Energi Mistis Spiritual Bung Karno dan Jokowi sebagai Satria Pandhito Didampingi Ksatria

0

Bung Karno sesungguhnya dikelilingi oleh energi spiritual para ksatria, berwujud militer seperti Jenderal Besar Soedirman, AH Nasution, Gatot Subroto, dan para mantan Tentara Pelajar. Sosok semi militer cerdas seperti Tan Malaka, Sjahrir dan bahkan Inggit Ganarsih adalah ksatria penopang energi mistis spiritual Bung Karno.

Pusat energi mistis spiritual terbesar di Tanah Sunda adalah Batu Tulis, dari sumber energi trah Prabu Siliwangi menjadi sumber kekuatannya. (Karenanya, wasiat terakhir Bung Karno untuk dikuburkan di Istana Batu Tulis sengaja tidak dipenuhi oleh eyang saya Presiden Soeharto. Hal yang membuat kisah ‘kualat’ tidak mikul duwur dan mendhem jero’ terjadi pada eyang Presiden Soeharto.) Kenapa hal ini bisa terjadi?

Kesalahan Bung Karno Terkait Angka Mistis 9

Satu kesilapan terbesar Bung Karno adalah ketika menunjuk eyang saya Presiden Soeharto yang bertanggal lahir 08-06-1921 = 27 = 9 sebagai ksatrianya.

Tanpa ampun eyang mengambil alih kekuasaan. Sejak Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai Pandhito mendampingi saat itu terjadilah kisah paling kacau dalam sejarah Indonesia adalah ketika seorang Ksatria didampingi oleh Ksatria.

Pada masa setelah Pandhito Satria Sultan Hamengku Buwono IX enyah dari dunia politik nasional, wapres hanya dijadikan simbol. Akibatnya, berbagai malapetaka kemanusiaan terjadi. Banjir darah. Jutaan anak bangsa musnah tak berbekas.

(Bagi eyang saya Presiden Soeharto sendiri, penentuan ksatria sebagai sumber energi, sementara dirinya ksatria dengan angka primer kelahiran 9. Yang aneh adalah angka primer kematiannya 2. Penjumlahan angka primer kelahiran dan kematiannya pun menghasilkan angka 2. Artinya kematiannya belum moksa.

Sementara Bung Karno sendiri angka primer kelahiran 5, namun kematian (8) dan kelahirannya menghasilkan angka sempurna untuk kematian 4 (moksa). Makna angka kematian 8 adalah abadi, angka 4 adalah moksa.)

Jadi Bung Karno yang berangka primer kelahirannya (5) tidak semestinya mengangkat eyang Presiden Soeharto yang berangka primer tinggi yakni 9.

Dinamika Energi Jokowi di Tengah Lingkaran Istana

Yang menarik dari Jokowi adalah kelahiran angka primer 8. Jokowi mirip titasan Bung Karno yang moksa pada 21 Juni 1970. Angka yang sama ini menimbulkan dinamika spiritual bagi Jokowi dan orang di sekelilingnya.

Terkait Jusuf Kalla sebagai pendamping Jokowi, angka primer kelahiran keduanya sama yakni 8, 15-04-1942 = 8.  Akibatnya terjadi adalah persaingan tanpa akhir dalam satu ruang dan waktu.

Untuk itu dalam jagad mistisisme angka Jawa, Presiden Jokowi semestinya memerhatikan angka kekuatan  primer yang lebih rendah dari dirinya. Jangan sampai angka primer lebih tinggi dari Jokowi.

Energi Mistis Teten Masduki dan Anies Baswedan

Ada yang menarik dari Moeldoko dengan Teten Masduki sebagai Kepala KSP.  Teten Masduki memiliki nilai numerologi primer 9 dari sisi kelahirannya. Ini melebihi angka primer Jokowi yang 8. Hasilnya jelas yakni memerlukan penyesuaian menghindari adanya spiritual energy domination dari Teten Masduki terhadap Jokowi.

Pun Teten bukanlah Ksatria dalam konteks mistis. Maka tak heran jika Presiden Jokowi betah berjam-jam berdiskusi dengan Teten Masduki. (Angka numerologi kelahiran 9 ini juga berlaku untuk Anies Baswedan.)

Energi Mistis Moeldoko dan Luhut Binsar Pandjaitan

Pengganti Teten Masduki di KSP memiliki catatan berbeda dari sisi energi spiritual. Jenderal Moeldoko sebagai Ksatria pendamping Jokowi sebagai Kepala KSP dinilai tepat. Angka kelahiran primer Moeldoko bahkan hanya 1. Artinya tidak ada dominasi energi spiritual dalam hubungan antara Moeldoko dan Jokowi. Nyaman.

Maka dalam sepak terjang dan catatan Moeldoko memang sebagai prajurit yang loyal terhadap atasannya. Untuk itu dalam menjalankan pekerjaannya di KSP Moeldoko menjadi bemper sepenuhnya bagi Jokowi.

Hal yang sama terjadi kepada Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan kelahiran  28-9-1947 yang angka energi spiritualnya 4. Maka tak mengherankan Ksatria LBP ini menjadi benteng kuat bagi Jokowi dari serangan para mafia.

Pun dalam kaitan dengan kelahiran hari Senin Wage, Jenderal Moeldoko memiliki sifat dinamis, sering mendapatkan simpati, menyenangkan, dan tentu ksatria sebagai prajurit.

Sementara Presiden Jokowi sendiri kelahiran Rabu Pon dengan karakter khas umum numerologis. Presiden Jokowi tidak suka banyak ngomong, suka berpandangan berbeda dari keumuman tapi tetap maton, tidak suka gebyar kemewahan, sederhana, tega, tegas dan berani. Ini ciri khas.

Jadi dari uraian di atas tergambar dengan nyata bahwa Bung Karno sebagai Pandhito pada akhirnya harus berkorban karena kesilapan memilih Ksatria yakni eyang saya Presiden Soeharto yang memiliki angka mistis (9) lebih tinggi daripada Bung Karno (5).

Maka dalam konteks cawapres saya mendukung Jokowi untuk meneruskan hubungan komunikasi Satria dan Ksatria yang nyaman antara Jokowi dan Moeldoko seperti yang ditunjukkan di Kantor Staff Presiden. Demikian Ki Sabdopanditoratu.