Jungkalkan Prabowo Lagi, Jokowi Sekelas Macron dan Merkel

0

Bolehlah saya memberikan catatan, tentang Pilpres 2019. Tujuan saya, agar publik paham. Paham tentang pertarungan yang luar biasa. Tentang intrik dan strategi kampanye. Tentang kemenangan Jokowi, dan tentu kekalahan Prabowo-Sandi.

Pilpres 2019 adalah pemilihan presiden paling spektakuler di Indonesia, dalam sejarah Republik. Pertama, Pancasila diuji kesaktiaannya. Selama 30 tahun Indonesia dirusak oleh Khilafah dalam bentuk pengajian, liqa dan halaqah. Tujuannya merobohkan Pancasila, NKRI. Untuk diganti dengan sistem kejahatan khilafah seperti ISIS.

Populisme dan Post Truth

Bagaimana tidak spektakuler, di berbagai belahan dunia tengah terjadi gerakan nasionalisme ala Trump. Tengah terjadi politik populisme. Politik, dan kampanye politik,lewat media sosial, dengan fitnah dan hoaks sebagai alat. Strategi yang sukses di Brexit, di Austria, Italia. Kaum militan ekstrim kanan menang.

Mereka penduduk di negara maju pun bisa termakan oleh kebohongan. Katanya mereka melek pendidikan, namun yang mereka tunjukkan adalah kepicikan, kebodohan, dan ketololan. Mereka memilih politikus bermulut dan berjempol setan. Nigel Farage, Boris Johnson, Sebastian Kurz, dan Trump.

Mereka mengajarkan kebencian, kebohongan. Mereka mengangkangi dan menisbikan nilai-nilai kebenaran kemanusiaan. Nilai agama, sosial, kebenaran bagi mereka tidak penting. Yang penting adalah meraih kekuasaan. Strategi kampanye yang mengadopsi ideologi baru Post Truth.

Post Truth. Suatu ideologi yang dipakai strategi kampanye yang sukses di negara yang katanya maju. Di negara miskin bangkrut seperti Brazil pun, strategi hoaks, fitnah, meraih sukses. Bolsonaro menang. Rakyat miskin Brazil terbodohi oleh strategi Rob Allyn, yang menggunakan fitnah di media sosial dan kebohongan sebagai alat kampanye.

Tagar 2019 Ganti Presiden

Produksi kebohongan marak. Andi Arief soal kontainer kertas suara. Kasus kebohongan Ratna Sarumpaet. Kebohongan Pemilu di Selangor. Mereka akan memaksakan kemenangan, harus menang. Meski kalah. Semua ditujukan untuk mendelegitimasi pemilu. Kalau perlu mereka akan makar.

Hal ini ditambah lagi dengan tagar dua tahun sebelum Pilpres, 2019 Ganti Presiden. Karya Mardani ini fenomenal. Kuat. Namun bercacat. Cacat psikologis karena produksi PKS. Gerakan ini menimbulkan reaksi balik kaum nasionalis. Karena PKS adalah partai yang dekat dengan khilafah, dengan Ikhwanul Muslimin, dengan ISIS – sebagaimana Anis Matta dan Tifatul Sembiring bersimpati kepada organisasi teroris ini.

Kaum nasionalis bangkit. Kaum ekstrimis, HTI, khilafah pun bangkit. Timbul reaksi, aksi. Polarisasi politik mengental. Kondisi ini dianggap menguntungkan Prabowo. Kenapa?

Prabowo meyakini, kesatuan khilafah dan nasionalis, seperti yang disebut oleh provokator Rizieq, dianggap sempurna. Kemenangan tinggal menunggu waktu. Bisa dibayangkan SBY, PAN, PKS, khilafah, HTI, FPI bergabung yang menjadi gerombolan yang sangar, menakutkan.

Bangkitnya NU dan Minoritas

Nah, kaum nasionalis pun bergerak melawan. NU yang terancam bergerak. Militan 65% warga NU masih waras. Alhamdulillah. Kaum minoritas yang akan menjadi sasaran pembunuhan ala ISIS bangkit. Kaum minoritas etnik dan agama bangkit. (Jokowi berhutang hanya pada NU dan kaum minoritas etnik dan agama.)

Hasilnya, pemilu 2019 sukses besar. Akibat polarisasi. Sebanyak 81% warga ikut memilih. Tujuannya demi membela khilafah (yang termakan dan makan hoaks) dan membela NKRI (pembela Pancasila dan kebenaran kemanusiaan).

Anak Cucu Terancam Khilafah

Serangan hoaks terhadap Jokowi di Jawa Barat masif. Upaya merayu pemilih di Sumbar, NTB, dan Aceh, gagal membebaskan dari kungkungan indoktrinasi door-to-door PKS dan para pembuat fitnah, organisasi teroris, khilafah. Bahkan banyak caleg Golkar malah mendukung 02, demi mengamankan kursi DPR dan DPRD. Caleg takut mengampanyekan Jokowi.

Namun rakyat waras, anak cucu terancam oleh radikalisme, intoleransi, kekerasan dan persekusi. Rakyat bangkit. Mereka urunan, bahu membahu secara pribadi bergerak, mempertahankan nilai-nilai Pancasila. Hasilnya? DKI menang. Jawa Barat tidak bergeser.

Suara Jokowi di Jawa Barat bertahan. Ini karena operasi micro-targeting cerdas yang banyak orang tidak paham. Mereka bekerja berdasarkan data, fakta, elektabilitas, kearifan lokal, mampu membaca lebih teliti, hikmat.

Kemenangan Spektakuler

Jokowi menang melawan nasionalisme palsu. Populisme yang menghalalkan segala cara, fitnah dan hoaks. Rakyat Inggris gagal membendung Nigel Farage dan Boris Johnson sang pembohong.

Kini, Jokowi sejajar dengan Emmanuel Macron dan Angela Merkel. Hebatnya, Jokowi berhasil menjungkalkan gerakan khilafah. Sekaligus membuat Prabowo-Sandi babak belur. (Penulis: Ninoy Karundeng).