Ma’ruf Amin Ubah Arah JK, SBY, dan Konstelasi Politik Identitas

0

Prabowo-Sandi menantang petahana Jokowi. Tak disangka, Jokowi mengambil simbol tertinggi politik identitas. Ma’ruf Amin. Pengambilalihan alias akuisisi ini merusak seluruh strategi yang dibangun. Politik Indonesia berubah. Rancangan men-DKI-kan Pilpres 2019 surut. Itu karena pilihan mengejutkan Jokowi menunjuk Ma’ruf Amin.

Prabowo Kehilangan JK dan SBY

Kubu Jusuf Kalla bergeser dengan gerbongnya, Erick Tohir. Perpecahan tak terelakkan. Aksa Machmud dan Erwin Aksa tetap di kaki Prabowo.

Akibat gerakan di masjid menjadi kurang greget tanpa keterlibatan masif JK. Apalagi Budi Gunawan dipasang di urusan masjid, Dewan Masjid Indonesia (DMI). Ini menggembosi sepak-terjang politik identitas yang dibangun Prabowo.

Arsitek politik identitas SBY, juga menyesuaikan arah. SB pun gamang. Politik bermain di dua kaki diberlakukan. Sikap SBY ini menjadi salah satu tanda arah gerakan politisasi agama dan politik identitas yang didukung tidak 100% menjanjikan.

SBY paham Prabowo-Sandi bukan jaminan kemenangan. Instink politik penyelamatan SBY jelas mencontoh langkah JK yang bergabung dengan Jokowi-Ma’ruf Amin. SBY melihat masuknya Ma’ruf Amin mengubah seluruh kontestasi perang politik identitas.

Upaya mengangkat Sandiaga Uno menjadi ulama pun dipandang oleh SBY sebagai dagelan politik paling menggelikan. Bagi SBY, upaya mem-branding Sandi menjadi ulama menggantikan posisi Ma’ruf Amin adalah suatu tindakan konyol.

Aliansi dua kekuatan politik identitas DKI 2017 menyisakan SBY. Dia ditinggal JK dan galau. Penuh kebingungan. Maka dipastikan SBY tidak akan all-out mendukung Prabowo.

Perempuan Tolak Sandiaga Uno

Pemilih perempuan sangat menentukan. Kubu Prabowo ingin menghidupkan isu kesan citra. Ini persis seperti SBY di 2004. Ganteng. Yang menjadi masalah, pemilih perempuan sudah pada melek dan pintar.

Kenapa? Baik Sandi maupun SBY adalah produk gagal. Sandi gagal di DKI Jakarta (OK OC bangkrut). SBY menghasilkan ratusan proyek mangkrak seperti rumah hantu Hambalang.

Unggul Logistik dan Kemarahan Koruptor

Meski Prabowo kehilangan Golkar dan PPP, akibat 4 tahun tanpa amunisi bisnis dan proyek, lapar logistik mulai dirasakan. Logistik Prabowo tetap kuat. Sumber dana eks rezim SBY yang bercokol di pemerintahan Jokowi.

Selain itu tentu suasana batin para koruptor dan keluarga mereka pun tak bisa dianggap enteng. Kebiasaan birokrat korupsi (dengan ratusan PNS korup) yang dihambat oleh Jokowi membuat mereka marah besar.

Nafsu korup dan mencuri tertahan. Gerakan para begundal politik dan koruptor kelas maling teri ini akan menggerogoti suara di arus bawah.

Gerindra dan Prabowo pun juga mendukung dan didukung bekas napi koruptor seperti M. Taufik dan M. Sanusi misalnya. Ini amunisi yang menguatkan logistik Prabowo.

Islam Radikal Gerus Suara Prabowo

Hitam putih dukungan kepada Prabowo makin kentara. Prabowo-Sandi adalah representasi Islam garis keras. Islam bergaya Arabia semacam Rizieq FPI. Kalangan dukungan ini tidaklah besar. Mereka adalah kalangan minoritas suka berteriak kencang dengan melakukan pembesaran angka. Khas kelompok radikal.

PKS di Pilpres 2014 membesarkan dan mengklaim Prabowo menang. Justru dukungan Islam garis keras ini menggiring NU yang jumlahnya besar menjauhi Prabowo-Sandi.

Ditambah lagi, Neno Warisman, Ratna Sarumpaet, dan FPI serta HTI dipastikan akan menjauhkan warga NU dari Prabowo-Sandi.

Kesimpulan: Prabowo-Sandi Kalah

Akibat faktor Ma’ruf Amin, maka strategi yang dirancang Prabowo, SBY, kalangan Islam radikal, HTI, khilafah, PKS – bahkan keterlibatan JK – seperti di Pilkada DKI 2017 berantakan.

Gerakan masjid seperti sholat subuh berjamaah juga terhambat sosok Sandi yang tidak mewakili ulama. Sandi digambarkan sebagai ulama justru menjadi bahan tertawaan di media sosial dan kalangan santri. Maka kesimpulan dari uraian di atas, faktor Ma’ruf Amin membuat Prabowo-Sandi kalah di Pilpres 2019. Salam bahagia ala saya.