Peringatan Keras Jokowi! Bangun Militansi dan Kampanye Medsos

0

“David Cameron bilang ke saya, pihak pro Uni Eropa akan menang. Demikian pula Barrack Obama pun menyampaikan bahwa Hillary akan menang. Nyatanya, yang menang Brexit dan Donald Trump,” papar Jokowi di hadapan organ relawan Bravo 5 di Jakarta (10/12/2018).

Hal itu disampaikan Jokowi di depan para relawan Jokowi-Amin. Ada Ketua TKN Erick Thohir, Wakil Ketua TKN Moeldoko, dan sekitar lima ratus relawan.

Kampanye hitam, fitnah terhadap Jokowi dinilai telah mengkhawatirkan. Buktinya, fitnah terus berkembang. Tanpa perlawanan. Di media social Jokowi kalah telak.

Padahal menurut Jokowi media sosial adalah pintu rasa sesungguhnya yang menentukan pilihan. berkembang. Bahayanya, kata Jokowi banyak warga yang tak paham pertarungan politik terpengaruh. Dan, percaya. Lalu dianggap sebagai kebenaran.

Jokowi sangat memahami strategi kampanye. Dia juga paham tentang perubahan perilaku pemilih di dunia, dan juga di Indonesia. Kemiripan kampanye hitam seperti isu PKI terhadap Jokowi sebagai contoh. Juga tudinga terhadap asing, dan pemelintiran berita.

Dipaparkan di layar lebar gambar hoax sosok mirip Jokowi di rapat umum PKI yang dihadiri DN Aidit di tahun 1955. Sambil tertawa Jokowi berseloroh dia saat itu belum lahir. Dia lahir tahun 1961.

Peringatan Jokowi menanggapi hasil-hasil survei yang menunjukkan tentang trend menurun elektabilitas Jokowi. Kondisi ini mirip dengan pada 2014. Tidak berbanding lurus dengan prestasi Jokowi.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah Prabowo-Sandi selain mengambil cara kampanye Trump, Bolsonaro, Boris Johnson di Brexit dan sebagainya, melibatkan isu ulama dan nilai-nilai agama. Ini sangat membahayakan pemahaman masyarakat dan bisa menggerus suara Jokowi.

Maka TKN dan relawan perlu membangun strategi yang cerdas, formula, dan pemetaan yang komprehensif. Tujuannya adalah memenangi ruang media sosial yang menjadi penentu pemilih memilih kandidat. Tanpa ini kekhawatiran Jokowi seperti terhadap Brexit dan fenomena Trump dan Bolsonaro bisa terjadi pada Jokowi. (Penulis: Jonas Asmara – Pengamat Politik dan Media).