Mudik Neraka Habiburokhman dan Jalan Tol Sebagai Alternatif

0

Tim Wuines.com melakukan perjalanan selama libur lebaran. Perjalanan yang sangat berbeda dengan yang dialami oleh Habiburokhman. Dia menggambarkan perjalanan mudiknya sebagai mudik neraka. Entah dengan kendaraan darat atau kenyamanan menaiki pesawat, sebagai moda perjalanan mudik nerakanya, itu adalah ungkapan tepat untuk jiwanya, kemunculan rasa sakit, yang pas disampaikan oleh politisi yang memang bisa jadi merupakan pengalaman bagi jiwanya, yang gersang penuh intrik politik.

Mudik lebaran di Indonesia pada menjelang akhir perayaan bulan suci Ramadan dan setelah lebaran merupakan pekan eksodus tahunan yang hanya tertandingi dengan Imlek di Tiongkok. Suka dan duka, panas dan digin dilalui untuk bertemu sanak keluarga dan handai taulan. Suatu peristiwa spiritual, budaya, yang memiliki dimensi sosial yang sangat menarik.

Mudik di Indonesia menjadi peristiwa politik pula dan menjadi perhatian setiap tahun. Tak terkecuali mudik tahun 2018 ini. Pemerintah setiap tahun terus meningkatkan layanan publik terkait oksodus mudik lebaran. Tahun ini mudik lebaran disuguhi penggunaan jalan tol setengah jadi yang disebut tol fungsional yang menghubungkan jalur tol yang sudah difungsikan sepenuhnya.

Eksodus masif jutaan orang Indonesia itu kini semakin melebar fungsinya. Selain silaturahmi, kegiatan ini juga merupakan salah satu rangkaian kesibukan masyarakat merayakan hari-hari besar lainnya seperti Natal dan Tahun Baru, Waisyak, Imlek, dan Nyepi. Terlebih lagi jika di antara hari itu ada hari ‘terjepit’ sehingga memperpanjang waktu libur. Tahun ini liburan menjadi lebih panjang.

Salah satu moda transportasi yang digunakan para pemudik adalah jalur darat. Jalur ini masih menjadi favorit sebagian besar pengguna jalan. Yang unik adalah pola pikir atau mind set pengguna kendaraan yang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi baik motor maupun mobil pribadi.

Panjang jalan dan jumlah kendaraan untuk menampung semua kendaraan di jalanan terasa sempit karena eksodus berlangsung dalam waktu yang bersamaan dalam waktu sepekan. Padahal riwayat pembangunan dan ketersediaan panjang jalan di Indonesia tidak seperti yang seharusnya. Perhatikan catatan di bawah ini yang menggambarkan ketimpangan.

Selama 30 tahun Presiden Soeharto 1968 -98 membangun 490 km jalan tol. Presiden Habibie 7,2 km, Presiden Gus Dur 5,5 km, Presiden Megawati Soekarnoputri 34 km, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 212, dan Jokowi akan membangun 1.854,5 km. Panjang jalan tol yang kurang dari 3.000 km di seluruh Indonesia. Jalan tol ini merupakan bagian dari jalan nasional. Keseluruhan panjang jalan nasional mencapai 38,400 km di seluruh Indonesia.

Jawa tetap menyumbang mayoritas 62,81 % atau 70.078.792 kendaraan. Dari jumlah kendaraan di Jawa tersebut sebanyak 56.153.859 berupa sepeda motor, kendaraan pribadi meliputi 9.494.410,dan sisanya bus dan truk. Sementara total kendaraan di Indonesia berjumlah 91.085.532 berupa sepeda motor.

Menurut pengamatan Wuines.com jalan tol dianggap oleh masyarakat sebagai jalur utama untuk mencapai kota tujuan. Padahal jalur jalan tol seharusnya dianggap sebagai jalan alternatif untuk mendukung fungsi jalan nasional, provinsi, dan kabupaten.

Di Jawa terdapat ribuan kilometer jalan provinsi dan kabupaten yang relatif sangat memenuhi syarat untuk dilewati. Untuk mencapai Semarang sampai ke Banyuwangi dari Jakarta, Wuines.com melewati jalan tol Jakarta sampai Semarang, perjalanan ini relatif tidak mengalami hambatan karena berangkat dari Jakarta pada dini hari tanggal 11 Juni 2018. Jakarta sampai Semarang ditempuh dalam waktu 6 jam dalam termasuk istirahat beberapa kali.

Dari Semarang sampai Banyuwangi ditempuh dalam 11 jam perjalanan dengan kecepatan standard. Tol yang dilewati dari Semarang sampai Wilangan Nganjuk, lalu disambung Kertosono-Surabaya, Surabaya – Probolinggo yang belum selesai.

Perjalanan Wuines.com pulang dari Bali sampai Surabaya pada tanggal 18 Juni 2018 tidak mengalami hambatan meskipun tidak menggunakan jalan tol. Selanjutnya dari Surabaya ke Jakarta pun dilewati dengan nyaman.

Surabaya-Madiun-Sarangan-Tawangmangu ditempuh dalam 4 jam perjalanan lewat jalur non tol. Di tengah kemacetan Solo-Jogjakarta, menyusuri jalur Sukoharjo-Klaten lewat Pedan dilalui dengan lancar. Tengah malam perjalanan dilanjutkan dari Jogjakarta ke Gunung Telomoyo yang hanya ditempuh dalam waktu 1 jam 40 menit.

Perjalanan berikutnya dari Magelang menuju Jakarta. Rute alternatif yang dipilih adalah Magelang-Temanggung, lalu Wonosobo-Banjarnegara. Sampai di Purbalingga mengambil rute ke arah Pemalang, Randudongkal terus menyusuri Slawi-Pejagan. Dari Pejagan tidak mengambil jalur tol, melainkan mengarah ke Kuningan lewat Cidaho. Tidak ada hambatan kemacetan sama sekali.

Dari Kuningan, melewati jalan Beber, terus menghindari jalan tol ke arah Sumber Cirebon, terus ke arah Arjawinangun melewati Plered ke arah jalur Pantura sampai ke Karawang,Cikarang, Bekasi dan Jakarta. Tidak ada kemacetan horor seperti yang disampaikan oleh Habiburokhman.

Pandangan tentang jalan tol sebagai jalan alternatif, membuat perjalanan lebih efisien. Misalnya, biaya tol Jakarta-Probolinggo, dan Probolinggo-Jakarta yang mencapai kisaran Rp 1,200,000 bisa digunakan untuk tambahn membeli bahan bakar atau pengeluaran perjalanan lainnya.

Dengan cara pandang seperti itu, maka pemerintah pun akan terdorong untuk membangun jalan non tol – alias jalan tidak berbayar yang bisa diakses oleh seluruh pengguna jalan tanpa membayar. Pola pikir yang benar terkait jalan tol sebagai jalur utama harus diubah. Sebaliknya jalur jalan nasional, provinsi, dan kabupaten harus juga menjadi prioritas pemerintah untuk membangun. Itulah solusi cerdas menghindari perjalanan yang disebut secara kasar sebagai Mudik Neraka oleh politikus lucu Habiburokhman.