Caleg Serasa Relawan dari PSI

0

Saya mengamati. Saya melihat. Caleg tidak semuanya baik. Tidak juga caleg semuanya jelek. Sebagai pengamat dan relawan, saya melihat fenomena. Maafkan saya kalau terpaksa menyebut partai. PSI. Sejatinya saya pecinta PSI. Sebelum Tsamara Amany blunder. Belum komentar soal Timur Tengah dan Russia.

Sampai detik ini saya tidak tahu. Saya tidak paham. Apakah caleg bermata sipit ini melenggang ke Senayan. Saya masih menunggu 22 Mei 2019. Namun, yang pasti caleg berkulit putih bak mutiara ini mengesankan. Jejaknya di Tanjung Priok menawan. Memesona.

Celeg ini memiliki Tim Sukses. Tim Sukses yang bener-bener mau membantu. Di lapangan para relawan perempuan muda ini bekerja. Dari rekomendasi Timses, dia bergerak. Sebagai caleg PSI dia ingin meraup suara. Suara orang-orang miskin. Cara tradisional mencari suara.

Caleg ini memang awam politik. Maka Timses menjadi salah satu kunci mendekati rakyat. Terdamparlah dia di Tanjung Priok. Wilayah entah berantah. Di situlah bermukim rakyat banyak. Rakyat jelata. Konstituen. Calon konstituen tempat mencari suara.

Betapa kagetnya Caleg PSI ini. Kondisi rakyat tidak terbayangkan. Di Ibukota Jakarta. Masih ada rakyat yang miskin. Rakyat yang hidup di petak-petak rumah kumuh. Banyak anak. Akses kesehatan dan sanitasi buruk. Kesejahteraan di jantung Ibukota Jakarta, hanya mimpi.

Yang mengejutkan. Caleg cantik ini luluh dan masuk ke dalam Dunia Baru. Dunia kumuh. Dunia terbatas. Yang terjadi justru bukan menyerap informasi. Bukan menyerap aspirasi. Yang tampak di mukanya adalah warga membutuhkan bantuan. Maka dibuatlah Food Bank. Rakyat mendapatkan makanan. Asupan gizi buat anak-anak. Susu untuk balita.

Tak terbayangkan di Tanjung Priok masih ada orang yang susah makan. Kebutuhan makan tiga atau dua kali sehari hanya mimpi. Mereka kadang makan susah. Namun, yang menarik adalah mereka saling membantu. Padahal warga saling susah. Warga tidak berkecukupan. Saling mengandalkan, dalam kesulitan.

Caleg ini berubah pikiran. Caleg ini membantu secara kemanusiaan. Target mengumpulkan suara berubah. Uang dan logistik untuk program pengumpulan suara dikeluarkan untuk membantu warga. Untuk kebutuhan makan dan minum.

Tak pelak. Tujuan meraih suara berubah. Tak terpikirkan lagi selama setahun terakhir untuk meraih kursi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), atau DPRD. Tidak lagi terlintas. Yang muncul justru rasa belas kasihan. Cinta kasih kepada sesama.

Timses yang bekerja pun menjadi heran. Buat apa mengeluarkan uang, ketika sudah tahu di situ mereka tidak memiliki KTP. Jadi tidak mungkin mereka memberikan suara. Tidak punya hak pilih.  Buat apa membina di wilayah dengan warga tanpa hak suara.

“Lah yang bener saja. Lah kan kalian yang mencari tempat untuk digarap? Lah yang salah bukan saya. Kalian yang merekomendasikan di tempat tersebut,” kata Caleg PSI itu enteng kepada Timses-nya.

Caleg PSI ini berhati relawan. Dia tidak cocok sebagai politikus. Namun, di balik itu, sesungguhnya ada yang menarik yang bisa digali darinya.

Caleg ini tergerak menjadi caleg karena tergerak oleh ajakan luhur Grace Natalie. Konsep dan mimpi tentang Indonesia baru. Mimpi tentang Indonesia yang toleran. Indonesia yang pluralis. Indonesia yang tidak dikuasai oleh kelompok ekstrimis. Indonesia yang memihak kaum minoritas etnis dan agama.

Kisah tentang Ahok. Kejumawaan FPI. Persekusi terhadap minoritas oleh kalangan Islam garis keras, mengilhaminya berjibaku. Ingin menjadi bagian perubahan dari dalam. Caleg ini pernah saya lihat berorasi di depan Mahkamah Konstitusi (MK) menentang UU MD3.

Grace Natalie menjadi magnet inspirasi. Bukan operator politik. Grace Natalie harus jeli. Harus bergerak untuk membesarkan PSI ke depan. PSI memiliki masa depan gemilang. Namun, PSI harus menjauhkan nafsu politik, kepentingan individu. Kepentingan yang akan mengebiri suara rakyat. Suara kritis anggota DPR/D.

Publik menunggu. PSI akan memiliki anggota DPRD di DKI Jakarta. Apakah Caleg dengan triple minoritas (China, Kristen, Perempuan) ini akan menjadi mercusuar suara menggelegar PSI? Ataukah PSI akan tunduk pada kongkalikong kepentingan individu?

Hingga PSI harus memiliki wakil di DPRD DKI yang berani melawan arus. Cerdas. Untuk melawan khilafah. Untuk memperjuangkan Indonesia yang pluralis. Suara PSI di DKI Jakarta sangat penting. Untuk bukan hanya PSI. Untuk Indonesia.

Itulah potret caleg berasa relawan. Selamat datang di DPRD DKI untuk melawan Anies Baswedan, pengusung khilafah 2024 yang harus diwaspadai. Viani Limardi, SH. (Penulis: Ninoy Karundeng)