Strategi Isu Kampanye Cerdas Prabowo, Anies, dan Populis Dunia

0
Breakthrough komunikasi politik Istana lewat Ali Mochtar Ngabalin

 

Sampai detik ini populis tengah merayakan berbagai kemenangan politik secara kratis di berbagai belahan dunia. Dari kaum populis itu bisa dibagi menjadi dua bagian. Kelompok populis pembela rakyat dan populis memusuhi kemanusiaan.

Kelompok pertama populis diawali oleh Hamas, Narendra Modi, Rodrigo Duterte, lalu Jokowi, Justin Trudeau, Emmanuel Macron, Moon Jae-in, dan terakhir Mahatir Muhammad.

Kelompok kedua diwakili oleh populis seperti Donald Trump, Boris Johnson dan Nigel Farage di Inggris, Five Star Movement Virginia Elena Raggi di Ibukota Roma dan dilanjutkan oleh Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte, dan Sebastian Kurz di Austria Anies Baswedan di Jakarta.

Kedua kelompok populis ini sama-sama mengatasnamakan dan mengusung kepentingan nasional, kepentingan rakyat, kepentingan bangsa dan negara. Namun, yang membedakannya adalah kelompok kedua menggunakan politik identitas, anti orang asing, anti imigran, dan menggunakan pengelabuhan atas nama rakyat untuk mencapai tujuannya.

Rakyat dibodohi dengan informasi menyesatkan. Publik dikecoh dengan data dan informasi palsu dengan strategi yang sangat canggih. Penguasaan media dan media sosial (seperti di Italia dengan pakar media sebagai penggerak utama Gianroberto Cassalegio, web strategist dan blogger hebat Beppe Grillo).

Penguasaan media lebih lanjut tergambar di kemenangan Donald Trump melibatkan Cambridge Analytica, dan penipuan informasi di Brexit Inggris. Sementara Sebastian Kurz mirip tipu daya kampanye politik identitas yang dilakukan oleh Anies Baswedan, Gerindra, FPI, Jusuf Kalla, SBY, PAN yang berada di belakang Anies-Sandi.

Kini, Jeremy Corbyn di Inggris tengah merancang cara kampanye yang cerdas. Di tengah ketakutan rakyat Inggris karena semakin tahu tentang kebohongan kampanye anti Uni Eropa Brexit, dia mengambil posisi penyelamatan.

Corbyn menjanjikan posisi Inggris yang aman terkait pekerjaan dan hak tinggal warga Inggris dan Uni Eropa. Suatu oase janji manis yang bisa menarik para pemilih di Inggris untuk mendukung partai Buruh. Kemungkinan pemilu digelar awal pada Oktober, meskipun sebenarnya paling akhir pemilu di Inggris bisa dilakukan pada 2022. Namun, tekanan massa terhadap May bisa membuat pemilu dimajukan pada Oktober 2018 ini.

Apa yang dilakukan Corbyn, dan semua tokoh populis dan bahkan Prabowo dan Anies seperti membuang isu Mark Up LRT di Palembang misalnya adalah bagian dari strategi kampanye yang sangat terencana.

Bahwa sesungguhnya sejak kekalahan Prabowo di Pilpres 2014, kelompok ini berhasil mempertahankan status quo dukungan. Mereka menolak rekonsiliasi politik dengan cara selalu memusuhi dan menyalahkan apapun yang dikerjakan oleh pemerintahan Jokowi.

Ini strategi. Ini taktik cerdas. Ini terencana. Pokok pikiran strategi mereka adalah: tidak ada yang patut diapresiasi dan dihargai kinerja baik Jokowi. Penanaman pemahaman di dalam otak alam bawah sadar pemilih ini berhasil dilakukan dengan sangat baik oleh kubu Prabowo.

Kondisi ini diperparah lagi dengan tiga tahun kegagalan pengelolaan komunikasi politik Istana. Indikasi kegagalan itu adalah hasil kinerja hebat Jokowi tidak tersebar luas dan media mainstream dan media sosial lebih banyak didominasi oleh berita buruk, hoax, berita palsu, dan sensasi.

Istana menempatkan diri sebagai penahan serangan Fadli Zon, Prabowo, Fahri Hamzah, Amien Rais, dan bahkan Jusuf Kalla dan Rizieq FPI.

Yang lebih merusak imej pemerintahan Jokowi adalah strategi komunikasi politik di lingkungan Istana yang menikmati strategi politik muntahan oposisi. Artinya, dengan adanya polarisasi dukungan, tanpa kampanye Jokowi diharapkan tetap mendapatkan dukungan 52% suara.

Ahli strategi komunikasi Istana (jika ada dan dibilang ada namun tak nyata) seperti ini meninabobokkan Jokowi sampai akhirnya Jokowi mengambil sikap cerdas mengganti KSP dengan Moeldoko. Dia akhirnya menyadari dan mengadakan 3 kali pertemuan lanjutan keprihatinan Jokowi akan kedodorannya strategi komunikasi politik Istana. Gerak ini lumayan mengubah konstelasi komunikasi politik.

Namun sikap menunggu untuk bergerak dan menunggu oposisi oleh pendukung dan Istana (Jokowi), sementara mereka menyerang dengan strategi kaum populis, dengan politik identitas, dengan penguasaan media, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, ditambah dengan tumbuhnya kaum penganut khilafah, Ikhwanul Muslimin, kampanye penuh isu SARA dan kebencian, akan membuat kubu Jokowi kelabakan.

Salah satu bukti kecerdasan mereka adalah memunculkan tagar #2019GantiPresiden yang sampai detik ini belum ditemukan antidot penawarnya oleh kubu Jokowi selain #2019TetapJokowi atau #2019OgahGantiPresiden yang tetap gagal merontokkan pamor tagar tersebut.

Maka,sesungguhnya apa yang disampaikan oleh Prabowo terkait LRT yang dikatakan bersumber dari Anies Baswedan oleh Prabowo adalah suatu strategi komunikasi dan propaganda politik kalangan populis yang sangat cerdas. Prabowo dan Anies tidak memerlukan klarifikasi, tidak perlu fact-checking, tidak butuh de-bunked.

Mereka secara sengaja membuat pernyataan ngawur. Tujuannya adalah pesan sampai ke masyarakat. Selain itu adalah mereka menebar ketakutan, kekhawatiran, dan berita berbau fitnah.

Yang lebih hebat lagi mereka juga menggunakan isu yang sama terkait kebangsaan, ekonomi, nasionalisme, NKRI namun hanya sebagai kedok strategi mengelabuhi publik dan pendukung NKRI yang sebenarnya.

Masih sangat banyak sekali isu-isu yang bisa disampaikan untuk menyerang pemerintah. Jika ingin memenangkan perang opini, maka tidak ada jalan lain adalah mengambil langkah sama seperti yang dilakukan oleh Prabowo namun dengan opini mayoritas positif, dengan kemasan profesional.

Benar yang disampaikan oleh Jokowi baik di Jakarta, Bogor dan Jakarta dalam tiga kali kesempatan, banjiri media massa dan media sosial dengan konten positif. But, when, how, and who does it?

Faktanya upaya mereka berhasil. Pemerintahan Jokowi berada dalam titik defensif terkait sebaran dan diseminasi informasi.

Drone emprit bisa dengan mudah mengenali dominasi oposisi ini, atau secara kasat mata di masyarakat tergambar kekhawatiran seperti yang dikampanyekan oleh oposisi terkait pekerjaan, hutang, tenaga kerja asing, kehidupan yang sebagiannya bertolak belakang dengan kenyataan pencapaian kinerja Presiden Jokowi.

Suatu PR yang harus dicarikan solusi strategisnya oleh Jokowi tanpa menunggu dan menunggu atau menyatakan: sudah ada, sudah dikerjakan, sedang dikerjakan, namun hasilnya sebaliknya. Salah satu contoh penulis menyampaikan kepada seorang staf Menteri Pariwisata di Banyuwangi beberapa hari lalu, bahwa penulis mengusulkan kampanye WC bersih dengan Gubernur Ganjar Pranowo pada 2015 lalu. Dengan enaknya dijawab oleh staf itu dengan kalimat pendek: sudah ada kampanye itu. Dengan pendek penulis menyahut, kok banyak WC di rest area dan obyek wisata kotor?

Jadi, Anies, Prabowo, bahkan Amien Rais dan PKS tengah memainkan politik identitas dengan baju populis, nasionalis palsu, yang menjadi trend di dunia, yang sangat cerdas dan mengelabuhi rakyat seperti yang dilakukan oleh kelompok populis kedua di atas.