Ritual Ider Bumi Desa Adat Osing Kemiren, Oase Peradaban dari Banyuwangi

0
Mbah Toto Penari Osing

(Jakarta-Wuines.com) Sabtu 16 Juni 2018 berlangsung acara Ider Bumi dan pergelaran acara adat di Desa Adat Osing Kemiren Banyuwangi. Acara ini dihadiri oleh para pejabat pusat dan daerah dan berlangsung meriah dan penuh gairah. Ider Bumi ini menjadi oase di tengah carut-marut politik identitas ke-indonesia-an yang tengah dikoyak oleh peradaban asing yang tidak cocok dengan budaya Indonesia seperti keyakinan Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.

Sepanjang rangkaian acara, tampaknya cara adat ini dikemas untuk pertunjukan pamer kekuasaan dengan mengarak para penguasa seperti Bupati dan Menteri beserta keluarga mereka. Maka yang muncul di dalam pemberitaan pun kebanyakan adalah aktivitas mereka beserta keluarga.

Mbah Toto sebagai salah satu penari berusia 67 tahun menjadi salah satu ikon penari tradisional Osing. Mbah Toto dengan senang hati berdiri berbaur dengan penonton jauh dari panggung acara yang dihadiri seorang menteri dan bupati Banyuwangi. Perlu diketahui tari dan musik gamelan Osing amat mirip dengan gamelan Bali yang memiliki ritme cepat dan menghentak dan dinamis.

Sayangnya selama acara berlangsung peran para seniman dan pekerja seni lebih banyak menjadi obyek gebyar show-off pejabat dan penguasa lokal beserta keluarganya. Tidak ada tempat khusus berkumpul dan pengaturan yang layak untuk para seniman dan pekerja pelaksana acara. Sungguh hal yang harus diperbaiki di masa depan pelaksanaan acara Ider Bumi yang telah memasuki usia 116 tahun.

Menurut tokoh adat Osing yang ditemui Wuines.com, suku Osing adalah suku asli Bumi Blambangan yang memiliki bahasa dan tradisi sendiri yang berbaur keyakinan mereka dengan keyakinan Hindu-Buddha dan Islam. Kuatnya tradisi akulturasi budaya dan keyakinan ini justru menguatkan identitas ke-Indonesia-an mereka yang kini sedang di persimpangan.

Akulturasi budaya dan agama Hindu-Buddha-Islam dan local genius Osing telah membuat identitas bahasa dan budaya Osing justru tetap hidup.

Berbagai kesenian tradisional ditampilkan pada acara Ider Bumi kali ini termasuk seni musik Angklung, Seblang, Tari Barong, Jenger, Jaranan dan kesenian tradisional lainnya. Budaya adat Osing menjadi salah satu peradaban dan budaya asli di Jawa yang paling kuat dan bisa menjadi besar jika pemerintah lebih peduli dan menjadikan mereka sebagai subyek bagi mereka sendiri. Mereka harus menjadi bagian dari pembangunan dan bukan obyek pembangunan dan pemberdayaan.

Budaya dan suku Osing ini bisa sejajar dengan suku Toraja, Batak, Bali yang sangat menonjol, dan mewakili khasanah keragaman dan bisa mewakili suku tradisional Jawa-Islam. Jogjakarta dan Solo sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Jawa telah kehilangan roh tradisional dan keberagamannya karena sikap politik. Suku Osing dengan karakter terbuka seperti bangsa Bali dan Toraja bisa menjadi gambaran peradaban budaya Indonesia yang kini tengah mencari bentuknya.

Suku Osing tinggal di Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Songgon, dan Cluring dengan memiliki bahasa mereka sendiri yakni bahasa Osing, kerabat bahasa Bali dan Jawa Kuno yang sangat menarik.

Sikap hidup masyarakat yang terbuka, ramah, dan otentik tulus, memungkinkan Osing menjadi aset pariwisata yang unggul di Timur Jawa – Barat Bali. Indonesia berpotensi memiliki tempat wisata budaya baru yang menarik. Terlebih lagi Banyuwangi juga memiliki obyek wisata pantai yang bervariasi dan indah.

Belum lagi, Osing ada di tengah rute Bali-Ijen yang sangat populer di kalangan wisatawan. Koordinasi dan kerjasama antar agen perjalanan wisata di Bali dan Banyuwangi bisa meningkatkan hunian bagi puluhan home stay di Osing.

Selamat Ider Bumi bagi masyarakat Osing yang terbuka, toleran, mencintai peradaban yang kini menjadi cita-cita bangsa. Dan, bangsa Osing telah memberikannya bagi Indonesia dan menjadi oase di tengah pertempuran peradaban. (Tim Wuines.com)