Soal Cawapres, Jokowi dan Prabowo di Persimpangan Dikotomi Militer dan Sipil

0

Pilpres 2019 di depan mata. Penentuan cawapres Jokowi dan Prabowo sangat penting. SBY sebenarnya masuk ke dalam perangkap strategi. Namun, SBY bisa merusak skenario awal Jokowi versus Prabowo. Prabowo AHY bisa menang.

Jokowi dan Prabowo tengah mengalami tekanan psikologis. Pilkada DKI 2017 menjadi referensi kuat bagi mereka. Keterlibatan kekuatan politik dan ekonomi Jusuf Kalla dan SBY berhasil membungkam Ahok. Hebat.

Kekuatan itu ditambah dengan sentimen SARA yang berhasil gemilang. Prabowo lebih diuntungkan. (Penyebabnya adalah kecerdasan kubu Prabowo mengelola isu kampanye konstan. Polarisasi pendukung tetap terjaga.)

Jokowi mengalami set back dan terancam dijatuhkan. Informasi bohong, berita palsu, hoax dibangun sempurna oleh lawan politik. Hal ini ditambah lagi dengan amburadulnya komunikasi politik Istana.

Hanya sikap maverick Jokowi-lah yang membuatnya selamat. Pun dukungan militer saat itu (dengan warna Gatot Nurmantyo yang masih abu-abu) membuat Jokowi tetap bertahan. Jokowi berani maju menemui nstran 212 di lapangan dengan berjalan kaki di tengah 300 ribu orang di Monas.

Kegalauan Prabowo, Pasangan Militer-Militer

Prabowo terpojok. Sodoran Agus Harimurti Yudhoyono sulit ditolak. Alasan pokoknya adalah SBY dan kroninya siap dengan logistik yang kuat.

Padahal, Prabowo sebagai kepanjangan tangan dari kalangan Islam radikal, 212, yang didukungnya limbung ketika disuruh menggandeng ulama. Ijtimak ulama dikeluarkan entah mewakili ulama mana.

Ustadz Abdul Somad, Rizieq, Salim Segaf, masuk ke dalam bursa cawapres Prabowo. Tekanan PKS yang mengusung sentimen keagamaan sebagai alat politik membuat pusing Prabowo.

Padahal, Prabowo paham bahwa dengan menggandeng ulama sebagai cawapres, maka kemungkinan menang belum tentu besar. Kenapa? Cekak dan minim logistik akan menghancurkannya. Pasangan Prabowo dan militer tergambar nyata.

Prabowo pun tambah pusing karena tidak tahu cawapres Jokowi sampai kurang sepekan jelang 10 Agustus 2019.

Kegalauan Jokowi, Sipil-Militer

Di sisi lain, Jokowi pun mengalami hal yang sama. Manuver SBY yang kuat logistiknya mengusung Prabowo dan AHY membuat perimbangan kekuatan menjadi makin menggila. Dikotomi militer sipil menjadi penentu pilihan rakyat.

Faktor kekuatan politik di balik peran militer adalah kenyataan di hampir seluruh dunia. Maka ketika Prabowo-AHY bersatu, seluruh bangunan politik nyata tergambar. Prabowo-AHY adalah wakil militer.

Hampir sama dengan Prabowo, akibat politik identitas Islam radikal yang dibangun oleh Gerindra, PKS, PAN, Demokrat di Pilkada DKI 2017, dengan dukungan HTI, FPI dan unsur khilafah, Jokowi pun merenda dengan kekuatan Islam.

Namun, fakta nyatanya adalah unsur kekuatan militer tetap menjadi faktor penentu. Militer adalah organisasi paling solid dan rapi. Kejadian Pilkada DKI, Pilkada Jabar, Pilkada Sumut membuktikan kekuatan pengaruh militer. Calon militer tetap menarik. Ini berlaku di Pilpres 2019 pula. Jokowi sangat paham akan hal itu.

Maka jika AHY fixed dengan Prabowo, Jokowi pun akan bertindak cerdas. Untuk mengimbangi, Jokowi bisa menunjuk sosok militer sebagai cawapres pendampingnya. Jokowi-Militer.

Sebagai Panglima Tertinggi TNI, Jokowi paham kultur militer. Pada dasarnya seorang militer tetap militer meskipun sudah pensiun. Tata cara militer tetap berlaku. Contoh, karena senioritas Prabowo wajib hormat kepada Luhut Binsar Pandjaitan.

Jadi untuk menyeimbangkan posisi Prabowo-AHY, Jokowi bisa jadi menggandeng kalangan militer sebagai cawapresnya. Demikian the Operators.