Pelajaran Politik dari Kekalahan Argentina 3-0 atas Kroasia

0

Filosofi sepakbola memberikan pelajaran politik berupa kekalahan 3-0 Argentina atas Kroasia. Pelajaran dari filosofi bola sebagai bagian dari kehidupan – meminjam istilah Gus Dur – ini berlaku bagi Prabowo dan Jokowi serta para pendukung mereka.

Sejak awal dapat diperkirakan persaingan antara Argentina dan Kroasia akan sengit. Argentina turun dengan kepercayaan diri tinggi sebagai negara yang memiliki pengalaman dua kali juara dunia. Mereka merasa di atas angin. Sementara Kroasia adalah negara kecil dengan pengalaman maksimal Juara Ketiga di Piala Dunia Prancis 1998.

Argentina dengan nama besarnya mengandalkan Lionel Messi sebagai bintang besar. Publik lupa bahwa nama besar sendirian dalam sepakbola tidak memberi manfaat apapun. Messi hanya bisa bermain di Barcelona yang dipenuhi bintang yang menjadi hamba bagi Messi.

Dengan dukungan penuh para kawulanya di klub, Messi berhasil membuat gol demi gol. Ibaratnya Messi disuapi susu dengan botol yang sudah mengucurkan air susu, tanpa mengunyah, tinggal meneguk. Messi bagaikan bayi yang siap disuapi dan tinggal menelan gol.

Para pemain besar Argentina (sebagai pendukung terpenting) pun ditenggelamkan oleh nama besar palsu Messi. Dalam tim tentu pemain bintang sekelas Mascherano, Aguero atau Acuna tak bisa disamakan dengan para pemain klub gurem. Semua berharap terhadap Messi. Namun yang menciptakan gol imbang ketika melawan Islandia adalah Sergio Aguero, bukan Messi.

Di pertandingan pembuka grup melawan Islandia, bahkan saking dianggap hebatnya Messi, tendangan penalti pun Messi gagal ketika melawan Islandia. Sepakannya berhasil dibaca oleh Hannes Halldorsson yang telah mempelajari teknik dan gerakan Messi. Ini berkat persiapan Timnas Islandia lewat pelatih Helmir Hallgrimsson yang mempelajari semua hal terkait Messi.

Publik pun tetap menjadikan Messi seorang diri sebagai simbol kekuatan. Publik lupa bahwa dalam sepakbola ada nama-nama seperti Mercado, Tagliafico, Otamendi, Salvio, Meza, Acuna, Mescharano, Perez, Aguero, Caballero, Higuain selain Messi. Para pemain selain Messi inilah yang bisa membuat tujuan (goal) tercapai. Namun, peran para pemain lain ini seolah tidak dianggap.

Maka ketika salah satu pemain Caballero gagal menjalankan fungsinya di barisan belakang, kebesaran Messi dan Argentina tinggal nama. Penjaga gawang Willy Caballero tidak membuang bola dengan baik. Caballero juga meremehkan posisi lawan yakni Ante Rebic yang merupakan pemain senior. Kesalahan pada menit ke 53 itu dibayar dengan tendangan voli yang merobek jala Argentina. 1-0 untuk Kroasia.

Organisasi pertahanan Argentina semakin berantakan karena menerapkan 3 bek. Ini menjadi sasaran empuk Kroasia dengan Modrik, Rakitic, Perisic, Rebik, dan Mandjukic.

Majikan Besar Messi yang tidak mendapatkan para hambanya seperti di Barcelona, harus berhadapan dengan kiper senior Danijel Subasic yang bermain di AS Monaco, anggota Ligue 1 Prancis. Hasilnya, dengan strategi hebat 4-5-1 dan menumpuk pemain di belakang dan tengah, Argentina gagal menembus pertahanan Kroasia yang dikawal oleh Vrsaljko, Lovren,Vida, dan Strinic. Lapangan tengah pun dikuasai oleh lima pemain Modric, Brozovic, Rakitic, Perisic yang bekerja keras mendukung Mandzukic di depan.

Sementara Messi tidak mendapatkan dukungan bergelombang seperti yang didapatkan Luca Modric yang berhasil menjebol gawang Caballero dengan gol spektakuler pada menit ke-70 hasil kerjasama tim. 2-0 untuk Kroasia.

Argentina tetap bertumpu kepada serangan ompong Tuan Besar Messi di depan, sementara pertahanan Argentina semakin rapuh. Puncaknya ketika Ivan Rakitic berhasil menjebol gawang Cabellero di menit akhir pertandingan. 3-0 untuk Kroasia yang menghancurkan Argentina sekaligus menenggelamkan Tuan Besar Messi.

Pertandingan antara Argentina dan Kroasia adalah pelajaran politik hebat. Maka para pendukung Prabowo dan Jokowi pun bisa mengalami kekalahan jika tidak belajar dari pertandingan dini hari tadi. Para pendukung Prabowo dan Jokowi (baca: Tuan Messi) jangan hanya memusatkan seluruh konsentrasi kepada kehebatan kedua orang tersebut.

Para pendukung Prabowo atau Jokowi atau calon lainnya harus mengingat dukungan para pendukung, bukan hanya Prabowo atau Jokowi sebagai target man (baca: Tuan Besar Messi) yang menjadi pusat kemenarikan, (sesungguhnya dukungan Mercado, Tagliafico, Otamendi, Salvio, Meza, Acuna, Mescharano, Perez, Aguero, Caballero, Higuain, yang diabaikan Tim Argentina) pun penting.

Seberapa hebat Prabowo, atau Anies Baswedan, atau Jokowi, (baca: Tuan Besar Messi) tanpa organisasi pendukung yang rapi, terorganisir dengan baik akan kalah melawan siapa pun yang lebih terorganisir. Pun sikap pendukung Prabowo atau Jokowi (baca: Tuan Besar Messi) yang asal membuat Prabowo atau Jokowi (baca: Tuan Besar Messi) senang dengan gebyar kepalsuan dukungan dan organisasi akan menghancurkan seperti kekalahan Argentina atas Kroasia.