Duo Heavy Metal: Presiden Jokowi dan Pelatih Liverpool Jurgen Klopp

0

Bukan rahasia umum, Jokowi adalah penggemar lagu-lagu cadas grup-grup metal seperti Metallica, Megadeth, dan Lamb of God.  Juga band-band asal negeri sendiri seperti Seringai, Burger Kill hingga Slank.

Musik cadas sangat identik dengan personal yang keras dan teguh dalam pendirian.  Karena lirik lagu-lagu cadas banyak berisisikan kritik sosial, kemarahan terhadap suasana di lingkungan seperti perang, kerusakan lingkungan dan isu lainnya.

Tak terkecuali kepada Presiden Joko Widodo. Di balik wajah ramah dan penuh senyumnya, tentu ada ketegasan dan kepribadian yang keras dalam memimpin.

Kita bisa melihat ketika Jokowi dikritik ketika memilih menteri. Misalnya, kritik tajam terhadap penunjukan Susi Pudjiastuti untuk memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Menteri Susi dianggap tidak memenuhi kriteria baik karena penampilan maupun pendidikan formalnya. Namun kritikan tersebut diabaikan, dan ternyata bisa dijawab dengan kinerja yang cukup baik. Sebaliknya, Jokowi juga tak ragu untuk mengganti para menteri yang dianggap tidak mampu mengikuti ritme kerjanya.

Jokowi dan Sepak Bola Heavy Metal ala Jurgen Klopp

Slogan Presiden Jokowi “Kerja Kerja Kerja” dapat disamakan dengan “Heavy Metal Football” ala Jurgen Klopp dalam dunia sepakbola saat ini. Para menteri dalam kabinet kerja harus mampu bekerja maksimal tanpa mengenal lelah.

Hal ini penulis sandingkan kesamaannya dengan para pemain Liverpool. Para pemain di lapangan diinstruksikan untuk berlari ke sana ke mari tanpa mengenal lelah merebut bola dari kaki lawan.

Bisa jadi slogan tersembunyi dalam heavy metal football ala Jurgen Klopp adalah “Kejar Kejar Kejar”. Kita bisa melihat bagaimana persentase penguasaan bola Liverpool yang sangat tinggi dalam setiap pertandingan Liverpool.

Pada awalnya, ada tantangan bagi Jokowi maupun Jurgen Klopp dalam memimpin karena pemain-pemain (birokrasi) yang terbiasa dengan cara lama. Namun, perlahan keduanya bisa membangun tim masing-masing yang solid.

Jokowi membangun infrastruktur di seluruh negeri hingga hasilnya mulai dirasakan oleh masyarakat Indonesia dari Aceh hingga Papua. Ini dapat disamakan dengan Jurgen Klopp yang membangun kolektivitas tim. Hingga, Sadio Mane, Roberto Firmino dan Mohamed Salah menjelma menjadi trisula penyerang paling ditakuti di Eropa, bahkan dunia saat ini.

Satu hal yang membuat Jokowi maupun Jurgen Klopp dapat menjalankan programnya adalah karena mereka tidak punya beban. Jokowi tidak memiliki beban sejarah ataupun politik kelam di masa lalu. Untuk itu, bahkan Rumah Gerakan 98, tanpa ragu menyebut Jokowi sebagai Anak Kandung Reformasi.

Sementara Jurgen Klopp berhasil mengurangi ekspektasi berlebihan dari fans Liverpool yang setia menunggu gelar juara selama 27 tahun. Dia mengatakan, “I am the Normal One” pada konferensi pers pertamanya sesaat setelah ditunjuk memimpin The Reds menggantikan Brendan Rodgers.

Keduanya baik Jokowi dan Jurgen Klopp memang belum sempurna, masih banyak yang harus dilakukan. Namun, paling tidak keduanya memberikan harapan baru bagi rakyat Indonesia maupun Fans Liverpool di seluruh dunia saat ini.

(Penulis: Ignatius Indro, Pemerhati Politik dan Sepakbola, Ketua Umum Paguyuban Supporter Timnas Indonesia (PSTI) 2016-sekarang.)