Dinginnya Jokowi Bangkrutnya Prabowo Soal Pilpres 2019

0
Presiden Jokowi rajin bertemu rakyatnya

Publik dibuat gemes oleh sikap dingin Presiden Joko Widodo. Hingga saat ini Jokowi masih saja berkutat soal kerja dan kerja. Tidak ada pernyataan resmi dari mulut beliau terkait dengan maju sebagai presiden di periode kedua. Pun terkait dengan calon wakil presiden (cawapres) Jokowi tetap bungkam dan terbuka dalam segala kemungkinan.

Presiden Jokowi tetap bergeming dalam strateginya. Jokowi akan menunjuk calon wakil presiden setelah berkonsultasi dengan para partai pendukung. Persoalan cawapres ini menjadi hangat karena bertemunya titik kepentingan partai pendukung.

Jauh-jauh hari misalnya Golkar telah menetapkan Jokowi sebagai capresnya, sementara PDIP, Hanura, PKPI, NasDem, PPP baru belakangan.

Di kubu Gerindra dengan diwakili oleh Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menyampaikan pernyataan tentang Prabowo yang akan maju menjadi penantang Jokowi. Bahkan dia menyebutkan tentang cawapres pendamping Prabowo yang akan diumumkan setelah Jokowi mengumumkan calon wakil presidennya.

Sementara itu, di tengah perang opini tentang pencapresan, PKB dengan Muhaimin Iskandar tengah memainkan kartunya dengan bargaining position strategisnya.

PKB melihat kekuatan lain selain Jokowi. Peristiwa Pilkada DKI Jakarta yang sangat kompleks memberikan kemungkinan pilihan berbeda bagi PKB. Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono, bersama dengan kekuatan Orde Baru, dan Jusuf Kalla dipandang memiliki kekuatan dan modal untuk mengalahkan Jokowi.

Mereka mendapatkan amunisi berlebih dengan munculnya politik identitas Islam radikal yang dipraktikkan dalam kampanye di DKI Jakarta. Terbukti kolaborasi mereka berhasil menjungkalkan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok)-Djarot.

PKB melihat adanya peluang mendukung poros yang lebih segar untuk melawan Jokowi yakni dengan konsekuensi Prabowo tersingkir dari persaingan. Soal elektabilitas Prabowo yang paling tinggilah yang masih menjadi kendala bagi banyak pihak termasuk PKB.

Namun, dengan disingkirkannya Prabowo, dengan sendirinya akan memunculkan calon alternatif. Pernyataan Prabowo yang ingin menggalang dana bagi pencalonannya juga bisa menjadi tanda kebangkrutan politik. Ini memberi kesempatan bagi rezim SBY yang memiliki kekuatan finansial paling siap dalam Pilpres 2019 selain petahana Jokowi.

Poros baru yang digagas ini kemungkinan akan menaikkan Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan, dan calon lainnya, bisa jadi Muhaimin Iskandar menjadi cawapres aliansi PKB, Demokrat, dan PAN. Aliansi partai ini otomatis meninggalkan Gerindra dan PKS. PKS sendiri dipastikan akan meninggalkan Prabowo jika memang Prabowo sudah bangkrut secara politik dan finansial.

Dengan pemahaman kondisi politik seperti itu, Presiden Jokowi dipastikan akan menentukan calon wakil presiden pendampingnya setelah oposisi menentukan capres dan cawapresnya.

Di sisi lain Presiden Jokowi juga harus memainkan dan mengeksekusi kekuasaan secara tajam untuk mengamankan peluangnya jika ingin maju menjadi capres di 2019. Pendekatan politik-hukum dan hukum-politik yang cerdas dan tegas untuk mendukung lobby politik baik terhadap SBY maupun Jusuf Kalla tetap dilakukan.

Dengan pemikiran cerdas seperti itulah yang menyebabkan sampai saat ini Presiden Jokowi tetap bergeming dan berkonsentrasi kerja dan kerja. Yang akan menjadi pendamping Jokowi tentunya adalah sosok yang mampu menjembatani kepentingan sipil dan militer di Indonesia.

Melihat topangan dukungan sosok militer yang begitu sentral selama hampir 4 tahun ini, Jokowi kemungkinan besar akan melirik sosok militer. Pilihan ini pun sebagai suatu strategi penyeimbangan untuk menarik dukungan yang luas, mengingat faktor Agus Yudhoyono dan Prabowo yang dianggap mewakili kalangan militer.

Jadi, melihat peta politik seperti itu, menjadi dapat dipahami jika sampai detik ini Presiden Jokowi belum berbicara banyak tentang Pilpres 2019. Yang kini dilakukan oleh Presiden Jokowi adalah mengamati seluruh kinerja tokoh dan sosok yang pantas mendampinginya. Ini pun tergantung kepada siapa yang maju di pilpres 2019 nanti.

Jokowi tetap dingin. Justru yang panas adalah di sisi oposisi yang sampai saat ini belum menemukan bentuknya. Mereka masih berkutat pada Prabowo, Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono, Anis Matta, dan bahkan Susi Pudjiastuti.