Candi Jabung, Pelajaran Safari Politik Majapahit Raja Hayam Wuruk

0

Banyak orang tidak paham tentang salah satu situs terpenting dalam sejarah Majapahit. Perdebatan tentang pusat kebesaran Kerajaan Majapahit masih berkutat di Trowulan dan Mojokerto. Kebesaran kerajaan Majapahit  tergambarkan dalam bentuk kinerja, pekerjaan, dan aktivitas raja terbesar Majapahit Hayam Wuruk. Candi Jabung adalah salah satu wujud pentingnya strategi propaganda politik pada zaman Majapahit.

Salah satu tempat yang Wuines.com kunjungi kali ini adalah Candi Jabung. Candi ini terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Candi ini terletak di sisi kanan jalan arah Probolinggo-Bali, berdiri di rerimbunan pepohonan, 450 meter masuk ke jalan perkampungan.

Candi Jabung ini menjadi unik karena merupakan salah satu wujud penancapan kaki kekuasaan di wilayah Timur Majapahit, Pulau Jawa dan Madura yang sangat penting. Di Candi Jabung ini pula simbol kekuasaan berupa Matahari Majapahit terukir di atas kala.

Penggambaran Matahari Majapahit di atas sulur-sulur teratai kala menunjukkan betapa simbol politik penancapan kuku kekuasaan dimasukkan dalam khasanah kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat. Simbol kekuasaan itu pun ditorehkan di sana.

Simbol itu semakin lengkap dengan berbagai ornamen tentang kehidupan masyaralat. Lagi-lagi penggambaran kehidupan keagamaan ditonjolkan dalam relief. Kehidupan religius dilukiskan. Ada seorang pertapa bersorban sedang memberikan pelajaran kehidupan di hadapan muridnya. Penggambaran situasi politik tampak jelas di situs keagamaan tersebut.

Demikian pula kebudayaan masyarakat Majapahit digambarkan pula berupa sulur kala bermata satu dengan – lagi-lagi – simbol kebesaran Majapahit: Matahari Majapahit.

Kisah-kisah yang hidup di masyarakat pun ditampilkan dalam relief Candi Jabung. Kisah Sri Tanjung lengkap ditampilkan di bagian tubuh Candi Jabung dalam 19 relief. Ini menunjukkan Raja Majapahit Hayam Wuruk memiliki perhatian besar terhadap rakyat. Raja Hayam Wuruk memelihara semangat kehidupan rakyatnya.

Hal ini sangat pas dengan fakta bahwa Candi Jabung disebutkan di dalam Kitab Negarakertagama. Disebutkan Raja Hayam Wuruk mengunjungi wilayah kekuasaannya pada 1359. Safari unjuk kekuasaan itu dibalut dengan upacara keagamaan berziarah di Candi Jabung, disebut desa Kalayu dalam Negarakertagama.

Setelah upacara ziarah perjalanan atau safari ini dilanjutkan dengan mengunjungi wilayah Kebonagung, Kutugan, Kambangrawi di mana Raja Hayam Wuruk menginap. Safari dilanjutkan pada pagi harinya ke Halses, Berurang, Patunjungan, Patentanan, Tarub, Lesan dan berakhir di Panjarakan, sebelum Raja Hayam Wuruk kembali ke Ibu Kota Majapahit di Trowulan.

Menilik kitab Pararaton dan Negarakertagama, terkait Candi Jabung maka sangat tampak betapa simbol politik dan keagamaan. Terlebih lagi pada masa itu kekuasaan dan kejayaan Majapahit tengah berada di puncaknya. Meski begitu, tetap propaganda dan kampanye politik, lewat kinerja dilakukan. Salah satunya adalah dalam wujud pembangunan tempat peribadatan.

Tempat peribadatan adalah lambang pengikatan antara rakyat dan penguasa. Hal ini terjadi karena pendirian candi memerlukan keterlibatan rakyat dan penguasa. Ini berlaku bukan hanya candi Jabung namun seluruh monumen peradaban.

Itulah daya tarik Candi Jabung yang sangat penting. Candi ini menjadi salah satu candi dan peninggalan Kerajaan Majapahit yang relatif utuh dan menarik untuk dikunjungi. Silakan kunjungi Candi Jabung jika Anda kebetulan melakukan perjalanan darat Surabaya Banyuwangi. Perziarahan yang luar biasa. Selamat berlibur sambil mengamati propaganda politik sejak zaman Majapahit. (Tim Safari Wuines.com)