Kelas Menengah, Obyek Wisata Syirik, dan Borobudur Pernah Dibom

0

Saya terhenyak. Ada selebaran. Isinya daftar ratusan nama obyek wisata di Indonesia yang akan ditutup, karena tidak sesuai dengan keyakinan Wahabi, ISIS, dan Ikhwanul Muslimin. Karena mereka nilai syirik dan musyrik. Berhala.

Nalar saya tidak percaya. Namun, otak saya berputar. Jangan-jangan benar. Toh sudah terbukti Borobudur dibom, puluhan gereja, kantor polisi, kuil dibom.

Dari luar negeri, persekusi di Mesir di bawah rezim Ikhwanul Muslimin Mohammad Mursi dan khilafah ISIS nyata terjadi. Mereka mengeksekusi baik Muslim maupun non Muslim yang berbeda ideologi dengan mereka.

Apalagi, Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim tengah di persimpangan. Saya mendapatkan gambaran tentang kelas menengah, termasuk mayoritas Muslim, di Indonesia, yang bagi saya, meresahkan.

Saya begitu mencintai Indonesia seperti halnya mencintai anak-anak saya, keluarga saya, anak, suami, istri, nenek, kakek … Namun, peta politik sekarang menjadi tantangan yang begitu besar bagi kelangsungan hidup Indonesia.

Benar. Radikalisme tengah melanda kalangan menengah di Indonesia. Mereka cuek dan merasa aman berada di zona nyaman, merasa tidak terkait dengan politik.

Kenyamanan hidup mengurus anak, beristri dan bersuami, pekerjaan relatif mapan, dianggap menjamin kehidupan, siapa pun penguasanya. Hedonisme dibalut dengan keyakinan agama yang minim  jadi gaya hidup, akibat indoktrinasi model halaqah dan liqa.

Kekalahan Ahok di Jakarta tidak menjadi pelajaran bagi kalangan menengah. Kekalahan Ahok akibat mereka menyerahkan nasib ke HTI, PKS dan kelompok radikal seperti FUI. Kelompok radikal meski kecil, mereka solid, hingga mengalahkan kelompok yang sebenarnya lebih cocok untuk kalangan menengah. Rasional. Mapan.

Bahkan, kalangan menengah Muslim (seperti Imam Samudera misalnya) banyak yang terpapar radikalisme, sejak mereka di SMA dan perguruan tinggi. Indoktrinasi pemahaman agama secara parsial, rasialis, intoleran, dan pandangan takfiri, membuat mereka merasa benar sendiri.

Pemahaman agama yang minim dan terbatas, adalah tujuan Ikhwanul Muslimin dan Wahabi, yakni membangun radikalisme dan fanatisme agama yang manipulatif. Bahkan pakaian, seperti hijab, burqah, koko, gamis kedodoran, menjadi identifikasi dan ciri mereka. Ciri busana dianggap bagian integral iman. Tingkat iman tertinggi.

Dalam Pilpres 2019, kalangan kelas menengah di Indonesia, sesuai survei, ternyata memilih netral, apatis, tidak peduli, hidup nyaman, kerja normal, bisa menikmati hedonisme, dan bisa travelling. Kenikmatan yang sebentar lagi bisa lenyap seperti yang dialami warga kelas menengah di Suriah.

Hoaks yang tersebar dianggap bukan urusan mereka, sama dengan di Suriah, tidak mau terlibat memerangi. Mereka mencari aman, mereka berpikir tidak mungkin merubah nasib menjadi lebih baik, karena hidup sudah nyaman.

Sikap cuek dan merasa tidak akan terpengaruh pilihan politik, bahkan golput menjadi kebanggaan, yang sebenarnya adalah kebodohan. Mereka tidak paham bahwa pucuk Presiden RI, akan menentukan kebijakan, bertindak atas nama mereka, kalangan menengah juga.

Mereka gagal paham, jika penguasa berselingkuh dengan HTI, khilafah, maka dipastikan kehidupan nyaman mereka terenggut. Nasib dan kehidupan anak-anak mereka yang manis dan cantik akan digadaikan kepada penguasa lalim seperti ISIS.

Maka daftar selebaran yang saya anggap hoaks tersebut bisa menjadi benar adanya. Banyak obyek wisata bersejarah seperti Prambanan, pantai indah, situs wisata bersejarah yang dianggap musyrik dan syirik, seperti Monas yang melambangkan Lingga, oleh ISIS pasti akan dibumi-hanguskan. Ingat, Borobudur pernah dibom.

Mencintai travelling, nak-anak keluarga kelas menengah bisa jadi tidak akan pernah melihat Borobudur, Prambanan, Petirtaan zaman Raja Airlangga di Jolotundo dan Candi Belahan.

Bahkan pantai-pantai akan ditutup seperti menutup aurat. Tidak ada lagi Kuta. Tidak ada lagi Lombok. Semua ditutup atas nama ideologi Wahabisme, ISIS, dan khilafah.

Kebudayaan dan peradaban Indonesia akan dihancurkan oleh penguasa yang mencintai unta, bukan komodo, sebagai lambang fauna mereka. Dan, anak-anak perempuan kelas menengah yang tidak berhijab, atau yang memakai celana jeans akan dipenggal kepala mereka, jika penguasa berselingkuh dengan ISIS, IM, dan Wahabi. Indonesia bisa menjadi seperti Suriah, jika kelas menengah lengah.

Tidak memilih atau golput sama saja dengan menggadaikan anak-anak kita di bawah kekuasaan khilafah, Ikhwanul Muslimin, HTI dan Wahabi. (Penulis: Jonas Asmara – Pengamat Politik Internasional)