Jokowi Timbang Moeldoko Sebagai Cawapres Antidot Prabowo-Anies

0
Moeldoko Jenderal Penyayang

Publik masih bingung terkait cawapres pendamping Jokowi. Unpredictable adalah ciri khas mantan tukang mebel itu. He listens well, yet he decides his very own way – his rational and spiritual ways. Maka ada beberapa pertimbangan yang menentukan pilihan di mata (baca: hati) Jokowi. Dan, Jokowi pun menimbang Jenderal Moeldoko sebagai cawapres antidot Prabowo-Anies.

Yang pasti, Jokowi menunggu sampai detik terakhir untuk mengumumkan cawapres. Ini penting untuk menghindari manuver poros ketiga yang dibangun oleh SBY dan JK.

Data, Fakta, dan Catatan

Jokowi selalu percaya dengan data, catatan. Track records, pengalaman. Catatan pribadi. Kelebihan dan kekurangan selalu ditimbang dengan kuat.

Contoh terkait peristiwa. Jokowi paham tentang Sudirman Said, Said Didu, RJ Lino dan bahkan Jusuf Kalla. SS sejak awal adalah proxy skondan Jusuf Kalla. SS juga terkait persaingan dan persahabatan dengan Petral dan keluarga Soemarno. Dunia minyak terkait kuat dengan Reza Chalid, dengan Hatta Rajasa, dengan pengalaman lebih luas tentu Om Tommy cs di Cendana.

Contoh tentang angka. Disorongkan oleh PDIP, Jusuf Kalla diyakini saat itu diyakini akan memberikan sumbangan suara. Angka suara Jokowi-JK di 2014 di Jabar, Jateng, Jatim, Sulsel, Sumut nyaris sama dalam test pra Pilpres 2019 berjudul Pilkada Serentak 2018.

Bersih dari Oportunisme

Golkar adalah partai paling berpengalaman. Kroni 52 tahun (yakni 32 tahun di bawah Presiden Soeharto plus 20 tahun reformasi) cukup membuat Golkar mengakar. Semua napas adalah napas Golkar.

Namun Jokowi paham Golkar tidak bisa menjadi kontributor suara dari kalangan keluarga TNI/Polri dan militer. Dapat dipahami sesungguhnya Golkar membutuhkan sosok kuat, meskipun dari luar partai.

Jokowi paham Golkar sulit mendulang suara kalangan swing voters. Pengalaman pilpres 2004, 2009, dan 2014 cukup. Golkar bukan penentu utama kemenangan. Sosok Kalla yang maju sendiri didukung Golkar malah kalah.

Tentu Jokowi ingat, Golkar 2014 resmi mengusung Prahara (Prabowo-Hatta). Namun, dukungan itu gagal memenangkan Prahara. Karena sosok JK dan Jokowi yang dilihat pemilih. Bukan Golkar-nya. Hal yang sama terjadi sekarang.

Survei Keamanan dan Ketenangan

Jokowi paham Prabowo di 2014 membawa isu keamanan. Propaganda Prabowo sebagai benteng NKRI berhasil. Prabowo dianggap tegas.

Rakyat masih tetap menginginkan sosok nasionalis, militer. Salah satu indikasinya adalah adanya kerinduan akan kehadiran sosok eyang Presiden Soeharto di kalangan rakyat jelata (bukan aktivis).

Persekongkolan Pilkada DKI

Di tengah peta politik kebangkrutan Prabowo, maka SBY dan kroni rezimnya bisa menjadi kasir bagi para  politikus. SBY tetap menjadi penentu.

JK dan Jokowi sekali pun sangat menyadari itu. Namun, SBY masih menunggu-nunggu pada detik terakhir. SBY menunggu langkah PDIP. Padahal langkah SBY ini ditunggu oleh Jokowi.

Faktor SBY dan JK ini sudah dibuktikan di pilpres 2014 dan pilkada DKI 2017 lalu. Manuver JK lari dari Golkar persis seperti 2004 dan 2014. Dia menang meski tidak didukung Golkar.

Di Pilkada DKI 2017 persekongkolan JK, Islam radikal dan SBY berhasil mengantarkan Anies Baswedan. Kini akan mendampingi Prabowo.

Diskusi Alot PDIP dan Parpol Pengusung

PDIP sejatinya pengusung Jokowi. Tentu parpol pengusung lain berkepentingan ngebet menyodorkan posisi cawapres. Jokowi menjadi sasaran lobi bersama dengan PDIP. Aliansi partai pengusung seperti NasDem, Hanura, PPP tampak lebih tenang. Golkar dan PKB paling volatile terkait posisi cawapres.

Faktor Pendongkrak Suara

Jokowi pun memerhatikan bahwa calon yang cocok menjadi pendampingnya adalah yang bisa mendongkrak suara. Mirip JK. Masalahnya JK diyakini tidak lagi di gerbong Jokowi, meski selama 5 tahun bersama Jokowi dia diuntungkan dari sisi bisnis.

Melihat sosok Anies Baswedan sebagai cawapres Prabowo, maka tokoh Islam seperti TGB, Mahfud MD menjadi pertimbangan. Namun, posisinya beririsan dengan NU, Muhammadiyah, tetap tidak bisa merebut suara swing voters. Pun bersinggungan dengan PPP, PKB, yang mewakili Islam.

Jenderal Moeldoko Antidot Prabowo-Anies

Lalu siapa tokoh yang bisa mendampingi Jokowi yang (1) tegas, (2) menjamin rasa aman, (3) santun, (4) santri, (5) cerdas, (6) memiliki jaringan luas di akar rumput (7) bisa merebut suara TNI/Polri – seperti kasus Pilkada Sumut dan Jabar yang didukung keluarga militer di grass roots, selain aktivasi operasi PKS?

Apalagi dipastikan Prabowo-Anies, JK, SBY dan para pelawannya akan menggunakan isu SARA seperti di Pilpres 2014, dan Pilkada DKI 2017. Catatan penting pula, di Pilkada DKI Jakarta mesin partai tidak berjalan. Maka tak ada pilihan bagi Jokowi selain mencari antidot Prabowo-Anies. Demikian the Operators.