Penyesalan Kelas Menengah di Suriah Bisa Terjadi di Indonesia

0

Para pengungsi Suriah di Jerman itu sungguh menyesali pilihan politik mereka. Kehidupan sebagai kelas menengah yang nyaman di Suriah terkoyak hanya karena sentimen yang dibangun lewat hoaks dan fitnah. Akibatnya, kelas menengah yang cuek dan mendukung teroris pada awal Arab Springs yang menyapu Timur Tengah pun menjadi korban.

Kelas menengah yang tidak peduli dan merasa tak tersentuh. Malah mereka mendukung para teroris seperti Jabat Al Nusra, bahkan ISIS, White Helmet, mereka dukung, hanya dengan satu alasan: membenci Pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad.

Hasilnya? Perang saudara, perang sipil merebak di seantero negeri. Suriah porak poranda. Ratusan ribu orang tewas. Tidak mengenal kelas. Warga kaya, miskin, paria, kelas menengah, kelas atas semua menjadi korban. Pasalnya adalah dukungan awal kelas menengah kepada para teroris. Kelas menengah yang menjadi panutan.

Alasan demi perubahan Suriah, demi Suriah lebih baik, apalagi dengan pengkhianatan Tentara Suriah yang membentuk Tentara Pembebasan Suriah. Kelas menengah merasa mereka akan melindungi. Pemberontak akan menjadi teman dan pelindung kelas menengah.

Ternyata semua salah. Pemerintah Assad berhasil merangsek dan menahan serangan teroris. Kota Damaskus relatif bisa bertahan. Idlib, Homs, Aleppo, dan berbagai kota yang tadinya dikuasai oleh pemberontak berhasil direbut oleh pasukan Assad.

Kelompok Menengah Dikhianati Teroris

Kelas menengah yang mendukung pemberontak kehilangan pelindung. Mereka kabur dari tempat tinggal mereka yang nyaman dengan membawa anak-anak mereka yang kini kurus kering. Anak-anak yang kekurangan gizi akibat melawan pemerintah, orang tua yang mendukung teroris.

Kini terdapat 5,5 juta pengungsi di luar Suriah, dua pertiganya adalah kalangan menengah, yang bisa membayar teroris agar bisa meninggalkan kota mereka. Lalu 6 juta orang lain menjadi pengungsi di dalam negeri Suriah.

Dukungan kelas menengah terhadap teroris seperti di Idlib, Homs, Palmyra, Raqqa, Deir Azzoor, dan Aleppo, misalnya, ternyata menjadi petaka. Kelas menengah diperas untuk membiayai perjuangan pemberontakan. Janji para teroris adalah untuk kehidupan lebih baik. Janji yang berujung pada pemerasan atas kelompok menengah.

Kini kalangan menengah di Suriah kehilangan segalanya akibat mendukung teroris. Mereka kehilangan kehidupan yang nyaman. Mereka kehilangan anak, istri dan suami yang kini menjadi warga miskin. Hal yang tidak terbayangkan oleh mereka. Bahkan mereka hengkang dan menjadi pengungsi. Hidup bagaikan neraka akibat membela teroris, khilafah dan ISIS. Penyesalan yang sudah terlambat.