Jokowi Periode II, Jeblog atau Legacy Gemilang

0

Jokowi Periode II ditunggu-tunggu. Harap-harap cemas. Para pendukung Jokowi menginginkan keberhasilan lanjutan. Melambung harapan bangsa. Pembangunan infrastruktur berhasil, kondisi ekonomi stabil, keamanan yang terjaga, telah Jokowi ciptakan. Semua itu untuk kemajuan bangsa.

Sementara, penentang Jokowi terus melakukan segala upaya, seperti masa 4,5 tahun belakangan. Fadli Zon, Mardani, Neno, Sarumpaet, Hidayat Nur Wahid, Amien Rais, tetap lestari. Kenapa? Mereka kalah. Kalap. Mata hati telah ditutup oleh nafsu birahi kekuasaan. Rakus kekuasaan menyesatkan nalar umum politik.

Maka Jokowi II jadi pertaruhan. Akan jadi titik balik munduR (set back) atau titik luncur (acceleration) penting baginya? Dan, Indonesia. Antara dia menjadi tonggak keburukan? Atau, legacy gemerlap? Pilihan sebagian besar ada di dirinya.

Titik Balik Mundur

Menjadi mandeg, mundur jika Jokowi gagal menjadi dirinya sendiri. Kemunduran bisa terjadi jika dia kalah melawan partai. Atau, Jokowi mengabdi kepada kepentingan pribadi-pribadi tertentu. Seperti juga melakukan pembiaran, mencari selamat. Membangun legasi palsu. Dengan merangkul semprul yang misal selama ini menghambat akselerasi legacy Jokowi.

Kisah SBY selama 10 tahun cukup jadi pelajaran bagi Jokowi. Mendapatkan dukungan mayoritas parlemen, mendapat dukungan rakyat, termasuk kalangan radikal seperti FPI, sehingga tidak berisik, SBY gagal membawa amanat. SBY gagal karena ambisi keluarga dan teman-teman. Kroni. Partai. Selain dirinya yang memang peragu, secara pribadi.

SBY bernafsu memberi subsidi kepada orang kaya. Dia berpura-pura bekerja, penuh pencitraan. Itu membuatnya terpuruk. Gagal. SBY menjadi tonggak 10 tahun pemerintahan yang menumpuk hutang. Namun tanpa monumen kinerja yang gemerlap. Bahkan salah satu tonggak legacy adalah Monumen Hambalang. E-KTP.

Selain itu, masa 10 tahun SBY ditandai oleh kelanjutan perampokan kekayaan melalui lingkaran kekuasaan SBY. Lewat Petral. Banyak yang diuntungkan. Seperti Muhammad Riza Chalid, bahkan kroni Cendana pun, nyaman di bawah ketiak kekuasaan SBY.

Jokowi Warisi Derita Gus Dur

Jokowi sebenarnya mewarisi kisah Gus Dur. Gus Dur dihujat dan diturunkan oleh Amien Rais karena Gus Dur berkomitmen merombak sruktur korup Indonesia. Gus Dur menegakkan hukum. Bertindak tegas terhadap Pangeran Cendana. Om Tommy pun dipenjarakan. Bahkan Hakim Agung Syafiudin Kartasasmita pun dibunuh oleh Tommy. Lewat timah panas pistol yang disentak oleh telunjuk Tommy. Bahkan kasus Akbar Tandjung pun Gus Dur saat itu akan mengejar.

Seperti Gus Dur, Jokowi menjadi bahan ejekan. Karena banyak yang dirugikan. Lebih parah ancaman politik terhadap Jokowi. Namun, lima tahun pertama kepemimpinan Jokowi telah menunjukkan ketegasan. Luar biasa. Siapa berani membubarkan Petral? Siapa berani menentang hegemoni orang-orang kaya terkait kroni 30 tahun Cendana? Plus kroni 10 tahun SBY. Jokowi.

Maka Jokowi periode I (dan Jokowi II) adalah kesulitan luar biasa. Tentangan makin menjadi-jadi. Karena dia berani menghancurkan akar terorisme. HTI. Radikalisme yang dibangun oleh penganut khilafah. Masa 30 tahun pembinaan khilafah didisrupsi, diganggu, ditahan, dan dikubur organisasinya. Oleh Jokowi.

HTI, simpatisan radikalisme, FUI, FPI bergabung dengan Prabowo. Mereka haus kekuasaan. Mereka berkolaborasi untuk saling ditunggangi, dan, menunggangi. Kaum Khilafah sadar. Hanya lewat Prabowo mereka bisa hidup kembali.

Sementara Prabowo paham, hanya dengan kombinasi nasionalis dan kaum radikal berbasis agama, Prabowo bisa menang. Itu ajaran sesat politik ala Rizieq yang dipercaya Prabowo.

Kaum radikal dan Prabowo menemukan common enemy: Jokowi. Hoaks, fitnah, dan berita palsu diproduksi. Itu menjadi alat untuk mendelegitimasi pencapaian, pembangunan, pekerjaan Jokowi.

Titik Luncur Indonesia Maju

Sebaliknya, Jokowi II akan sukses jika dia tetap pada rel positif. Dia mengabdi bagi bangsa Indonesia. Karena, sesungguhnya Jokowi II dihadapkan pada persoalan yang sama. Tentangan seperti yang saya paparkan di atas. Namun, tantangan Jokowi II jadi makin berat.

Jokowi harus berani merombak kabinet. Dia tidak memerlukan Tim Transisi. Apa yang akan ditransisikan? Jika ada, Tim Transisi itu hanya akan menjadi ajang nego-nego kekuasaan, bagi-bagi kue ekonomi. Jokowi pun paham pengalaman 2014. Cukup.

Menteri melempem harus dibuang. Contoh Menteri Kesehatan. Sementara menteri yang bagus silakan pakai. Susi Pudjiastuti, Basuki Hadimuljono, Retno Marsudi, Sri Mulyani, LBP memang paten. Perombakan kabinet dilakukan untuk mempercepat pekerjaan. Tidak perlu basa-basi. Langsung tancap gas, bahkan sebelum dilantik di periode II. Langsung bekerja. Itu menjadi jaminan Indonesia maju.

Dengan demikian, kinerja yang moncer akan meninggalkan nama besar bagi Jokowi. Legacy gemerlap itu kini ada di tangan Jokowi. Dengan, tentangan yang tidak kalah besar. Untuk itu, ketegasan, integritas, dan independensi Jokowi menjadi dirinya sangat perlu. Jika gagal mengelola diri, Jokowi niscaya hanya akan menjadi monumen seperti SBY. Gagal. (Penulis: Ninoy Karundeng).