tak berkutik. Memberikan tanggapan dan penjelasan akan menguras energi. Tidak memberikan tanggapan juga akan merusak elektabilitas Jokowi-Ma’ruf. Maju kena mundur pun dirugikan.

Kemenangan Trump di Amerika, Jair Bolsonaro di Brazil, Brexit di Inggris, Sebastian Kurz di Austria, Five Star Movement di Italia, adalah kiblat kampanye Prabowo-Sandi. Mereka membalut nasionalisme tanpa isi dengan hoax dan fitnah.

Kubu Jokowi harus mampu mengikis pengaruh negatif kampanye model Prabowo-Sandi dengan strategi yang tepat. Pengalaman menghancurkan kampanye Prabowo-Hatta di Pilpres 2014 menjadi salah satu referensi. Kontestasi hampir sama. Yang membedakan adalah Jokowi kini menjadi petahana. Prabowo tetap penantang abadi dan calon tetap, dan tetap calon presiden. Salam bahagia ala saya. (Penulis: Ninoy N Karundeng).