SBY, Ancaman Politik Terbesar Jokowi Dulu, Kini, dan Nanti

0

Sesungguhnya bukan Prabowo atau lainnya musuh politik terbesar Jokowi dan rakyat waras Indonesia. Musuh pulitik terbesar Jokowi itu juga bukan Anies Baswedan. Tidak juga Gatot Nurmantyo. Musuh politik itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono. SBY adalah musuh sejak dulu, kini dan nanti.

Sebelum Pilpres 2014

Sejak pencalonan Jokowi di 2014, SBY tidak mendukung Jokowi. Posisi peragu yang menjadi ciri khasnya membuat SBY galau menentukan pilihan.

Prabowo meragukan kekuatan Jokowi yang hanya didukung oleh PDIP – musuh utama SBY dengan Magawati-nya – sebagai motor utama. Sementara Prabowo dan Hatta Rajasa didukung oleh lebih dari 62% suara parpol.

Akhirnya SBY bermain di dua kaki meskipun sejatinya dia mendukung Prabowo, dengan kaki satu Hatta Rajasa, besannya di sana. Di satu sisi lain dia membenarkan para pengekornya untuk bermanuver, mendukung dua cawapres sebagai langkah pengamanan.

Rezim SBY Tumbang

Kekalahan Prahara alias Prabowo-Hatta Rajasa mengejutkannya. Rezimnya tumbang. Rezim yang begitu kokoh kehilangan tajinya. Perubahan gradual terjadi. Para loyalisnya terus bermain sampai 3 tahun pemerintahan Jokowi. Mulai terkikis, SBY dengan sisa rezimnya mulai kehilangan pengaruh.

Seperti di awal pemerintahan Jokowi, tampak SBY selalu mencampuri dan ingin memerintah. SBY tidak sadar yang dihadapi adalah Jokowi, bukan ayam sayur. Ketegasannya membuat SBY surut. Dia sadar rezimnya telah tumbang.

Kegagalan pemerintahan selama 10 tahun semakin terbuka dengan kebijakan yang amburadul. Proyek Hambalang menjadi salah satu contoh uang rakyat triliunan rupiah terbuang menjadi monumen abadi.

SBY Butuh Jangkar Pelindung Politik

Kini, ketika posisi Prabowo dianggap kuat oleh SBY, dengan mantap SBY mendukung Prabowo. Kini langkahnya lebih mantap. SBY menitipkan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai jangkar pelindung politiknya. (SBY tidak menghitung strategi Jokowi sama sekali. Kondisi politik dan sikap SBY ini persis sama dengan jelang Pilpres 2014.)

SBY menjadi lebih percaya diri setelah test case Pilkada DKI 2017 berhasil. Dengan mengusung strategi kampanye ayat dan mayat serta logistik yang kuat, SBY, JK dan Prabowo berhasil mendudukkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai penguasa Jakarta. Kini tampaknya upaya itu akan diulangi lagi. Nafsu kemenangan politik mendorongnya untuk memenangkan pertarungan di Pilpres 2019. Alasannya tetap sama: asal bukan Jokowi.

Psikologi politik dan suasana penuh kisruh dan kebencian dengan fokus (1) pemelintiran kemiskinan, (2) kondisi ekonomi, (3) lapangan kerja menjadi sasaran serangan kampanye. Ini masih ditambah lagi dengan koaran model Amien Rais yang mengusung isu penuh SARA. Ini menarik buat SBY – seperti tingkahnya ketika mendukung Anies-Sandi.

Jadi, dukungan SBY kepada Prabowo merupakan sikap balas dendam politik akibat kejatuhan rezimnya. Jokowi adalah musuh politik yang dianggap kepanjangan tangan Ibu Megawati. Padahal kini Jokowi bukanlah Jokowi sebelum menjadi Presiden. Ketegasan dan strategi Jokowi untuk memenangi pilpres 2019 pun tidak dilihat – termasuk menggandeng kalangan ulama dan militer di belakangnya. SBY tetap musuh politik Jokowi sejak dulu, kini, dan nanti. Demikian the Operators.