Isi Otak Irwan Prayitno, PKS, Ormas Harimau Nan Salapan

0

Membaca omongan Irwan Prayitno tentang Pilpres 2019, saya mengernyitkan dahi. Mikir. Pegang kepala. Muncul pertanyaan. Bagaimana kondisi mental state of Irwan Prayitno? Waras? Sehat? Cerdas? Pintar? Itu pertanyaan saya. Mungkin jutaan orang Indonesia juga ingin tahu. Apa isi otak Irwan Prayitno? Untuk itu kita bedah. Bukan otaknya. Namun, bedah sejarah. Yang memengaruhi otak Irwan Prayitno.

Orang Minang pintar. Banyak cerdik pandai lahir di Ranah Minang. Agus Salim. Emil Salim. Buya Hamka. Buya Syafei Ma’arif. Archandra Tahar. Merdi. Uda. Heri. Untuk menyebut sebagian. Lalu apa yang salah pola pikir dan nalar dengan orang Minang? Apa latar belakang subyektif mereka? Apa catatan unik mereka. Sehingga mereka, salah satunya membenci Jokowi.

Salah satu kisah yang melatarbelakangi pilihan subyektif mereka, contohnya adalah Perang Padri. Perang Padri ini sebagai landasan pikiran orang Minang.

Kisah pemberontakan PRRI 1958 terhadap Bung Karno hanya ekses dari kebanggaan sejarah itu. Orang Padang/Minang pernah bangga menjungkalkan Raja Pagaruyung. Mereka berhasil membubarkan Kerajaan mereka, lewat Perang Padri.

Perang Padri dipicu oleh paham Wahabi yang dibenturkan dengan Adat. Paham baru dianggap lebih unggul dibanding adat istiadat mereka sendiri. Hasilnya? Minang jatuh di bawah penjajahan Belanda. (Bangsa Aceh berbeda dengan bangsa Minang. Aceh tidak pernah berhasil diadu domba oleh Belanda, jika mau mencari pembenaran sekali pun. Tidak pernah memerangi bangsa mereka sendiri.)

Mari kita baca. Baca. Iqra. Tentang Perang Padri. Hasilnya mencengangkan. Salah satunya, orang Minang suka perubahan. Gampang terpengaruh oleh hal yang berbau agama. Adat basandi sarak. Sarak basandi Kitabullah adalah panji – yang digunakan secara pragmatis. Sebuah kecerdasan hedonis tanpa batas.

Kisah Perang Padri bermula dari tiga orang Wahabi dari Mekah pada 1803, selepas berhaji bernama Miskin, Sumanik, dan Piobang.

Propaganda Wahabi ajaran Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792) oleh ketiga orang itu menarik orang Padang/Minang. Kampanye masif mereka, berbungkus agama berhasil menghasut para ulama. Tuanku Nan Receh bergabung. Mereka semakin kuat, banyak pengikut. Akhirnya mereka membentuk ormas Harimau Nan Salapan.

Aslinya, gerakan Wahabi di Minang, intinya sebenarnya adalah perebutan kekuasaan ekonomi. Dalam adat lama, para tetua menguasai ekonomi hitam, lewat judi, persabungan, dan sebagainya.  Motif merebut kekuasaan ekonomi ini dibalut dengan bungkus agama. Hasilnya? Orang Minang terhasut.

Merasa kuat Ormas Harimau Nan Salapan ingin merombak adat istiadat Minang. Atas nama memerangi khurafat, takhayul, bid’ah, mereka mengintimidasi, mencuci otak masyarakat. Surau, masjid, ninik mamak digunakan sebagai agents of propaganda, agen-agen propaganda, agitasi, dan permusuhan. Tujuan akhirnya: menjatuhkan kekuasaan establishment, Kerajaan Pagaruyung.

Sultan Arifin Muningsyah, Raja mereka sendiri, dimusuhi, dihinakan. Dalam dua belas tahun, gerakan liqa, halaqah model Wahabi berhasil membangun kekuatan, mirip gerakan HTI dan PKS saat ini. Merasa kuat, pada 1815 Ormas Harimau Nan Salapan melakukan pemberontakan.

Soal kelanjutan setelah Kerajaan jatuh mereka tidak perhitungkan. Yang penting menjatuhkan kekuasaan Raja Minang. Establishment, Kerajaan Pagaruyung yang menaungi kekuasaan, kemerdekaan, dimusuhi. Kerajaan Minangkabau milik mereka sendiri diserang. Padahal Raja Pagaruyung ini menaungi, membangun, melindungi dan menjamin kesejahteraan. Dan, jangan lupa: merdeka dari penjajahan Belanda saat itu.

Atas nama agama, gerakan Wahabi yang korup, dengan pasukan pemberontak Gerakan Teroris Harimau Nan Salapan, berhasil menjungkalkan Raja Pagaruyung. Itu setelah tewasnya puluhan ribu orang. Antar bangsa sendiri, antar orang Padang, terjadi perang. Keterlibatan Belanda, yang awalnya diminta oleh Sultan Arifin Muningsyah, tidak mengubah banyak hal. Justru Ranah Minang jatuh ke kekuasaan dan penjajahan Belanda.

Nah, maka kini gerakan Wahabi dan Ikhwanul Muslimin lewat organisasi bernama PKS telah membius orang Padang. Ditambah dengan gerakan khilafah, HTI, dan kepentingan ekonomi lokal, sempurnalah pilihan asli orang Minang. Mereka dipengaruhi alam bawah sadar mereka secara tradisi, sejarah,kisah, catatan, perasaan, dan otak mereka.

Kini cerdik pandai seperti Buya Syafei Ma’arif malah dimusuhi. Tidak didengar. Mereka lebih senang mendengar suara kaum Wahabi dan Ikhwanul Muslimin baru yang berbungkus PKS. Dan, sebagai wujud musuh baru alam bawah sadar orang Minang tentang Raja Pagaruyung adalah JOKOWI. Maka menjadi sahih dalam pikiran orang Minang, Jokowi layak dimusuhi dan dihinakan. Seperti mereka menghina dan memusuhi Sultan Arifin Muningsyah!

Trus. Apa isi otak Irwan Prayitno? Tidak tahu. Karena tidak ditemukan otak Irwan Prayitno dalam bedah sejarah. Dan, kalau disuruh membedah otak pun saya ragu tentang isinya. Dan, malas keluar biaya buat operasi kepala Irwan Prayitno. Mending duitnya buat makan masakan Padang aja. Bara Uda???? (Penulis: Ninoy N Karundeng)