Keramahan Tulus Yusuf, Kunci Keberhasilan Pariwisata Bali

0
Yusuf Pelatih Surfing Kuta Bali

Gambaran keramahan seperti yang penulis alami bisa ditangkap dengan mudah di Kuta Bali, Legian dan wilayah wisata di Bali lainnya. “Oh Mister surfing here? My name is Yusuf?” sapa pemuda Yusuf dengan ramah pada penulis dengan bahasa Inggris beraksen Batak di Kuta Bali.

“Oh, Yusuf, bukan Made atau Ktut!” sahut penulis sambil tertawa.

“Mari duduk di sini, Bang! Santai saja,” sambutnya ramah.

Kuta adalah pantai wisata dunia sehingga kulit sedikit kuning dan coklat dari Thailand, Taiwan, Tiongkok bisa salah duga. Maka lebih amannya Yusuf, Made dan anak pantai lainnya menyapa dengan bahasa Inggris.

Kami berbagi dengan Yusuf dan anak-anak pantai lain dengan menyeruput kopi, jajanan, teh apel di tepi pantai Kuta pagi sambil menikmati pemandangan surfing pantai Kuta yang indah.

Ini bukan kali pertama penulis berinteraksi dengan anak-anak pantai Kuta. Sejak tahun 1990-an, sejak remaja telah merambah Kuta. Dan, atmosfer Kuta Legian tetap menawarkan aroma dan atmosfer yang nyaris sama.

Pariwisata adalah sektor paling murah untuk menciptakan pekerjaan. Sejak keputusan Menteri Perdagangan Rahmat Gobel yang menyetop peredaran minuman alkohol ringan seperti bir, dampak terhadap pariwisata dan perdagangan benar-benar terasa.

Destinasi wisata khusus kian menyempit dengan berbagai perda syariah yang digeber untuk menyuburkan politik identitas. Jogjakarta dan Jakarta terkena imbasnya di bidang wisata terkait turis baik lokal maupun mancanegara.

Bahkan belakangan istilah turis halal pun diluncurkan oleh politikus proxy Sandiaga Uno sebagai kampanye tipu daya politik penuh kebencian dan segregasi. Politikus merusak mata pencaharian rakyat dengan kampanye anti pluralisme, dan sektor wisata bisa kena dampaknya.

Pariwisata yang digerakkan harus memenuhi ekspektasi tinggi para wisatawan yakni tingkat pengalaman berwisata. Salah satu hal yang menonjol menariknya pariwisata adalah ketika destinasi tersebut memiliki tiga kemenarikan sekaligus. Pertama wisata alam, kedua wisata budaya, dan ketiga wisata belanja dan kuliner sebagai pelengkapnya, selain fasilitas dan akomodasi yang memadai.

Bali adalah magnet wisata Indonesia karena memiliki bangun kebudayaan dan peradaban hebat yang khas dan tidak dimiliki oleh dunia mana pun. Ini mirip dengan Thailand. Wilayah lain seperti Labuan Bajo, Tana Toraja, juga menarik namun tidak sehebat kemenarikan lengkap Bali.

Salah satu kontributor kemenarikan wisata adalah tingkat sadar wisata yang tinggi. Pengalaman pahit kehancuran ekonomi pernah mereka alami. Mereka belajar dari kehancuran ekonomi akibat Bom Bali I dan II. Bahwa ekonomi Bali ternyata 70% ditopang oleh kegiatan pariwisata.

Masyarakat yang terbuka dan toleran menjadi daya tarik. Karena sesungguhnya masyarakat sebagai pelaku pariwisata adalah obyek dan subyek yang sangat sentral dalam kehidupan pariwisata di suatu daerah. Keramahtamahan dan keterbukaan dalam menerima kehadiran wisatawan yang bukan dijadikan obyek pemerasan menjadi salah satu kunci keberhasilan Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Ramah dan nyaman meskipun kadang didominasi oleh orang Aussie, namun secara umum masih ditemukan keramahan para anak-anak pantai. Tak terkecuali kini penulis bertemu dengan Yusuf. Anak Kuta ini sungguh sangat ramah. Dia melayani dengan ramah.

Bahkan ketika ada kejadian anjing penjaga Blacky yang diganggu menggigit seorang peserta kursus surfing Indopurejoy, dengan sigap para penjaga pantai, Yusuf dan beberapa temannya mengantarkan ke dokter untuk pencegahan kesehatan.

Keramahan itu bahkan diberikan kepada siapa saja yang ada di sekitar wilayah Indopurejoy Surfing Club yang dikelola oleh Yusuf dan teman-temannya. Yusuf menghadirkan pengalaman berbagi informasi dan fleksibilitas.

Misalnya ada permintaan belajar kursus surfing yang 3 jam dengan break satu jam pun dilayani. Ini pengalaman yang luar biasa bagi tamu dan wisatawan asing dan lokal seperti saya.

Yusuf adalah perenda komunikasi antar bangsa lewat pelayanannya di Hostel Indopurejoy dan Indopurejoy Surfing Club di Pantai Kuta Bali.

Maka jika Indonesia ingin sektor pariwisata berkembang, dan Bali pada dua tahun belakangan ini mengalami pertumbuhan kunjungan wisatawan yang luar biasa, konsep kenyamanan, fasilitas, pelayanan, keamanan, keamanan spiritual harus disuguhkan ke wisatawan.

Pelaku wisata termasuk karyawan hotel, travel biro, guide, anak pantai, penjaga pantai, restoran, penerbangan, transportasi dan ujung tombak lainnya masyarakat luas harus meniru pelayanan seperti yang dilakukan oleh Yusuf di pantai Kuta. Peran pemerintah dalam mendorong regulasi dan ketentuan dengan program nyata, promosi yang baik akan mendorong berkembangnya pariwisata seperti di Bali. (Tim Wuines.com)