Ani Hasibuan, Bejatnya Moralitas Oknum Dokter, Tanpa Empati

0

Ani Hasibuan muncul di TVONe. Saya dan teman saya, Mas Indro, langsung komentar. Nah, ini Ani Hasibuan, dokter ini pasti kampret. Kampret. Itu dilihat dari cara berpakaian dan mimik mukanya penuh kemarahan. Saya menunggu dia berbicara.

Mulailah dia ngomong. Dia almamater UI, mungkin. Tempat banyak kampret dan radikalisasi Islam bersemi subur. Nah, mulailah dia miring-miring pikirannya. Omongannya ngawur. Salah satu yang membuat saya kaget adalah ketololannya. Dia mengungkapkan asumsi. Tanpa bukti. Tanpa fakta.

Dia menyebutkan, secara lugas. Bahwa sebagai petugas KPPS / TPS, yang kerjanya cuma mencatat kok mati. Ani ini berusaha menggiring opini. Bahwa dia sebagai dokter. Tahu tentang medis. Muncul masalah. Pasalnya, dia tidak tahu sama sekali pekerjaan KPPS. Bahlul.

Ani Hasibuan tidak tahu sama sekali bahwa petugas TPS itu volunteer, relawan. Bukan pekerjaan seperti dokter. Bukan anggota DPR. Bukan buruh. Seperti pemilu sebelumnya, mereka sukarela menjalankan tugas untuk kepentingan negara.

Ani Hasibuan buta lapangan. Bahwa sesungguhnya pekerjaan KPPS dan petugas TPS sangat berat. Namun mereka juga tidak, mengeluh. Dari jutaan petugas KPPS/TPS tidak direkrut secara paksa. Uang honor ala kadarnya pun tidak menjadi masalah bagi mereka.

Lalu pekerjaan dan gaji mereka dipermasalahkan. Itu muncul ketika 02 kalah. 

Ani sebagai bagian dari kelompok kalah ingin unjuk gigi. Dia menggiring opini. Itu seperti kelakuan Hanum Rais, soal hoaks Ratna Sarumpaet. Ani terpapar paham radikal – sebagaimana banyak menjangkiti kalangan dokter yang frustasi. Ditambah lagi dengan Menteri Kesehatan, titipan Jusuf Kalla, yang tidak bekerja maksimal. Makin menumpuklah kegalauan orang macam Ani Hasibuan.

Maka cara-cara sistematis menyebarkan fitnah mulai dilakukan oleh Ani Hasibuan. Dia mendatangi DPR. Minta otopsi pada mayat. Ini tindakan yang sangat tidak etis. Sangat tidak menghargai keluarga korban. Tewasnya 400 lebih petugas KPPS/TPS dipolitisir, diframing sebagai kematian tidak wajar. Ini tindakan kurang ajar. Tidak bermoral ketimuran. Tidak menghargai kematian, perjuangan untuk menegakkan krasi.

Tidak ada rasa bela sungkawa sedikitpun dari Ani Hasibuan dalam menjelaskan kematian, walaupun dia hanya berasumsi. Dia mendorong penyelidikan. Padahal dia hanya dokter ahli syaraf. Bukan dokter forensik. Mungkin kita perlu memeriksa kesehatan mental dan syarafnya. Kenapa?

Ani Hasibuan, di depan jutaan pemirsa televisi menyatakan dia bukan pendukung 01 atau 02. Dia netral. Dia hanya mengungkapkan dari disiplin ilmunya. Namun, melihat cara dia berbohong, cara dia menggiring, dia sudah termakan indoktrinasi penyebar hoaks. Dia mirip sekali dengan Ratna Sarumpaet, dengan Hanum Rais, dengan Kivlan Zen, dengan Rizieq dan mirip Prabowo-Sandi. Bicara ngawur tanpa data.

Nah, kecurigaan saya dan Mas Indro benar. Hanya beberapa jam setelah Ani Hasibuan tampil di TVOne, muncul kebenaran.  Dan, dia dibantai habis oleh Adian Napitupulu. Seperti juga Rocky Gerung tak berkutik dihajarnya. Ternyata Ani Hasibuan adalah pendukung 02.

Dia adalah bagian dari kampret yang hendak menyebarkan hoaks dan memicu syak wasangka dan fitnah. Dia menggiring opini agar tercipta opini bahwa kematian para anggota KPPS tidak wajar. Dan, itu akan dia giring lagi menjadi bagian dari narasi besar: Pemilu 2019 tidak legitimate.

Ani Hasibuan merupakan bagian dari skenario besar. Berniat membuat fitnah. Dasarnya? Dia berbohong di depan jutaan pemirsa televisi. Skenario besar dia adalah ingin merusak nama KPU. Menggiring bahwa pemilu tidak sah.

Dan, ujungnya. Nah, ujungnya. Dia akan minta KPU untuk memenangkan Prabowo-Sandii. KPU melakukan diskualifikasi terhadap Jokowi, karena KPU curang. Conflicting paradoxical logic. Logika berseberangan yang tidak waras.

Dan dokter Ani Hasibuan ini adalah bagian dari ketidakwarasan. Akibat radikalisme Islam, HTI, dan khilafah, serta PKS di kampus seperti di UI. Dan demi menyebarkan kebencian, menebar syak wasangka, Ani Hasibuan berbohong. Ini sudah keterlaluan.

Nara sumber di televisi yang katanya netral, ternyata hanya susupan kubu Prabowo. Dia adalah bagian dari bangkrutnya moralitas dokter, atau kebetulan dia satu dari ribuan dokter yang terpapar paham radikal. Dia adalah gambaran bangkrutnya identitas keindonesiaan, diganti dengan Arabisme. Maka moralitas pun hilang ditelan nafsu politik. Tanpa empati. Orang mati pun dijadikan alat politik penyebaran fitnah. (Penulis; Ninoy N Karundeng).