Istana, Jokowi Selamatkan Ma’ruf Amin

0

Bukan Jokowi kalau tidak sederhana, namun fenomenal. Jokowi berhasil menyelamatkan KH Ma’ruf Amin (KMA) dari keterpurukan nasib. Loh kok? Penggangas kolaboratif Fatwa MUI KMA dan Rizieq yang menjungkalkan Ahok – yang senyatanya mengarah ke penjatuhan Jokowi – berhasil diselamatkan. Tak terbayangkan kondisi politik saat ini, jika Jokowi menggandeng orang lain selain KMA.

Jokowi secara brilian memanfaatkan keberadaan KMA. Itu diambil setelah melalui proses peredaman oleh Istana yang dipimpin salah satunya yang kelihatan di publik, Luhut B Pandjaitan pasca 212. KMA harus ditarik, diselamatkan dari radikalisme yang dia ciptakan. Saat itu tidak terbersit dalam diri Jokowi untuk menjadikannya cawapres.

Oleh sebab itu, di sekeliling Istana, ketika terjadi berbagai isu miring, Jokowi tetap berdiri tegak. Dekat dengan Luhut B Pandjaitan sudah lama, sejak sebelum jadi Walikota Solo. Kemunculan LBP di Istana juga karena kebetulan dia dibutuhkan untuk agar Jokowi tetap berkarakter sebagia Mulyono.

Di sekeling Jokowi juga orang yang itu-itu saja. Hampir tidak berubah. Ketika ada orang baru politik seperti Teten Masduki LSM, Andi Widjajanto sosok para titipan politikus, ya njeblug. Kenapa? Jokowi membutuhkan orang yang memberikan manfaat bagi banyak orang.

Jokowi adalah politikus yang apolitik. Dia paham politik, namun baginya politik harus memberi manfaat kepada publik, rakyat. Politik sebagai politik, apalagi memolitisi dan manipulasi politik, Jokowi sangat membenci perilaku seperti itu.

Namun, ketika Jokowi harus bertindak tegas, dia akan bersikap. Dia bisa menjelma menjadi politikus ulung. Rasional. Insting kuat. Mau mendengarkan, tetapi tetap berprinsip. Itulah maka koruptor, orang terkuat di Indonesia, Setya Novanto menyebutnya: kopeg, keras kepala.

Contoh. Penentuan cawapres Jokowi. KH Ma’ruf Amin. KH Ma’ruf Amin adalah politikus sejati. Dia berbaju ulama. Iya. Namun darah politiknya lebih kental. KMA ini berkolaborasi dengan Rizieq FPI untuk menjungkalkan Ahok. KMA adalah tokoh penting penjungkalan Ahok selain Rizieq, dan tentu penggerak - dengan segala kompornya, provokasinya: SBY.

Jokowi dihadapkan pada pilihan politik. Untuk melawan politik identitas Prabowo 2019, dengan pelajaran kekalahan Ahok melawan Anies, orang terdekat Jokowi menunjuk beberapa pilihan. UAS, TGB, Ridwan Kamil, dan KMA. Jokowi menimbang. Di sinilah kejutan Jokowi sebagai politikus muncul. Sangar.

Bagi Jokowi, untuk melawan politik identitas, hanya dengan politik identitas. Artinya? Kiai Ma’ruf Amin yang harus bertanggung jawab untuk politik identitas yang dia bangun, lewat Fatwa MUI bersama Rizieq Shihab. Maka KMA pun dia pangku mati. Jokowi memangkunya menjadi orang di menara gading. Tinggi dan diam di situ manis.

Hasilnya? KMA menjadi benteng dan bermanfaat untuk menarik dukungan mayoritas NU. Instink Jokowi tentang kontestasi politik NU dengan khilafah dan Islam radikal tepat. NU berhadapan dengan khilafah. Mayoritas warga NU terancam oleh khilafah. KMA bisa menjadi corong penghambat hilangnya suara dari NU.

Dengan Jokowi mengadu dan menantangkan NU versus khilafah, khilafah versus NKRI, FPI versus nilai-nilai moderat, Prabowo versus Pancasila at stake. Jokowi berhasil membendung gerak 100% yakin menang Prabowo. Prabowo dengan gerbong radikalis, FPI, PKS, eks HTI dan khilafah kalah. Strategi Prabowo dilindas oleh perhitungan matang dan instink politik Jokowi.

Tentang karakter, ambisi dan sifat Jokowi, banyak yang tidak paham. Jokowi tentu memiliki ambisi kuat dalam merebut kekuasaan, Presiden RI. Hanya orang tolol yang tidak ingin menjadi presiden ketika situasi memungkinkan. Namun, bagi Jokowi, ambisi dan kekuasaan itu untuk rakyat. Ya, rakyat. Karena dia tumbuh dari kesederhanaan, bukan disuapi dengan sendok dan garpu perak.

Nah, KMA menjadi kartu positif bagi Jokowi. Jokowi berhasil membungkam musuh-musuh politiknya – yang dia sendiri kadang tidak mengambil sikap instruksi langsung. KMA yang sebelumnya sangar, berubah menjadi anak manis yang berdiri di menara gading – seperti yang dia inginkan. (Penulis; Ninoy Karundeng).