Jokowi-Ma’ruf Kalah, Perspektif Pendukung Prabowo-Sandi

0

Benar. Ma’ruf Amin. Kejutan yang dibuat oleh Jokowi adalah karena tekanan kuat segelintir politikus. Analis pro Jokowi dengan sigap menyebut kecerdasan politik Jokowi kembali terbukti. Analis lain menyebut Jokowi memilih Ma’ruf Amin adalah upaya meredam isu SARA. Juga peredaman isu serangan pribadi ke Jokowi sejak 2014. Namun, perspektif para pendukung Prabowo melihatnya dengan cara berbeda.

Pilihan Jokowi terhadap Ma’ruf Amin dinilai oleh sebagian pendukung khilafah sebagai kompromi politik strategis Jokowi. Jokowi yang diserang oleh Ma’ruf Amin beserta kelompok PKS, Rizieq Shihab FPI dan HTI dengan sigap menggandeng Ma’ruf Amin. Tenang.

Drama tekanan terhadap Jokowi di jam-jam terakhir penyingkiran Mahfud MD begitu dramatis. Selentingan pelibatan Said Aqil Sirodj, Cak Imin, kalangan Din Syamsuddin beredar. NU dianggap sebagai pilar kemenangan utama Jokowi.

Namun faktanya adalah kaum nahdliyin ada di semua partai dan kelompok kecuali PKS dan PAN. Dengan menetapkan Ma’ruf dianggap perang telah usai. Jokowi pasti menang. Nanti dulu. Bagi anti Jokowi berbeda pandangan.

Bagi kalangan anti Jokowi, penetapan Ma’ruf Amin justru memberikan kekuatan kepada Prabowo. Anasir yang bermain di dua kaki mendapatkan tempat di kubu Jokowi. Banyak yang bisa bermain. Partai bisa melempem tanpa roh.

Golkar dianggap pecah oleh Fadel Muhammad. Masuknya Ma’ruf tidak serta-merta memuaskan Golkar – yang semula telah sepakat dengan Jokowi untuk mengangkat para calon yang beredar, Mahfud MD, Moeldoko, dan Ma’ruf Amin sendiri. Namun Golkar tidak menyangka Ma’ruf Amin yang jadi cawapres.

Analis pendukung Prabowo pun berkaca pada Pilpres 2014, Prahara yang didukung oleh mayoritas partai termasuk Golkar, Demokrat, PAN, PKS dan sebagainya gagal menang. Penyebabnya adalah kegagalan Prabowo mengendalikan isu dan materi kampanye. Penjerumusan menggoreng isu SARA saat itu menghasilkan rebound consciousness (kesadaran kembali muncul). Prabowo-Hatta kalah.

Kondisi seperti itu bisa terjadi terhadap Jokowi-Ma’ruf Amin. Kekalahan terjadi akibat pembajakan dan konflik internal para partai pendukung terjadi. Atau, soliditas dan kinerja partai bobrok. Persis seperti pengalaman ketika PKS, Demokrat dan para partai pendukung Prabowo mesin politik partai tidak jalan. Macet.

Analisis lainnya adalah penetralan isu SARA oleh Jokowi dengan menggandeng Ma’ruf Amin tidak akan mengubah kampreters berubah menjadi cebongers. Polarisasi dukungan nyaris tidak berubah. Buktinya? Neno Warisman, Rizieq FPI, Amien Rais, Sarumpaet, Gerung, dan HTI yang dulu gempita mengelu Ma’ruf Amin tetap tidak berbalik mendukung Jokowi-Ma’ruf. Justru dari kalangan Ahokers guncang. Kecewa. Contoh Birgaldo Sinaga.

Terkait kalangan milenial. Kalangan milenial lebih cenderung menyukai Sandiaga Uno yang muda, bukan opa-opa. Kalangan milenial dianggap akan pro Prabowo-Sandi meskipun data sementara survei SMRC menunjukkan sebaliknya.

Kondisi ini ditambah dengan dukungan Demokrat – yang tidak sepenuhnya all out – karena Agus Harimurti Yudhoyono tidak menjadi kandidat cawapres. Demokrat memiliki uang dan logistik paling mumpuni. Belum lagi ditambah militansi PKS – meski kedodoran di logistik. PAN dan Gerindra memiliki massa militan. PAN berbasis Muhammadiyah. Gerindra kalangan nasionalis. Partai-partai gurem lain seperti PBB dan lain-lain bisa menjadi pelengkap suara.

Kaburnya Ma’ruf Amin dari gerakan radikal – dengan digandeng oleh Jokowi – tidak serta-merta membuat pendukung HTI mengikutinya. HTI dan pendukung khilafah masih bersetia kepada mimpi kemenangan di Pilkada DKI Jakarta 2017. Dan, tentu isu SARA yang akan diusung.

Media massa baik online maupun cetak serta elektronik pun masih diyakini berpihak kepada Prabowo-Sandi. Ini terlihat dari cara penyajian media yang cenderung tendensius. Ini disebabkan oleh para awak media yang telanjur berada dalam kubu seperti di 2014 – keberpihakan yang tetap terpolarisasi. Sementara pemilik media kurang memerhatikan.

Dari gambaran di atas maka para pendukung Prabowo-Sandi dengan penuh keyakinan akan memenangi Pilpres 2019.