Bendera HTI Dibakar dan Ketegasan Negara Hantam Terorisme dan Khilafah

0

Bendera HTI dibakar. Ribut. Itu akibat provokasi simpatisan HTI dan khilafah yang menyusup hendak mengacaukan pelaksanaan perayaan Hari Santri. Polri segera melakukan pengejaran terhadap provokator yang sudah diketahui identitasnya. Negara pun tetap tegas memberantas terorisme dan khilafah. Tidak akan pernah surut. Tegas!

Para simpatisan HTI, eks HTI dan penganut khilafah mendapatkan panggung. Mereka muncul ke permukaan bagaikan berudu di kolam kering mendapatkan air. Mereka berpesta-pora menikmati kebebasan merengkuh momentum.

Berudu dan para politikus pembenci pemerintah, termasuk juga kalangan Islam radikal, eks HTI, secara bersamaan berusaha melakukan perlawanan. Fitnah pun digeber di media sosial dan media mainstream. Bahwa Banser membakar bendera selain bendera HTI.

Keterangan Polri sudah jelas namun tidak diterima. Ahli sejarah Islam tentang bendera, ditolak demi untuk memenuhi hasrat politik. Kebencian terhadap pemerintahan Jokowi dibangun.

Nafsu politik dengan isu SARA, kebencian, hoax, kampanye hitam, mendapatkan momentumnya. Dipelintirlah kasus itu menjadi senjata politik, serangan politik yang sudah menjadi ciri khas anti pemerintah: isu agama, isu SARA.

Terlebih lagi sandiwara hoax oleh kelompok Prabowo-Sandi dibongkar. Ratna Sarumpaet dan geng mereka pun diciduk polisi. Mereka terpaksa menggunakan plan B untuk melakukan kapitalisasi terhadap aborted political campaign strategy.

Kejahatan strategi politik ala Prabowo-Sandi dengan aktor nenek Ratna telanjang di mata ahli strategi politik, tidak perlu berguru pada orang seperti Rob Allyn.

Kebohongan, pemelintiran, dan kengawuran memberikan pernyataan politik oleh kubu Prabowo-Sandi adalah semata strategi kampanye. Itu meniru kampanye model Trump dan Brexit. Mereka menerapkan kebencian, rasa takut sebagai alat untuk merebut kekuasaan.

Sejatinya, kisah sukses di Pilgub DKI 2017 akan diulangi di Pilpres 2019. Namun, Jokowi yang menggandeng KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi – dengan segala perhitungan rumitnya – telah membuat Prabowo-Sandi, SBY, FPI dan  bahkan gerakan khilafah kelimpungan.

Terbukti, hasil survei menunjukkan Prabowo-Sandi keteteran.  Meski semua partai pendukung banding pembubaran HTI yakni PAN, PKS, Demokrat dan Gerindra bergabung.

Lebih jauh, pemerintah tetap konsisten menjaga keutuhan NKRI. Ketegasan Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla dalam memberantas terorisme, membubarkan HTI, menghantam gerakan Islam garis keras, sekaligus strategi merangkul kelompok Islam moderat telah membuat musuh politik Jokowi kehilangan kekuatan.

Maka, ketika bendera HTI dibakar oleh Banser, seketika itu pula mereka bersatu padu merapatkan barisan. Eks HTI kembali melakukan konsolidasi. Tampak para simpatisan telanjang mendukung khilafah. Tinggal menunggu pelaku gerakan makar dan terorisme dikenali dan ditangkap.

Padahal, Bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) hanyalah sebuah bendera lambang ormas terlarang. Bendera Hizbut Tahrir bukanlah lambang keyakinan Islam. Bendera HTI adalah lambang gerakan politik yang bermimpi mendirikan negara khilafah.

Di balik itu, sesungguhnya secara politis, kekuatan oposisi pembenci Jokowi, dengan seluruh unsur simpatisan, bisa dilihat jelas di media sosial dan media mainstream.

Gerakan yang mengarah kepada makar, memicu kebencian dan kerusuhan dengan menunggangi pelintiran pembakaran bendera HTI akan ditindak tegas oleh Polri, TNI, BIN dan pencinta NKRI. Salam bahagia ala saya. (Penulis: Ninoy N Karundeng – Wakil Presiden Penyair Indonesia).