Pilih Ma’ruf Amin, Strategi Jokowi Hantam Jantung Politik Identitas

0
Ma'ruf Amin dan Said Aqil Shiradj

Bagi yang tak memahami pikiran Jokowi, akan sulit menerima kenyataan. Jokowi mengambil tokoh anti-Ahok menjadi cawapres pendampingnya. Drama itu menghentak politik Indonesia. Baik pendukung atau penentang Jokowi. Pilihan politik yang luar biasa berisiko. Dan risiko itu dihitung rapi oleh Jokowi.

Dari pemikiran yang sangat insight Jokowi, penulis paparkan secara umum dengan menghilangkan sensitivitas isu strategis. Yang jika dibeberkan akan menjadi bumerang.

Pengamat risau melihat sepak terjang Jokowi. Namun, jika dipahami dengan perspektif politik yang luas, maka akan ditemukan titik kekuatan dari berbagai keputusan yang diambil oleh Jokowi. Terkait isu politik identitas.

Benang merah dipilihnya Ma’ruf Amin bermula sejak kasus pra-Ahok. Jokowi memahami bahwa politik identitas yang diusung oleh oposisi hanya bisa diredam dengan dua cara. Pertama, menghantam secara telak dan kasar.

Jokowi bisa memberangus dengan kekuasaannya. Peredaman dengan memanfaatkan militer dan Polri. Namun, Jokowi paham. Target sesungguhnya dari seluruh skenario musuh politik adalah destabilisasi NKRI. Jokowi tak mau terjebak.

Dengan Indonesia chaos maka kelompok oposan bahkan bisa dengan menunggangi militer akan bergerak mengamankan kekuasaan. Bagi oposan Indonesia bubar bukan masalah.

Mereka hanya memikirkan hegemoni ekonomi dalam geopolitik kompleks, dengan berbagai proxy yang saling tumpang tindih. Apalagi kepentingan internasional telah menunggangi gerakan khilafah yang telah masuk ke seluruh sendi kehidupan berbangsa.

Untuk itu Jokowi menghindari pilihan perang politik dengan cara kasar walaupun legal. Namun, tetap saja politik identitas harus dijawab. Harus ditemukan antidotnya.

Cara kedua, melawan secara halus. Menggunakan cara halus dan benar sopan dan santun juga bukan pilihan yang tepat. Contohnya Ahok dihajar sampai habis, meski memraktikkan politik santun.

Pun kasus Obor Rakyat memberikan pelajaran bagi Jokowi. Bahwa politik identitas dengan strategi fitnah, fake news hampir membuat Jokowi kalah di Pilpres 2014. Jokowi tidak akan lagi membiarkan dirinya jadi bulan-bulanan.

Harus ada penyeimbangan. Caranya? Jokowi memilih cara gabungan keduanya. Melihat gelagat jauh sebelum Ahok kalah, Jokowi menerima strategi Luhut Binsar Pandjaitan. Rengkuh salah satu sumber gorengan politik identitas: Ma’ruf Amin.

Kunjungan singkat ke rumah Ma’ruf Amin oleh Luhut Binsar Pandjaitan, Kapolda M. Iriawan, dan Pangdam Jaya Mayjend TNI Teddy Lhaksmana mengubah secara gradual Ma’ruf Amin. Dari simbol politik identitas dan intoleran, MA berubah drastis yakni pendukung NKRI dan bahkan Islam Nusantara yang toleran.

Skenario ini tidak gampang dieksekusi oleh Jokowi. Para partai juga punya kepentingan. Pertimbangan lainnya juga praktek politik identitas oleh PAN, Gerindra, PKS dan Demokrat seperti kasus Pilkada DKI 2017 juga mengancam eksistensi para parpol. Sentimen ini digaungkan. Lalu siapa yang diusung sebagai cawapres Jokowi?

Moeldoko bisa menjawab kepentingan dengan pilihan pertama. Mahfud MD bisa menjawab soft-approach. Pun dia tidak mampu menjadi vote getters bagi Jokowi.

Zig-zag rapat politik di Bogor dengan seluruh Ketum partai pendukung dilakukan. Hasilnya, memberikan wewenang kepada Jokowi untuk menggolkan satu nama. Tekanan partai tetap berlangsung. Namun, partai tidak bisa memberikan solusi strategis terkait politik identitas yang harus dilawan jika cawapres dari kalangan parpol.

Jokowi pun dengan zig-zag pengumuman dengan menyisihkan Moeldoko, dan bahkan Mahfud MD di detik terakhir.

Sesungguhnya, memilih Ma’ruf Amin adalah kulminasi strategi Jokowi sendiri sejak utusan khusus trio LBP, M. Iriawan dan Teddy Lhaksmana meredam Ma’ruf Amin. Pada saat itu tidak ada sama sekali deal dengan Ma’ruf Amin.

Pilihan Jokowi menghancurkan moral dan spirit politik khilafah dan politik identitas oposisi. Dengan merenggut Ma’ruf Amin, simbol politik identitas, maka Jokowi secara cerdas menghantam politik identitas.

Kegalauan para cebongers tentang Jokowi yang dianggap kurang tegas terjawab sudah. Jokowi praktik langsung menggunakan politik identitas sembari menghancurkan gerakan khilafah, menguatkan peran intelijen TNI/Polri, Jokowi menghantam ke jantung politik identitas. Ma’ruf Amin.

(Dan, yang tak diketahui publik, Jokowi bisa menyingkirkan proxy Amerika secara telak. Anies Baswedan. Bahkan Gatot sekali pun. Senyap. Lutut tertekuk.)

Dengan menarik Ma’ruf Amin ke kubu Jokowi, maka gerakan Jusuf Kalla, diharapkan simpatisan Rizieq, dan para pemain politik lain teredam. NU pun mayoritas mendukung Jokowi. Pilihan yang terpaksa diambil demi menyelamatkan NKRI – yang TNI/Polri pun di belakang keputusan tersebut. Salam bahagia ala saya.