Pakde Jokowi, Soal Cawapres, Jas Merah Gus Dur dan Bung Karno!

0
Jokowi dan Bunda dan alam

Presiden Jokowi yang terhormat. Tegas. Trengginas. Teteg ati. Yang mencintai Bunda dan alam secara seimbang. Terkait penetapan cawapres, sebaiknya Pakde ingat pesan Bung Karno. Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah! Gus Dur dan Bung Karno harus menjadi ingatan sejarah. Pakde pasti paham.

Jas Merah Gus Dur

Gus Dur diusung oleh kalangan agama dan ulama dengan motor Amien Rais menyingkirkan Mega. Amien Rais dan Gus Dur dengan penuh percaya diri melakukan perombakan. Demiliterisasi dianggap keniscayaan. Militer dianggap telah tamat seperti bayangan tamatnya Golkar.

Gus Dur penuh percaya diri melakukan apapun yang dia mau. Pesta para orang sipil. Bahkan Menteri Pertahanan pun orang sipil. Hingga orang tidak paham pertahanan menjadi Menteri Pertahanan, Mahfud MD.

Gus Dur sang ulama paling dihormati terjungkal. Itu karena pengkhianatan politik Amien Rais. Gus Dur tercengang. Ratusan juta massa besar kaum nahdliyin NU sama sekali tidak membela Gus Dur. Banser dan Anshor diam. Tidak bergerak.

Kemasygulan. Presiden Gus Dur melambaikan tangan di Beranda Istana Negara mengenakan kaos oblong. Saya saksi mata di depan Istana. Menangis hati ini. Gus Dur pun jatuh.

Kenapa itu terjadi? Karena kekuatan pendukung Gus Dur hilang. Siapa? TNI. Para jenderal termasuk Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto dan sebagainya tidak lagi membela Gus Dur.

Jas Merah Bung Karno

Yang lebih spektakuler adalah jas merah Bung Karno. Bung Karno dijatuhkan oleh tiga jenderal merangsek Istana Bogor, menyodorkan Supersemar. Di belakangnya, eyang saya Presiden Soeharto.

Rakyat hanya bisa melongo.  Darah tertumpah. Justru kaum yang paling kuat Nahdliyin menjadi pion suruhan Letkol Sarwo Edi Wibowo. Banjir darah anak bangsa terjadi. Indonesia dan Bung Karno menangis pilu.

Padahal Bung Karno berdarah sipil-militer pejuang. Ternyata kekuatan militer lapis kedua menjatuhkan Bung Karno. Sekali lagi rakyat sipil hanya melongo, menonton tontonan penyiksaan terhadap Bung Karno dan anak bangsa lainnya.

Ketegasan Pakde Jokowi

Konstelasi politik Indonesia sejatinya menipu. Pakde pasti paham. Kini tengah bermain antara kelompok pemodal. Kekuatan yang mengendalikan aktivitas politik dan ekonomi.

Tipuan manuver politik, prediksi ketakutan politik, dengan GNPF dan yang mengatasnamakan ummat dan rakyat semestinya dijawab dengan sederhana.

Pakde memiliki pendukung 52% pemilih Indonesia. Yang dibutuhkan untuk Pakde adalah ketegasan.

Pakde pasti bisa menghindari ikut tarian dengan gendang yang ditabuh oleh GNPF MUI dan Ulama. Tidak seperti Prabowo yang kebingungan. SBY yang tetap hendak membuat Pilpres 2019 seperti Pilkada DKI 2017. Maka untuk kestabilan politik, Pakde harus tegas.

Kisah kejatuhan Gus Dur dan Bung Karno di atas pantas direnungi. Fakta nyatanya rakyat tidak membela Gue Dur. Bahkan ketika Bung Karno disingkirkan, sebagian rakyat menjadi pion proxy kepentingan eyang saya Presiden Soeharto.

Pakde paham. Militer/TNI/Polri adalah penguasa negara yang sesungguhnya, bersama Pakde Presiden dan para pengusaha. Dukungan TNI/Polri  – baik sebelum atau setelah Pilpres – selalu dibutuhkan.

Pakde Jokowi yang saya banggakan. Maka harus dengan penuh percaya diri, Pakde menunjuk sosok cawapres yang setia, ksatria membela, punya jaringan luas, santri dan diterima semua golongan nasionalis, parpol, agama dan militer, yang mampu meredam setiap gejolak. Pakde tentu ingat pesan Bunda dan alam yang selalu sama. Demikian the Operators dan Ki Sabdopanditoratu.

Salam bahagia ala saya.