Gegara Cuitan Keranda dan Bendera, Dokter Kehilangan Pekerjaan

0

Faruk Gergerlioglu, gara-gara membuat ciutan berisi foto dua keranda, yang satu berselimut bendera Turki dan satunya lagi dibalut bendera PKK. Ciutannya pun menandakan perdamaian seperti dilansir France24.com yang berbunyi dalam bahasa Turki: “Melihat foto ini, Anda akan mengerti bahwa perang ini tidak memiliki makna apapun. Sesama ibu-ibu, berbeda bendera.”

Gergerlioglu adalah pimpinan gerakan Hak Azasi Manusia (HAM) Mazlumder di Turki antara tahun 2009 dan 2011. Dia juga publik figur yang kerap muncul di televisi Turki, dan sangat dikenal di kalangan pejuang hak-hak sipil di negara yang kini di bawah kekuasaan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Dia sejak lama telah terlibat dalam pergerakan hak asasi dan dianggap sebagai Islamist oleh masyarakat Kurdi. Pada masa sebelum Erdogan berkuasa, dia telah menentang pemerintahan sekuler ajaran Mustafa Kemal Attaturk. Pada masa perang 1990-an antara Turki dengan separatis Kurdi yang menewaskan 30,000 orang, dia bersama gerakan Mazlumder juga berjuang menentang perang tersebut.

Jadi sesungguhnya cuitan Gergerlioglu untuk mengakhiri perang brutal antara pasukan Turki dan Kurdi tidak perlu menjadi hal yang menghebohkan di bawah kondisi normal. Namun,

Namun, ini bukan dalam kondisi normal, media lokal di Izmit – 100 km darri Istanbul, tempat Gergerlioglu tinggal – mengangkat cuitan itu. “Mereka menanyakan bagaimana bisa seorang pegawai pemerintah membuat pernyataan seperti ini? Bagaimana mungkin dia menyamakan bendera Turki dengan bendera PKK?” papar dokter dan aktivis kemanusiaan ini.

Cuitan kemanusiaan diposting tanggal 9 Oktober 2016. Penyelidikan atas cuitan dibuka pada 11 Oktober, dan pada 13 Oktober, atasannya di Rumah Sakit Izmit menyampaikan bahwa dia dipecat.

Alasan pemecatan tidak disampaikan Kepala Rumah Sakit, namun yang pasti karena alasan membela hak azasi manusia.

Penangkapan dan pemecatan serta penghukuman terhadap ribuan pegawai negeri, aktivis, wartawan, tentara, dan warga sipil lainnya terus berlangsung di Turki sejak peristiwa kudeta 15 Juli 2016.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan selalu mengaitkan berbagai kelompok penentangnya dengan tokoh Islam yang dulunya adalah bekas skondan gerakan Islam bersamanya yakni Fetullah Gulen yang kini tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Erdogan menuduh Gulen terlibat dalam kudeta yang telah dibantah oleh Gulen.