Doa Pasca Istikharah Jokowi dan 13 Faktor Penentuan Cawapres

0
Jokowi dan Bunda dan alam

Jokowi akan menunjuk cawapres. Tengah malam ini sangat krusial. Bukan hanya soal kemenangan dan kekalahan. Ini soal pribadi Jokowi. Alam tengah mengujinya. Ki Sabdopanditoratu mengikuti sisi religiositas, mistis, pikiran, yang tengah berlangsung di alam bawah sadar, dan energi Jokowi.

Pertama, skenario kepentingan geopolitik global antara Russia, Tiongkok dan Amerika Serikat sangat penting. Salah langkah membuat geopolitik Indonesia menjadi ajang permainan. Misal satu contoh soal Freeport bisa jadi bumerang. Banyak kepentingan.

Kedua, konflik model Syria. Melalui kelompok penganut khilafah di Indonesia, anti Pancasila, akan mendorong konflik berkepanjangan di Indonesia. Caranya adalah bersatunya seluruh kekuatan perusak anti Pancasila yang terselubung. Ditambah dengan proxy.

Ketiga, kembalinya mafia berbalik menyerang Jokowi. Mafia yang sudah tiarap akan berbalik menyerang Jokowi. Itu terjadi ketika titik kelemahan dan penjagaan terhadap Jokowi lemah.

Keempat, para pembisik model di sekeliling Gus Dur menggeliat yang menyesatkan Jokowi. Mereka menggunakan konsep seperti ayat dan mayat, yang Jokowi sendiri tidak suka. Sejatinya mereka tidak memahami konstelasi politik global dan lokal. Mereka hanya ingin agenda dua kaki ke Jokowi dan kaki ke kepentingan mereka terpenuhi.

Kelima, tentang peran NU dan Muhammadiyah sebagai benteng NKRI. Namun, ingat bahwa Bung Karno disuruh menyaksikan anak-anak negeri dibantai. Ingat tentang permohonan maaf Gus Dur terkait tragedi 1965-1966. Artinya, masa berbeda. NKRI adalah milik semua golongan.

Keenam, isu pencalonan Abdul Somad, Rizieq dan Salim Segaf bukan real politics, hanya move, strategi. Jokowi harus paham ini rancangan untuk menggoyahkan pemikiran Jokowi. Prabowo telah ada di trek yang benar, bersama dengan AHY, alias Agus Harimurti Yudhoyono.

Ketujuh, penggambaran Pilkada DKI Jakarta 2017, dengan dukungan GNPF, bahwa ada segi tiga kepentingan antara Jusuf Kalla, SBY dan kalangan Islam radikal bahkan HTI, ini soal pragmatisme. Untuk Indonesia TNI/Polri BIN dan rakyat tetap akan menjaga.

Kedelapan, Asyik di Jabar dan kemenangan Edy Rahmayadi harus menjadi pelajaran tentang siapa di balik yang memenangkannya. Bukan PKS. Bukan Golkar. Di dunia ini hanya ada satu badan atau organ dan sistem yang bisa bergerak dalam bencana, bahkan perang. Jokowi paham ini.

Kesembilan, kenyataan Jokowi hampir sendirian di Istana. Maka Jokowi semestinya kembali kepada kebersihan hati nurani sejak Maret 2018 sampai detik ini. Jangan berubah dari eling lan waspodo dari sedikit orang yang memberikan kenyamanan dan kekuatan.

Kesepuluh, religiositas palsu. Terkait poin 1-9 di atas, maka wacana memunculkan sosok religiositas palsu di dalam benak Jokowi harus dihindari. Bahwa tanda setelah shalat istikharah yang dimaksud adalah tentang perilaku yang bermanfaat bagi banyak orang. Bukan hanya bermakna bagi satu golongan agama. Bukan sosok yang pernah menjadi bagian dari radikalisme.

Kesebelas, maka bersolat istikharah-lah Jokowi untuk menentukan cawapres pendampingnya malam ini. Bunda dan alam akan menuntun seperti selama enam bulan terakhir kestabilan Indonesia.

Kedua belas, sosok religiositas yang Jokowi lihat di alam bawah sadar setelah shalat istikharah nanti malam bukan soal pakaian ulama, kiai atau pendeta atau pedanda atau pertapa, tetapi tentang karya dan sepak terjang religiositas sesama.

Ketiga belas, doa. Bersihkanlah hati, jiwa, energi dan rasa Jokowi agar kejernihan dan segala bisikan jahat yang hendak menghancurkan Jokowi terbersihkan. Demikian the Operators dan Ki Sabdopanditoratu.

Salam bahagia ala saya.