Logika Manusia-manusia Biner (Binary People Logic)

0

 

Tentu kita sudah akrab dengan istilah Bit (bytes)  yang merupakan singkatan dari Binary Digit , sering kita jumpai dalam dunia komputer , data , dan digital . Dunia digital dibangun dari konsep dasar biner, apa artinya ? Dalam sistem komunikasi digital modern , data dikirim dalam bentuk bit-bit ini ( Bytes – Binary Digit ). Bahasa sederhananya begini ,komputer misalnya,sebenarnya hanya bisa mengolah data awal hanya dalam bentuk dua angka saja , yaitu angka 1 dan angka 0. Kalau bukan angka 1 berarti angka 0 atau sebaliknya, bila 1 mewakili “yes” maka 0 mewakili “no”, kalau angka 1 mewakili “ON” maka 0 mewakili “OFF”.

Jadi logika biner ( binary logic) adalah logika yang paling sederhana , ibarat warna, logika biner hanya mengenal hitam dan putih . Kalau bukan warna hitam maka itu adalah warna putih , tidak dikenal warna lainnya. Kalau tidak “benar” maka dia “salah” ,tidak dikenal  istilah “kurang tepat “ , “agak salah” atau “agak benar” ….hanya seperti itu.

Cara berpikir biner (Binary Thinking )hanya benar diterapkan untuk komputer tetapi akan menjadi sangat keliru jika diterapkan pada dunia nyata (right for computers, wrong for the real world ). Masalah yang muncul dari cara berpikir biner adalah kecenderungan untuk juga membuat keputusan secara biner.

Namun sayangnya populasi kerumunan manusia dengan logika biner ini kian lama justru kian tinggi, dan tentu yang paling menjadi katalis adalah “politik” yang dibangun dengan penajaman dikotomi biner , sehingga memecah dua kubu menjadi kutub salah dan kutub benar menurut versinya masing-masing. Sifat alami manusia memang selalu mencoba menyederhanakan  dunia kedalam keadaan biner – baik dan jahat, teman atau lawan, dan sayangnya para politisi seringkali memperparah kondisi ini. Misalnya politisi A berpendapat bahwa kebijakan mereka adalah “hal yang benar untuk dilakukan”, sementara itu lawan mereka memiliki gagasan yang “salah”. Padahal sesungguhnya perang tidak hanya melibatkan “orang baik” dan “orang jahat”. Keputusan politik seringkali kurang tentang apa yang harus dilakukan daripada bagaimana melakukannya.

Dalam dunia digital ,kerumitan permasalahan yang harus dijawab menuntut pengembangan dari sistem biner ini. Bergantung hanya pada sistem logika biner semata tidak akan mampu menjawab permasalahan kehidupan yang kian kompleks. Lalu muncullah metode-metode pengembangan yang lebih mampu mengolah “variable” yang lebih rumit, lebih njlimet  bahkan mengandung kerelatifan. Sebut saja : Fuzzy Logic , Neural Network Theory , Probabilistic Reasoning , Genetic Algoritm dan mungkin terus akan muncul yang semakin canggih dari waktu ke waktu.

Dalam dunia nyata , dimana manusia memiliki variabel yang lebih kompleks tentu tidak bisa dan tidak mungkin bisa bertahan dengan mengandalkan logika sistem biner semata ? Bila bertahan , hasilnya bukannya masalah terjawab, malah  justru semakin ruwet dan tidak terpecahkan.  Lalu, jika komputer saja dalam meningkatkan kemampuan analisisnya terus mengembangkan sistem logic nya,maka dunia manusia yang nyata dengan berjuta masalahnya mau tidak mau tentu harus meningkatkan kemampuan analisis masalahnya lebih tinggi lagi dari sistem logika biner ini.

Orang-orang dengan logika berpikir biner biasanya akan sering menyatakan : “Kalo kamu dukung kubu sana maka kamu salah, dan aku di kubu yang benar. Sebaliknya lawan juga begitu,……..” Dan terus akan berdebat dengan menggunakan dua kemungkinan saja , benar dan salah. That’s black or white………..kayak lagu Michael Jackson

Apa langkah yang harus dilakukan ?

  1. Kita perlu keluar dari jebakan berpikir ala tombol ON-OFF , sisakan ruang untuk melihat kemungkinan kebenaran di pihak yang berbeda
  2. Memahami permasalahan dengan lebih detail untuk mengetahui variable-variabel yang harus diolah dengan benar, hal ini akan menguraikan banyak kemungkinan “kebenaran” baru maupun “kesalahan” baru dengan lebih teliti.
  3. Adil dalam berpikir , artinya kita berusaha menetralkan logika kita dalam menimbang benar dan salah , tanpa ada keberpihakan, sehingga bisa melihat peluang kebenaran atau kesalahan di pihak manapun.
  4. Berusaha berpihak pada kebenaran dan berpikir demi sebanyak mungkin kemaslahatan yang tercipta secara universal , bukan demi golongan per golongan yang kita bela. Mendukung nilai dan prinsip adalah tujuan utama , bukan pada nama, bukan pada bendera golongan atau kubu.

Hal ini akan menjadi sebuah lompatan ke depan yang sangat bermanfaat untuk kemajuan bersama , apabila setiap orang memulai dari dirinya sendiri dulu untuk bisa keluar dari jebakan mindset logika biner (binary logic mindset), kemudian menduplikasikan untuk keluarga dan lingkungan terdekatnya dan  menyebar kian luas. Lebih kita syukuri lagi apabila kalangan pelaku politik menjadi pelopor terciptanya iklim berpikir yang lebih arif dan keluar dari jebakan tombol ON-OFF yang sudah usang dan saatnya untuk diupdgrade.

Isti – Digital Worker