Edy Rahmayadi Menang, Jokowi Menang: Analisis Delusi Berbahaya

0
Edy Rahmayadi dengan baju PKS

 

Pemilihan gubernur di beberapa daerah berlangsung seru. Kita semua tahu hasil Pilgub Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang berlangsung seru. Namun, ada yang menarik dari semua itu: apa faktor penyebab kemenangan dan kekalahan para kandidat yang bertarung? Bagaimana cara membaca hasil pilkada untuk kemenangan dan kekalahan pasangan tertentu? Dan, apa dampaknya bagi oposisi dan Jokowi.

Kemenangan Edy Rahmayadi di Sumut bukan sembarang kemenangan. Kemenangan itu diperoleh melalui suatu upaya, usaha, kerja keras secara terstruktur, rapi, dan cerdas. Ini dilihat dari sisi propaganda dan kampanye. Edy memanfaatkan momentum yang dibangun yang awalnya suatu ilusi menjadi ekspektasi, lalu berubah menjadi posibilitas dan  diakhiri dengan realitas kemenangan.

Faktor internal senyatanya Edy Rahmayadi dan pasangannya diterima di kampung halamannya. Djarot yang datang dari Blitar diutus oleh PDIP dianggap terlalu jauh dibanding tempat kelahiran Edy di Sabang. Pelintiran isu SARA dihembuskan. Edy pun dianggap asli Medan, karena ayahnya asli Medan.

Terkait informasi baik di Facebook, Twitter, dan Instagram, senyatanya gambaran Edy sangat utuh. Meskipun ditempa isu kasar lewat kampanye negatif, namun sebaran informasi dan imej serta gambar-gambar kegagahan militer lebih mendominasi.

Mesin partai yang bergerak seperti PKS dan NasDem serta Hanura sangat masif bergerak. Ini berbeda jauh dengan yang dilakukan oleh PDIP dengan Djoss-nya. Relawan medsos dan lapangan dikabarkan berdarah-darah via medsos, namun elite lokal PDIP adem ayem.

Pun jika muncul propaganda selalu terkait isu masa lalu terkait catatan  prestasi Ahok-Djarot di DKI Jakarta – yang tidak dipahami oleh kalangan petani karet sawit. Pun mengaitkan Djarot dengan prestasi di DKI tidak sepenuhnya strategis isu tersebut karena ada unsur subyektivitas terkait Ahok yang berperkara.

Kemenangan PDIP sebesar 60 persen, bukan menjamin kemenangan itu sebagai modal kemenangan di Pileg dan Pilpres 2019. Justru yang unik adalah NasDem (12 provinsi) dan Hanura ( 9 provinsi) mengalahkan PDIP (7 provinsi) terkait kemenangan di berbagai provinsi.

Terlebih lagi Jawa Barat tetap menjadi provinsi konsolidatif PKS yang berhasil, dan oposan lainnya. Jumlah Ridwan Kamil yang 34% adalah angka minoritas. Sementara di Jawa Tengah justru kemenangan kisaran 58% adalah alarm keras lonceng lampu merah bagi Jokowi. Termasuk Sumut. Tidak untuk Jawa Timur.

Kembali ke Edy. Kenapa PKS dianggap berhasil? Atau Pilkada di Jawa dan Sumut menjadi keberhasilan oposisi? Angka-angka perolehan suara mengindikasikannya. Oposisi berjaya dengan PDIP yang paling menderita.

Penyebab utama kemenangan Edy adalah membangun delusi, lalu berusaha mewujudkannya dalam bentuk kinerja di lapangan. Masjid dijadikan ajang kampanye, buletin, selebaran dibuat dan disebarkan. Grass roots yang menjadi kekuatan PKS tetap bekerja, didukung NasDem dan Hanura serta PAN.

Lalu pilihan isu dan materi kampanye oposisi Jokowi pun tepat yakni isu SARA – meski ini tak bermoral. Semua tahu dan memprediksi isu itu yang diangkat. Benar. Dan, mereka berhasil.

Sementara itu pendukung Jokowi seperti PDIP justru mengirimkan Djarot, yang habis kalah di Jakarta, untuk melawan putra daerah Edy Rahmayadi. Warga  Sumut dianggap merasakan derita Ahok dan Djarot. Sumut hendak dijadikan obat bagi Djarot.

Delusi tentang kemenangan pun dibuat dengan seluruh narasi yang meninabobokkan Djarot-Sihar. Pilgub Sumut diilustrasikan Pilkada DKI Jakarta. Sebelumnya analisis dan angka-angka pun dibaca dan dipaparkan sesuai kebahagiaan pemesan. Akibatnya, banyak pendukung Djarot-Sihar merasa di atas angin.

Kantor Staff Presiden (KSP) memandang Pilkada 2018 sebagai barometer dan peta Pilres 2019. Itu tepat. Sekaligus lingkaran Jokowi dan partai pendukung berani melakukan evaluasi terkait dengan analisis dan membaca angka secara delusif. Pun juga delusi melanda sebagian pendukung Jokowi di media sosial. Celakanya kalau analisis delusif ini dilakukan oleh para influencer yang justru menyesatkan. Blunder.

Contohnya, kemenangan Ridwan Kamil yang bekas orang PKS – dengan istri yang disebut dekat dengan FPI – diklaim sebagai pendukung Jokowi. Juga Edy Rahmayadi diaku-aku sebagai penopang Jokowi – trus PKS dikemanakan?

Dengan cara pikir delusif seperti itu, secara sengaja gagal mendalami data dan fakta secara kritis, maka dipastikan akan menyesatkan dan membahayakan posisi Jokowi di Pilpres 2019. Kenapa?

Karena oposisi selama ini justru merebut kredo Jokowi, para pendukung Jokowi meninggalkan kredo kinerja itu. Bahkan menusuk dari belakang Jokowi secara tidak langsung jika kita meninabobokkan banyak orang dengan analisis delusif yang menyesatkan.

Jadi sebagai salah satu sample kemenangan, Edy memulai dengan ilusi dan mengakhiri dengan prestasi. Prestasi itu dilalui lewat pencurian kredo kinerja Jokowi: kerja kerja kerja! Malahan sebagian pendukung Jokowi malah membangun berbagai analisis ilusi dan delusi yang menyesatkan – dan yang lebih parah lagi seperti yang dilakukan mesin politik PDIP yang macet.