Selain Abu Bakar Ba’asyir, Siapa Bantu Teroris dari Indonesia di Syria?

0
Pentolan Teroris Abu Bakar Ba'asyir di Balik Jeruji Penjara

Eskatologi (Eschatology) tentang mimpi bangkitnya kekhalifahan Islam menjadi daya tarik para teroris di Indonesia. Sejak awal bangkitnya Arab Springs, Syria Raya alias Levant yang meliputi Syria, Yordania, Lebanon, Palestina, dan Israel dipercaya sebagai pintu lahirnya Khalifah. Para teroris Indonesia juga memercayainya.

Alasan kedua banjir teroris ke Syria adalah menjadi teroris di Syria adalah jalan kemenangan jihad. Para teroris terobsesi oleh nubuat  Imam Mahdi. Simbol mereka bendera hitam.

Simbol bendera hitam ini diklaim berasal dari hadits. Semua ini termaktub dalam buku Huru-Hara Akhir Zaman, yang ditulis oleh Amin Muhammad Jamaluddin.  Itulah sebabnya semua faksi radikal Islam dan teroris menggunakan simbol bendera hitam baik itu Al Qaeda, Taliban, ISIS, dan semua gerakan lainnya di seluruh dunia.

Penyebab berikutnya adalah teroris memercayai pentolan teroris Abu Bakar Ba’asyir. Teroris itu juga termakan oleh keyakinannya tentang Al Mahkamah Qubra.  Perang besar akhir zaman akan bermula di Syria. Jama’ah Islamiyah, pimpinan teroris Abu Bakar Ba’asyir, jauh hari pada 2005 telah membuat prediksi kedatangan Imam Mahdi hanya berdasarkan gerhana. Ternyata Imam Mahdi versi teroris tidak juga datang, namun mereka tetap tidak putus asa.

Alasan keempat, media Indonesia menggambarkan penderitaan kaum Sunni di Syria. Bahkan media di Indonesia menggambarkan penderitaan rakyat Syria sebagai akibat kekejaman pemerintahan Presiden Assad.

Padahal penderitaan itu disebabkan oleh pemberontak dan teroris seperti Al Qaeda, Jabat Al Nusra, ISIS, White Helmet, dan puluhan pemberontak lain. Sikap media ini sejalan dengan pandangan para teroris di Indonesia. Publik pun salah memahami konflik di Syria.

Kelima, akses untuk menuju Syria sangat mudah dibandingkan area konflik lainnya seperti Afghanistan. Atau bahkan target Amerika dan Eropa. Teroris Indonesia sebenarnya sangat tertarik menghancurkan bukan hanya Indonesia, namun juga belahan Bumi lain. Namun akses masuk ke berbagai negara sulit. Akses paling  mudah masuk ke konflik Syria melalui negara pendukung teroris ISIS, Turki.

Catatan panjang sepak terjang teroris di Syria dimulai jauh sebelum Arab Springs merebak. Buku terjemahan “Strategi Dua Lengan” yang terbit tahun 2013 menarik perhatian para teroris, ekstrimis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Sejak buku Strategi Dua Lengan beredar, maka organisasi teroris Jamaah Islamiyah melalui Bambang Sukirno menggalang dana untuk Syria sejak 2013. Selain dia, Abu Rusydan, Amir Machmud, Muhammad Al Kaththath, dan Abu Fida menggalang dana dengan cara takbir akbar seperti di Klaten, Jakarta, Bandar Lampung dan kota-kita lain atas nama konflik Syria. Selain itu mereka juga menarik dana secara online.

Organ  mereka memakai istilah Misi Kemanusiaan Syria  sejak 2012 dan 2013. Organisasi HASI (Hilal Ahmar Society Indonesia) yang terkait  Jamaah Islamiyah (JI) Indonesia menyalurkan bantuan ke RS Salma di Latakia. HASI mengirimkan dokter dan perawat. Tim ini juga menyalurkan makanan dan pakaian di daerah konflik di Jabal al-Akrad dan Idlib, Aleppo.

Bersama dengan para teroris mereka menyediakan bantuan untuk menarik simpati. Ketika pada 2012 al Nusra dinyatakan sebagai organisasi teroris,maka protes teroris Indonesia merebak di Binniys, Deir Ezzur.

Banyak organisasi teroris termasuk Jamaah Anshorut Taukhid dan Majelis Mujahidin Indonesia gencar melakukan penggalangan dana. Keluarga Abu Bakar Ba’asyir pun mendirikan KNMIS (Komite Nasional Muslim Indonesia untuk Suriah) untuk menggalang dana sejak Maret 2012.

Organisasi salafi lain seperti Peduli Muslim aktif di Idlib dan menyalurkan dana untuk kepentingan organisasi teroris melawan Assad pada 2013 dengan nilai sekitar Rp 4 milliar (US $ 133,000).

Kelompok ini dipimpin oleh Abu Saad Muhammad Nurhuda yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari di Yogyakarta. Yayasan in dekat dengan Abu Nida yang memiliki sekolah At Turots di Yogyakarta – yang melakukan penggalangan dana melalui Radio dan TV Roja yang dekat dengan pentolan salafi Yazid Jawas.

Pada 2013, sebelum ISIS muncul telah ada sekitar 50 teroris Indonesia di Syria. Mereka berangkat ke Syria dari tempat mereka belajar di Pakistan dan Yaman. (Yaman adalah salah satu dari lengan selain Syria yang disebut dalam buku pegangan teroris yakni Strategi Dua Lengan). Dari lima teroris pernah belajar di Al Mukmin Ngruki Pimpinan Abu Bakar Ba’asyir.

Salah satu teroris paling terkenal asal Indonesia, Riza Fardi, bergabung dengan gerombolan pemberontak berbasis di Ghouta dan Aleppo,  Brigade Suquor Al Izz. Riza Fardi ini lulusan Ngruki yang belajar di Sana, Yaman. Ia tewas Ghouta pada 25 November 2013.

Dari tujuh teroris yang dibunuh pasukan Assad asal Indonesia, empat adalah lulusan Ngruki. Yakni Aris Diantoro, Rusydan Abdul Hadi, Muhammad Fakhri Insani, dan Dawin Nuha Abdullah.

Dawin anak Amir Mahmud dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta bekas teroris Afghanistan. Fakhri anak Soleh Ibrahim pentolan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Solo. Dua teroris lain adalah Muhammad Ayub anak Abdurrahim Ayub pentolan teroris Jamaah Islamiyah Australia, dan Abdul Rauf.

Sejak awal para teroris Indonesia dan Misi Medis Suriah, yang ditemani oleh pemberontak, bentrok dengan ISIS. Peristiwa itu terjadi pada 5 Januari 2014 ketika mereka dipaksa berbai’at di perbatasan Turki-Syria.

Bentrokan itu dimenangkan oleh pemberontak dan misi berhasil masuk ke Syria dan bahkan mencapai Latakia, Aleppo dan Ghouta – markas para teroris dan pemberontak baik ISIS maupun jihadis lain dari berbagai negara.

Maka menjadi sangat menarik ketika Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Dompet Dhuafa menggalang dana atas nama kemanusiaan. Mau disalurkan ke mana sumbangan itu? Padahal jelas yang tengah terjadi adalah upaya pemerintah yang sah Presiden Assad untuk memberangus para pemberontak. Catatan sumbangan dan pengiriman teroris ke daerah konflik di Syria – dan Yaman – jelas berisiran dengan bantuan yang jatuh ke tangan para teroris.

Para penganut paham radikal dan khilafah di Indonesia membutakan kenyataan bahwa pemerintahan Assad tengah berjibaku atas nama krasi, legitimasi menegakkan berdirinya negara Syria yang pluralis.

Justru Rusia yang menyingsingkan baju membantu Assad dan juga Iran, Hezbullah, dan suku Kurdi antar negara yang ikut membela.

Inilah ironi masyarakat muslim Indonesia yang termakan oleh kampanye media yang mendukung para pemberontak dan teroris. Dan bahkan menggalang dana tanpa tahu arah dan tujuannya yang jatuh ke tangan pemberontak dan afiliasinya.

Pun kini sejak kekalahan ISIS, ratusan teroris kembali ke Indonesia dan ikut bergerak dalam pergerakan dan anti pemerintahan Jokowi – selain bergerak atas nama agama. Contoh paling kuat adalah teroris Bekasi yang beririsan dengan gerakan Jamaah Islamiyah dan Darul Islam model baru. Masihkah mau menyumbang untuk para teroris? Salam bahagia ala saya.