Pak Noto, Bu Noto, Mulyono Membentuk Karakter Jokowi

0

Banyak orang bingung tentang Jokowi. Kenapa Jokowi yang kelihatan klemar-klemer, bisa begitu tegas bertindak? Seperti ketika membubarkan HTI, mengeluarkan UU Anti Teroris, yang ditentang oleh banyak kaum radikal.

Keputusan lainnya adalah pembangunan infrastruktur yang bebas dari kepentingan spekulan tanah. Tak heran banyak yang menolak pembangunan infrastruktur. Karena calo-calo dan mafia tanah gagal bermain. Rakyat pemilik tanah bernegosiasi langsung dengan negara. Tidak ada calo pencari untung.

Lalu, apa yang membentuk karakter Jokowi menjadi seperti itu? Berbagai buku tentang Jokowi mengungkap tentang kesederhanaan Jokowi. Namun, yang merasuk dalam jiwa Jokowi, yang merupakan pergulatan jiwa Jokowi kecil, belum terungkap.

Bagaimana masa kecil Jokowi dipengaruhi oleh kisah pertentangan nilai-nilai, bahkan sejak dia masih balita? Tentang hal bagi banyak orang tidak penting. Namanya: Joko Widodo. Publik harus tahu hal ini agar mampu mencerna apa yang akan dilakukan Jokowi di periode II kekuasaan Jokowi. Inilah kisah tentang Pak Noto, Bu Noto dalam pergulatan nama untuk bayinya.

Nama bayi saya Mulyono. Begitu Pak Notomihardjo memberitakan kelahiran anaknya. Kelahiran Mulyono memberikan secercah harapan. Bayi yang memberikan kebahagiaan bagi keluarga baru: Notomihardjo dan Sudjiatmi. Mereka berani membersitkan mimpi. Mimpi untuk anak sulungnya, agar menjadi mulia. Kemuliaan untuk sang bayi, dan bagi keluarga.

Namun, menginjak masa balita, Mulyono sering sakit-sakitan. Bagi Pak Noto dan Bu Noto serasa tidak ada yang salah dengan pengasuhan. Asupan makanan dirasa cukup. Asi juga diberikan selama dua tahun baru disapih. Mereka melakukan kontemplasi.

Pak Noto dan Bu Noto pun menanyakan kepada para tetangga, tetua kampung. Padahal, dalam batin dan pikiran mereka sudah cukup tahu. Ini tentang pemberian nama anaknya. Nama yang disandang sang bayi terlalu berat. Ya, pada kondisi sosial ekonomi saat kelahiran bayi akan menentukan nama yang pantas, pas dan sesuai. Itu adat budaya Jawa.

Hasilnya mencengkan. Balita sakit-sakitan itu harus diganti namanya. Pak Noto kaget. Pak Noto merasa pemberian nama bagi anaknya adalah hak dia. Baginya, nama adalah doa. Suatu keyakinan bagi sebagian besar orang dalam budaya Jawa. Justru sebab itu, pemberian nama Mulyono, bagi anaknya bermasalah.

Pak Noto dan Bu Noto pun mendiskusikan hal ini kepada kerabat mereka. Hasilnya sama. Mereka menyarankan, untuk keselamatan bayi mereka, nama harus diganti. Pilihan nama pertama: Slamet, atau Selamet pada masa 1960-an.

Namun, pilihan nama Selamet terlalu umum. Akhirnya, Pak Noto menemukan nama baru. Anak laki-laki yang kuat, dalam budaya Jawa disebut Joko. Maka ada kisah dan sejarah nama-nama Jokowi. Joko Tingkir, Joko Lodang, Joko Lelono, Joko Dolok.

Pak Noto sebenarnya hanya berharap, bahwa anaknya, balitanya, nanti berbahagia. Kehidupan keluarganya sedang mengalami siklus turun, sederhana. Bukan miskin. Sedang serba kekurangan. Maka tak heran dia memberi tambahan Widodo. Widodo berarti sejahtera,sehat, selamat.

Pak Noto,  memberi nama Joko Widodo. Terbersit di situ doa. Joko sang anak lelaki harus kuat dan selamat, agar sejahtera. Itu arti nama Joko Widodo. Nama yang oleh orang tuanya hanya nama untuk menyelamatkan dia dari sakit-sakitan, dari sebelumnya Mulyono.

Nama Mulyono dianggap terlalu berat. Doa Pak Noto dianggap terlalu tinggi – untuk kondisi ekonomi yang lagi sederhana. Doa berharap ‘jadilah orang mulia’, baik jiwa, hati, dan badani, terlalu berat buat anaknya. Untuk sekedar memberi nama Mulyono saja Pak Noto seperti ‘tidak diberi izin’ oleh alam.

Keputusan Pak Noto ternyata tepat. Perjuangan memberi nama bayi – yang kini kita kenal sebagai Jokowi – memberikan pengalaman spiritual kuat kepada Jokowi. Jokowi menjadi sosok yang kuat secara spiritual dan sosial – juga fisik fit. Jokowi pun tumbuh menjadi pribadi yang sederhana.

Kisah kehidupan, seperti kisah Mulyono, nama pertama Jokowi, membuat Jokowi memiliki karakter kuat. Kekuatan pikiran dan sikap Jokowi itu membuatnya terus berjuang untuk rakyat. Kisah hidupnya menginspirasi dirinya untuk berbuat bagi rakyat kecil.

Maka pada periode kedua ini, Jokowi akan membangun sumber daya manusia. Lewat pendidikan. Penguatan karakter bangsa akan dibangun. Pancasila dikuatkan sejak dini, sejak PAUD. Lima tahun revolusi mental akan dilakukan lagi. Prioritas untuk menyelamatkan bangsa Indonesia. Kesejahteran, adil dan makmur. Baldatun toyyibatun warrabbun ghofur. (Penulis: Ninoy Karundeng).