Strategi Kampanye Konspiratif Pilkada DKI 2017 Berlanjut di Pilpres 2019

0
Pilpres 2019 Ulangan Pilpres 2014

Strategi proxy, kampanye konspiratif cerdas Prabowo, Anies, PKS, FPI dan HTI begitu fenomenal. Konsistensi, determinasi, organisasi, dan militansi yang mereka bangun nyaris sempurna. Pilkada DKI 2017 bisa menjadi model sempurna setelah keberhasilan di Sumut, Jabar dan Jateng. Bahkan Pilpres 2019 bisa menjadi kemenangan mereka berikutnya.

Tantangan Indonesia

Kapitalisme global. Indonesia menjadi ajang perang proxy sebagai akibat dari kapitalisme global. Indonesia kaya sumber daya alam, selain pasar besar.

Tantangan lainnya adalah faktor agama. Kelompok radikal seperti PKS, dan trans-nasional HTI, kelompok ISIS, penganut khilafah, ajaran teroris Ikhwanul Muslimin, bahkan gerakan radikalisme segregatif dan penuh kebencian seperti FPI, 212 menjadi tantangan bagi NKRI.

Upaya mereka cenderung merusak seluruh sendi-sendi bangsa karena menggunakan isu agama, ras,antargolongan, suku, dan intoleransi.

PKS, HTI, dan Proxy Gerakan Trans-nasional Menempel Kekuasaan

PKS, seperti HTI, ISIS, dan FPI sejatinya adalah organ politik miskin. Berbeda dengan Muhammadiyah atau NU sekalipun. Yag membuat mereka besar adalah kemampuan mereka memobilisasi dana masyarakat. Muncul ACT dan Dompet Dhuafa yang menyokong kegiatan PKS dan afiliasinya. Yang paling banyak dijual adalah isu Palestina.

PKS pun dengan cerdas menempel kekuasaan. Dalam Pilkada, Pileg, dan Pilpres, PKS tidak pernah mengeluarkan uang. Kok bisa? Ya. PKS menjual janji kemenangan, militansi, jaringan, dan soliditas.

PKS menjadi partai politik yang membawa arabisasi di Indonesia. PKS membawa Indonesia berbau Arab, dan berusaha melucuti kebudayaan dan peradaban Indonesia. PKS berorientasi membangun peradaban Islam trans-nasional, seperti halya HTI, dan bukan membangun Indonesia.

Dalam usahanya mereka selalu menempel ke kelompok yang menguasai uang, alias kekuasaan. Mereka masuk ke seluruh lembaga kekuasaan di Indonesia.

Strategi Merusak Logika dan Tatanan Umum

PKS, dan juga Anies, Fadli Zon, Fahri Hamzah, dan bahkan Rizieq FPI menggunakan strategi merusak logika dan tatanan umum. Strategi ini sengaja dijalankan untuk menarik perhatian dan menanamkan pesan dan kesan di dalam otak dan ingatan publik.

Mereka paham model kampanye konvensional, umum, normatif, standard, maka mereka tidak akan mendapatkan exposure maksimal. Untuk itu secara sengaja, sadar, terukur, mereka menggunakan isu-isu strategis untuk menyerang.

Serangan akan dilakukan kepada siapa pun, event apapun yang memiliki daya rusak kepada musuh besar. Serangan itu menjadi dua bagian, serangan negatif pasif dan serangan aktif-progresif. Model paling sederhana adalah dengan mengeluarkan pernyataan, selain perbuatan merusak logika.

Bagi orang waras, menutup jalan umum di Tanah Abang adalah perbuatan buruk, melawan aturan perundangan. Namun, dalam konsep strategi kampanye, tindakan itu cerdas dan tepat. Menarik perhatian. Tidak peduli dengan pihak yang dirugikan.

Strategi Janji ke Akar Rumput

Janji keselamatan dan kesejahteraan selalu dilontarkan ke akar rumput, grass roots. PKS, HTI, dan gerakan ideologi trans-nasional, selalu mengangkat isu strategis. Agama. Surga. Ditambah dengan neraka.

Mereka berhasil melakukan kampanye dengan target jelas. Kampanye selalu (1) bisa dirasakan masyarakat, (2) inspiratif, (3) membela rakyat kecil, (4) membela keadilan, (5) sustainable (berkelanjutan), (7) target terukur dan spesifik.

Karenanya, PKS dan gerakan mereka tidak pernah (1) membagi nasi bungkus,(2) pengobatan massal di jalanan, (3) pawai dan deklarasi. Kenapa? Karena mereka anggap tidak efektif.

Gabungan Kampanye Medsos dan Akar Rumput

PKS adalah parpol pertama yang melek digital. PKS Piyungan dan Cyber Army menjadi awal titik perang cyber. PKS membangun opini di media sosial. Lalu menjadikannya bahan kampanye di akar rumput. Media sosial menjadi alat efektif kampanye model PKS.

Strategi mereka berbuah manis di Pilkada DKI Jakarta yang penuh intrik, konspiratif dan cerdas. Proxy bermain rapi. Jusuf Kalla, Amien Rais, Zulkifly Hasan, SBY, Aburizal Bakrie, Prabowo, Anies, Sandi, Rizieq Shihab, semuanya bermain rapi. Di belakang mereka adalah pemilik uang, duit, fulus, dan kekuasaan.

Bahaya 2019 bagi NKRI

Melihat fenomena seperti itu, bukan mengajak optimisme kita luntur, jika dicermati dengan benar, Pilpres 2019 menjadi titik krusial. Pilihannya adalah apakah Indonesia akan diserahkan kepada kelompok seperti Anies Baswedan di DKI Jakarta?

Apakah Anda akan menyerahkan Indonesia menjadi seperti Suriah, Syria, atau Yaman?  Semuanya tergantung Anda, saya, kita. NKRI setelah 2019 #NKRISetelah2019 merupakan titik krusial keselamatan Anda, dan NKRI. Salam bahagia ala saya.