Erick Thohir dan Kemenangan Jokowi di Depan Mata

0

Janji hanyalah tinggal janji. Erick Thohir yang diragukan kapasitas politiknya oleh Jusuf Kalla kian menunjukkan kebenarannya. JK hormat betul  soal profesionalisme bisnis Erick. Namun, soal menggerakkan Tim Kampanye Nasional sekelas Pilpres 2019, bukan hal mudah.

Erick sampai detik ini tidak menjalankan pekerjaannya sebagai nahkoda kapal TKN. TKN yang berisi para caleg, profesional bidang komunikasi, politik, hukum, dan para manusia pemilik kecerdasan tanpa batas. Dan, semuanya memiliki kepentingan masing-masing. Kenapa Erick gagal? Bukan hanya salah Erick.

Anggota TKN caleg, keinginannya agar terpilih jadi anggota dewan – tak perlu membantu Jokowi terpilih. Profesional bidang komunikasi ingin praktek ilmu komunikasi – yang sudah jadul tak cocok teori kampanye dan propagandanya. Yang profesional ingin praktek profesi sekedar kerja – dengan program birokratis menyedot dana TKN. Ahli politik setali tiga uang – ingin tujuan politik tercapai, bukan soal Jokowi.

Tim hukum hanya menjadi Tim Hore penanggap hoaks dan aksi cerdas Sandi-Prabowo, jika ada berita. Yang lainnya sekedar mengisi daftar hadir – tanpa tahu dan menyadari sedang propaganda, sedang kampanye, sedang bekerja untuk Jokowi-Ma’ruf.

Bos Relawan TKN Kiai Maman gagal memetakan keinginan dan kekuatan para relawan. Dari 500-an relawan yang pernah diundang, banyak relawan kertas yang isinya cuma Ketua, Bendahara, dan Sekretaris doang isinya – gerbong kosong tanpa anggota. Kebodohan tanpa batas. Kegagalan itu berimbas hingga detik ini Jawa Barat masih dikuasai Prabowo. Jokowi keteteran kalah di Jawa Barat.

Nah, yang lainnya adalah, Tim Medsos TKN pun gagal total memberikan kontribusi mendongkrak Jokowi. Masalahnya? Lah konten-konten dari mereka cuma tanggapan dan reaksi gendang yang ditabuh oleh Sandi-Prabowo dan para cecunguknya. Konten menyerang yang dijanjikan Erick nol besar!!!

Memang, di Pilpres 2014 yang bergerak adalah rakyat, relawan salah satu representasinya. Pertanyaan berikutnya. Apa sih yang dibutuhkan relawan dan pendukung Jokowi dari Erick Thohir? Dari TKN? Duit? Mungkin. Yang paling penting adalah: menggerakkan semangat. Jokowi pun sejak setahun lalu telah menyebutkan tentang militansi. Relawan dan rakyat pendukung Jokowi perlu konten dan gerakan yang bisa memantik semangat militansi. Caranya?

Caranya, pertama, dengan TKN bikin kampanye Medsos untuk membangun kesan, imej, persepsi yang menghentak. Menyerang. Lho kok? Ya karena di benak masyarakat bawah – akibat gerakan suara di WhatsApp, hasil dari berita medsos, Facebook, dan Twitter – telah masuk di alam bawah sadar mereka soal #2019GantiPresiden, JokowiPenistaAgama, dsb.

Bahwa kampanye adalah upaya membangun persepsi bukan kebenaran. Maka sibuk-sibuk melakukan fact-checking dan debunked itu tidak berguna sama sekali. Lho. Kan semua yang negatif sudah masuk ke alam bawah sadar pemilih, sudah masuk ke dalam neuro-nerve, otak mereka.

Kedua, TKN harus menunjukkan kebesaran, kekuatan, dominasi, tidak mau kalah dari Prabowo-Sandi. Banyakin baliho, banyakin iklan, banyakin foto, gede-gedean di semua jalan. Katanya Jokowi incumbent lah kok nggak ada baliho dan billboard masif dominan? Aher saja dulu agar menang di Jawa Barat menyebar foto dirinya sebanyak 5 1 juta titik di Jabar. Eneg lihatnya? Nyatanya Aher menang. Kok bisa? Ya karena itu alat memasukkan imej di dalam otak pemilih.

Nah, minimal dengan dua cara itu, selebihnya banyak PR untuk Erick Thohir, minimal bisa sedikit mempertahankan suara Jokowi tidak tergerus terus. Cara itu juga bisa menyemangati relawan dan pendukung Jokowi yang tengah kecut melihat kinerja TKN yang memble! Jangan sampai Jokowi kalah saja. Jika Jokowi kalah ini semua kesalahan Erick Thohir seperti membenarkan keraguan JK. (Penulis: Jonas Asmara – Pengamat Politik Internasional)