Prabowo dan SBY Korban Politik Culas PKS

0
SBY dan Prabowo

Sungguh sangat unik melihat perilaku PKS. Partai ini telah memakan  korban Prabowo dan sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono selama 10 tahun. PKS tidak berkontribusi besar mendukung pembangunan oleh rezim SBY di bidang yang dipimpin oleh PKS. Keminfo dan Kementan dan Kemendag adalah ladang pemenuhan kepentingan kader-kader PKS – hingga kini ekses itu masih kuat mencengkeram.

PKS adalah partai licik yang ganas memakan korban siapa pun. Ini dilakukan karena PKS adalah partai ideologis Ikhwanul Muslimin yang sangat berbahaya. Di Mesir, Arab Saudi, Syria, Yaman, Yordania, Israel, Eropa, Amerika Serikat, Ikhwanul Muslimin adalah organisasi teroris. Dr. Mahatir Muhammad akan melarang idelogi Ikhwanul Muslimin di Malaysia. Pun bagi PKS, segala cara dilakukan untuk mencapai tujuannya.

Prabowo menjadi korban politik identitas ideologis PKS. Pilpres 2014 adalah ajang pesta pora mesin politik PKS. Dan, tentu uang beredar besar di hajatan pemilu itu. PKS menjadi pelaksana hampir seluruh proyek kegiatan kampanye.

Media PKS Piyungan dan siber diklaim sebagai kekuatannya. Maka Prabowo dan partai koalisi membiayainya. Di samping tentu organ siber yang dimiliki oleh Gerindra saat itu. Namun, lagi-lagi PKS mengambil porsi yang besar. Atau klaim yang besar. Berperan besar. Dan, membesar-besarkan perannya.

Dengan jaringan yang terstruktur rapi, dengan komando melebihi ketaatan kepada Raja, para kader PKS seperti kerbau dicokok hidungnya. Apapun yang diperintahkan oleh Presiden PKS diikuti oleh kader. Bahkan jika pimpinannya tidak benar dan maling sekali pun akan dituruti, seperti ketaatan kepada ustadz Luthfi Hasan Ishaaq. Atau kepada pengumpul perempuan ustadz Ahmad Fatanah.

Maka dalam Pilpres 2014 PKS dengan jumawanya menyatakan Prabowo menang. Berdasarkan hasil survei dan quick count PKS. Bahkan demi menjaga kebohongan, PKS mendorong Mahfud MD – yang waktu itu Timses Prabowo- untuk maju ke Mahkamah Konstitusi. Prabowo pun maju.

PKS meng-klaim memiliki bertumpuk dan ber-truk-truk bukti. Namun dalam kenyataannya PKS tidak memiliki bukti sama sekali. Mahfud MD sebelum Prabowo maju ke MK malu bukan main. Mundur dari Timses. Prabowo dan Hatta tetap percaya diri. Hasilnya? Mereka dipermalukan PKS. Prahara (Prabowo-Hatta Rajasa) kalah.

Namun, PKS bukanlah PKS jika tidak terus bermanuver. PKS selalu membesar-besarkan dirinya. Bersama dengan Ical, Amien Rais, Hashim yang secara terbuka menyatakannya, dengan UU MD3 mereka merancang penjatuhan Jokowi-JK. SBY dibuat gamang dan kebingungan mencari posisi keberpihakan. Hampir SBY termakan delusi PKS.

Dendam politik ini gagal terlaksana. Oktober 2015 justru menjadi titik awal hancurnya Koalisi Merah Putih pimpinan Prabowo dengan mundurnya Golkar – akibat peran Luhut Binsar Pandjaitan dan Jusuf Kalla serta kalangan politikus lain. Gagal mendongkel Jokowi, PKS tetap bermanuver.

Dengan 3 tahun tanpa logistik kementerian gemuk, selama 10 tahun sebelumnya dikuasai oleh PKS, PKS kehilangan sumber lumbung duit. Iuran anggota kian terbatas untuk membiayai perilaku elite yang mewah seperti yang dicontohkan LHI dan Ahmad Fathanah dan tentu Anies Matta.

Kondisi ini sama dengan yang dialami oleh Prabowo. Bangkrut. Maka PKS pun akan menjadi partai yang dipastikan akan meninggalkan Prabowo. Sementara kaitan dengan Reza Chalid telah terputus karena tidak adanya Golkar dan Setya Novanto.

Dari sisi kroni rezim SBY pun, tidak ada dana yang akan mengalir. Karena SBY memiliki kepentingan sendiri. SBY mengamankan Ibas dan Century. Caranya, memaksa Agus Harimurti Yudhoyono maju sebagai bumper politik. Pilgub DKI Jakarta 2017 sebagai permainan pertama. Gagal. Namun itu pelajaran politik.

Nah, karena Prabowo bangkrut, kini PKS tengah berupaya untuk membangun poros baru bersama SBY. SBY dipastikan kebingungan. Hanya PAN yang dipastikan bisa memberi jaminan. PKS lagi-lagi membesar-besarkan dirinya. Sementara hasil Pilkada 2018 juga menunjukkan kemerosotan tajam Demokrat.

Di tengah situasi itu, PKS menyodorkan diri bermain ke SBY dan ke Prabowo. Situasi menjadi dinamis. Poros ketiga menjadi semakin kuat. Namun, karena Prabowo bangkrut, akibatnya justru Prabowo bisa tersingkir. PKS tidak sudi berkoalisi dengan poros kropos tanpa fulus.

(Bahkan saking lihanya PKS pun tak segan menawarkan diri masuk mendukung Jokowi. Ini sangat berbahaya bagi Jokowi dan bisa membuat Jokowi kalah telah sebagai korban proxy PKS. Kenapa? Basis pendukung mayoritas akan menghukum Jokowi, baik dari kalangan TNI/Polri dan relawan serta publik. Kerana PKS adalah common enemy bagi kalangan waras.)

Untuk itu, kini Jusuf Kalla tengah menghitung kekuatannya. SBY pun dilirik. Terbangunnya poros ketiga ini – dengan Cak Imin yang sudah keluar dari daftar cawapres Jokowi – bisa kuat. Pola copy paste Pilkada DKI Jakarta akan kembali terjadi.

Untuk itu, pemaksaan Prabowo maju dengan PKS tetap menjadi keniscayaan – dengan asumsi Demokrat tidak menyambut bualan PKS. Cukup Prabowo yang mengabdi ke PKS. Memang sudah menjadi takdirnya, Prabowo tidak bisa lepas dari permainan ambisi culas politik identitas Ikhwanul Muslimin yang dimainkan oleh PKS.

SBY pun telah menjadi korban 10 tahun. Jokowi tentu tidak akan masuk ke dalamnya, namun JK telah termakan PKS seperti di Pilkada DKI Jakarta 2017 dengan fleksibel karena kepentingan ambisi politik maka mendukung Anies-Sandi.

Siapa lagi yang akan menjadi korban politik gerakan ideologis Ikhwanul Muslimin PKS?