Gempa Lombok: Ribuan Dibantu, Ribuan Luput, Perlu Koordinasi Terpadu

0
Ibu dan dua anaknya mengorek puing mencari perabotan

Sepekan menjadi relawan, membantu sambil mengamati pemberian bantuan gempa Lombok, meninggalkan catatan berwarna. Kebahagiaan dan kedukaan. Kebahagiaan karena keterlibatan ribuan orang saling bergandeng tangan. Kedukaan karena bantuan yang kurang merata, kurang koordinasi, dan kepentingan politik.

Dengan organ Teman Jokowi yang berbaju Kerja Serumpun Padi, dengan tujuan murni membantu korban gempa 22 relawan medis dan non-medis diterjunkan langsung di lokasi gempa, Sontang.

Melayani pengungsi di Tuanani Rempek Gangga

Dipimpin oleh dr. Haryani dan dr. Desy Andhini, kelompok terbang pertama langsung melakukan koordinasi dengan Tim Gabungan di RSUD Tanjung, di tenda Bara Baja. Upaya Herlien dan Utama berhasil mencatatkan ‘organ’ agar mendapatkan fasilitas untuk melayani.

Beberapa daerah dinyatakan tertutup karena telah dikuasai oleh ACT (Aksi Cepat Tanggap), FPI, dan Hilmar, misalnya. Maka dengan kegigihan kami mengarahkan diri ke Sontang agar mampu melayani pasien di daerah yang belum tersentuh. Dengan berbekal koordinasi relawan difasilitasi tenda besar.

Tim relawan menjadi lebih kuat lagi ketika kloter berikut menyusul. Layanan menjadi lebih banyak dengan pola, strategi dan sasaran yang sama sesuai rencana yang disusun oleh dr Haryani dan dr Desy Andhini. Untuk efektivitas, sesuai rancangan tim dibagi menjadi dua, yang satu dipimpin oleh Dedy Setiawan dan Marthin. Tim ini berhasil menjangkau wilayah yang Rebakong.

Selama sepekan melayani pasien dan menyalurkan bantuan, ditemukan berbagai catatan untuk evaluasi dan pekerjaan.

Bantuan Medis dan Logistik Makanan Tak Merata

Temuan di lapangan cukup mengejutkan. Banyak sekali terjadi tumpang tindih bantuan. Ada wilayah yang sama sekali belum dikunjungi tim medis. Bantuan pun belum masuk ke wilayah tersebut. Contoh di wilayah Rempek, Dusun Tuanani. Sampai hari ke-8 bantuan sangat minim, hanya satu terpal besar. Padahal praktis seluruh rumah penduduk hancur kecuali dua rumah panggung.

Berita media sosial tentang lokasi yang belum mendapatkan bantuan cenderung mengecoh. Medsos sama sekali tidak bisa dipercaya. Lokasi yang disebut ketika didatangi ternyata sudah mendapatkan bantuan.

Melayani medis dengan sepeda motor

Sebaliknya daerah yang disebut telah terbantu ternyata di sana sini membutuhkan hal yang pokok. Terpal dan selimut. Contoh paling nyata adalah para pengungsi terdiri dari 33 kepala keluarga dan 17 KK belum juga mendapatkan terpal yang memadai di Rebakong.

Kepentingan Politik yang Menjijikkan

Di tengah upaya penanganan gempa, ternyata kepentingan politik bermain. Relawan model ACT menjadi provokator dan berupaya mendiskreditkan Presiden Jokowi. Banyak stiker ACT yang sengaja dibuat untuk tujuan tersebut.

Selain itu keterlibatan para petugas agama yang banyak melakukan provokasi dalam pengajian. Bukan upaya healing namun arahan untuk berpikir tidak realistis. Akibatnya, masyarakat sendiri merasa heran dengan mereka.

Terpal, Selimut, Makanan Sangat Dibutuhkan

Pasca sepekan gempa, berdasarkan pantauan Wuines.com, kebutuhan paling mendesak selain air bersih adalah terpal, tenda, selimut dan bahan-bahan makanan. Meskipun pasar ala kadarnya mulai menggeliat, namun karena keterbatasan aktivitas ekonomi ribuan pengungsi di ribuan tenda pengungsi membutuhkan bantuan seperti tersebut di atas.

Namun demikian, bantuan medis dan pemberian vitamin dan  obat-obatan ringan juga dibutuhkan mengingat kondisi di tempat pengungsian yang kurang sanitasi, udara panas di siang hari, dan dingin menggigil di malam hari.

Perlu Koordinasi dan Pemetaan

Untuk menangani korban gempa dengan skala besar ini, relawan lain seperti Walubi dengan cekatan membuka dapur umum. Mereka melayani 5000 bungkus nasi untuk korban gempa di pengungsian. Mereka akan berada di lokasi dalam jangka waktu minimal 3 bulan.

Tim Rescue pun perlu ditingkatkan fungsi dan perannya dan melakukan desiminasi informasi yang cekatan dan selalu update  agar tidak ketiggalan dengan medsos yang suka ngawur.

Pusat Informasi atau Pos Komando Gabungan pun harus bergerak cepat dan selalu membuat pemutakhiran informasi dan sebaran layanan dan relawan. Ini penting agar tidak tumpang tindih.

Mengenai logistik pun demikian. Koordinasi dan pemetaan untuk distribusi bantuan selayaknya harus updated agar tidak terjadi keterlambatan atau bahkan keluputan pemberian bantuan.

Dan bagi para relawan, semestinya tidak menjadikan arena bencana sebagai area wisata bencana dengan unggahan foto selfie melebihi layanan yang sesungguhnya. Bagi BNPB pun harus aktif dan proaktif dan tidak hanya bongkar pasang tenda raksasa tanpa personel (atau memang tenda diperuntukkan bagi korban?)

Juga cara pikir asal Jokowi senang (ABS) perlu dihilangkan. Contoh jelang kedatangan Presiden Jokowi, seluruh daerah yang bakal dikunjungi Jokowi dipenuhi fasilitas air minum melimpah, sehari setelah Jokowi meninggalkan Lombok fasilitas itu mati, sampai sekarang. Ini terjadi di beberapa tempat.

Korban gempa Lombok adalah saudara-saudara kita sebangsa setanah air yang tengah membutuhkan uluran kita.