Moeldoko Bemper Komunikasi Politik Telat Masuk Istana, Paling Layak Dampingi Jokowi

0
Moeldoko dan Putri Tercinta

 

Ada satu hal yang menarik tentang Moeldoko. Dia menjelma jadi bemper komunikasi politik cerdas Jokowi. Tapi dia telat masuk ke Istana. Apa penyebabnya? Kenapa Jokowi menghamburkan 3,5 tahun dengan komunikasi politik yang amburadul? Ini dia jawabnya menurut Ki Sabdopanditoratu.

Bisikan Satelit Istana

Bisikan. Bisikan ke pemegang kekuasaan itu dibutuhkan. Jangankan untuk sekelas Presiden RI. Untuk kelas direktur perusahaan pun diperlukan. Satelit kekuasan di ring satu adalah keniscayaan.

Satelit kekuasaan sesungguhnya adalah the real power behind the president. Maka tak heran yang ada di satelit kekuasaan ini ibarat gula manis yang dikerubuti semut. Ujungnya mengarah kepada penempelan diri untuk urusan kekuasaan (akses ekonomi).

Contoh kasus kaitan satelit kekuasaan dan bisikan. Moeldoko telat masuk ke satelit kekuasaan disebabkan oleh bisikan. Resisten satelit kekuasaan yang membius – sekaligus mematikan Jokowi.

Jokowi sendiri adalah pribadi yang tidak gampang terpengaruh oleh bisikan. Yang menjadi masalah bagi Jokowi adalah ketika hanya muncul sedikit teman di Istana. Syukur dan untung ada sosok bemper untuk Jokowi.

Bemper Komunikasi Politik Jokowi

Sebut saja seperti Luhut Binsar Pandjaitan. Pun Jusuf Kalla kadang bermanfaat untuk pengamanan. Seperti ketika menarik Golkar ke gerbong Jokowi, sekaligus menghancurkan Koalisi Merah Putih. Di tengah kegagalan satelit kekuasaan masih ada politikus Pramono Anung dan Tjahjo Kumolo.

Di kementerian juga ada. Menteri Susi. Menteri SMI. Menteri Basuki Hadimuljono dari PUPR. Dan Ignasius Jonan. Mereka fenomenal. Meskipun sebagian mereka para orang yang pernah bekerja di bawah rezim SBY.

Semakin banyak suara digemakan. Maka yang menjadi pemenang adalah yang memiliki frekuensi terbanyak. Itulah makna komunikasi. Maka Ki Sabdopanditoratu pun didengar usulannya yang digelorakan sejak November 2017. Usulan terkait overhaul komunikasi politik Istana. Itu menjadi mutlak sebelum semua terlambat dan hancur.

Bagi Jokowi, out puts matter, hasil sebagai patokan keberhasilan. Bukan hanya cara, how dan who. How dan who sangat relatif. Tidak ada yang sempurna. Namun, hasil akhir alias out puts komunikasi politik yang menjadi penilaian. Dan, itu menjadi obyektif di mata Jokowi.

Pemahaman Jokowi atas Moeldoko

Kini Jokowi pun paham bahwa out puts komunikasi politik Moeldoko menunjukkan siapa sesungguhnya Moeldoko. Jokowi pun paham. Perbedaan sektoral dan faksional di militer, mantan Panglima TNI zaman SBY adalah kenyataan.

Jokowi melihat intrik-bisik di satelit kekuasaan. Maka wajar jika Jokowi bertindak di luar bisikan. Kecuali bisikan spiritualitas sekelas kesadaran dari yang Maha Tinggi. Wahyu hasil tapa brata. Tirakatan. Nir dunyo. Nir sambikolo, tentu. Ingat! Rasulullah SAW saja mendapatkan wahyu karena tahannuts alias bersemedi, bertapa di dalam Gua Hira. Islam diturunkan juga lewat tahannuts yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Maka terkait cawapres, Jokowi akan menentukan sendiri yang dia pilih. Jokowi memahami tekanan parpol seperti Airlangga Hartarto dan Cak Imin.  Juga manuver Jusuf Kalla, SBY, Anies Baswedan, dan Prabowo. Jokowi pun paham manuver itu masih kosong karena tanpa poros. Cair.

Kembali ke Moeldoko. Yang jelas, Jokowi paham tentang kapasitas Moeldoko yang jadi bemper politik dan kekuasaan Jokowi. Meski telat. Untuk jalannya pemerintahan dan ketenangan politik 2019-2014, Moeldoko adalah calon yang pas mendampingi Jokowi sebagai cawapres. Demikian Ki Sabdopanditoratu.