Nyepi, Bhagavad-gita, dan Kebenaran Ajaran Hindu Sejak 7,000 Tahun

0

Bhagavad-gita adalah akar semua agama di muka Bumi. Dan, ajaran Hindu membangun sistem keagamaan pertama kali dalam sejarah umat manusia. Nyepi dalam ajaran agama Hindu sebagai ritual untuk pelestarian makro-kosmos.

Nyepi itu tentang alam semesta. Tentang segala hal terkait pelestarian air dan pohon serta gunung membentang, langit biru lestari abadi dalam kehidupan alam semesta. Tentang makro-kosmos yang menyentuh dasar filosofi kehidupan yang tidak tertandingi.

Parisada Hindu menyederhanakan tentang brata penyepian dengan Catur Barata Penyepian.   Tujuannya umat memahami makna nyepi sesuai dengan filosofi ajaran yang berakar dari sumber ajaran spiritual, filosofis tertulis tertua yakni Bhagavad-gita.

Amati geni yakni tidak menyalakan api termasuk tidak memasak yang artinya berpuasa. Dari sinilah akar tentang berpuasa muncul dalam setiap agama besar di Bumi. Dari filosofi tidak serakah, menahan diri, muncul pengekangan: berpuasa (upawasa).

Ajaran amati geni mengarahkan umat manusia untuk tidak serakah, untuk menahan diri dari kerakusan makan yang berujung pada korupsi.

Amati karya mengajarkan untuk berhenti sejenak dari bekerja kehidupan duniawai,dan fisik. Untuk berhenti sejenak, kontemplasi, maka amati lelungan menjadi keharusan.

Nah yang paling payah dan parah dalam kaitan dengan laku manusia adalah sikap hewaniah manusia yang suka lelanguan (mencari hiburan). Dunia hiburan yang dalam alam modern kebanyakan diarahkan ke dalam gebyar pesona hura-hura, makan minum, pesta-pora seks dan alkohol, narkoba dan hingar-bingar tari dansa dan musik.

Padahal sesungguhnya laku lelanguan adalah dinamisasi dan sinkronisasi antara kebutuhan fisik dan spiritual, jiwa manusia yang seharusnya seimbang – tanpa adanya perusakan oleh individu.

Untuk harmoni Nyepi dengan amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan, spiritualisme Hindu mengajarkan dua acara ritual: Melasti dan Tawur Agung. Setelah kedua acara itu puncak dari acara Nyepi ditujukan untuk individu secara pribadi.

Ritual Melasti dan Tawur Agung lebih bernuansa kesemestaan. Dalam perspektif spiritual, saat Nyepi umat Hindu melakukan penenangan jiwa, merenungi kehidupan makro dan mikro kosmos. Karena ajaran Hindu memercayai segala sesuatu diawali dan berakhir dari pengendalian diri individu.

Maka brata penyepian adalah upaya individu untuk menuju ke kekudusan, kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma dengan baik. Nyepi merupakan jembatan emas menuju keseimbangan kehidupan manusia.

Tujuan utama dari brata penyepian itu adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma (perkembangan spiritual), artha (kekayaan fisik dan spiritual), kama (keinginan, nafsu, ambisi) dan moksha (vimoksha, vimukti, mukti) yang berarti pembebasan (jiwa tertinggi).

Wujud dari pelaksanaan itu paling utama adalah upawasa, bahasa Sanskerta yang artinya kembali suci, kembali fitri. Laku lainnya adalah mona (berdiam diri) termasuk tidak berbicara sama sekali. Dyana artinya konsentrasi kepada Sang Hyang Widhi Wasa, menuju keheningan. Dan melakukan arcana yakni persembahyangan di rumah seperti biasanya.

Panca indera diredakan dengan segala kekuatan akal budi dan manah. Laku ini menghasilkan sikap mampu mengoreksi diri dengan melepaskan segala hal buruk dan berupaya suci (fitri) dalam alam spiritual yang abadi.

Sebagian yang sudah mencapai tingkat di atas rata-rata, umat Hindu melakukan tapa yoga brata samadhi yang spektakuler, untuk pembebasan jiwa pada saat Nyepi. Itu semua berawal dari Bhagavad-gita sebagai akar Hinduisme selama 7,000 tahun. Dan, Nyepi di Bali menjadi satu saksi lestarinya awal peradaban spiritual paling lama dalam sejarah peradaban manusia. (Ninoy N Karundeng)