Analogi Politik dalam Sepakbola atas Kemenangan Kroasia dan Anies-Sandi

0

Kemenangan Kroasia atas Argentina dengan skor telak 3-0 dini hari tadi sangat fenomenal. Kemenangan itu juga mengingatkan kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.

Kroasia memenangi pertandingan melawan raksasa sepakbola Argentina. Kemenangan yang oleh banyak orang bahkan pendukung Kroasia pun tidak pernah membayangkan dengan skor telak 3 gol tanpa balas. Kemenangan Kroasia ini sekaligus menjadi kekalahan terbesar sejak tahun 1958 lalu.

Strategi dan Pelatih

Kroasia pantas memenangi pertandingan karena faktor kesiapan strategi. Kroasia hampir tidak lolos ke Piala Dunia 2018 Russia, jika tidak ada keputusan berat memecat pelatih Ante Cacic. Penyebabnya adalah dua kekalahan atas Turki dan Islandia.

Adalah pelatih Kroasia Zlatko Dalic yang mengubah peran pemain hebat Real Madrid Luca Modric dan Ivan Rakitic. Dua hari sebelum pertandingan penting melawan Ukraina, pelatih sebelumnya dipecat. Peran Modric dan Ivan Rakitic dikembalikan sebagai play makers. Hasilnya Ukraina dicukur 2-0 di Kiev, dan dalam pertandingan terakhir play off menghabisi Yunani dengan skor agregat 4-1.

Catatan sebelumnya di Piala Eropa 2016, Kroasia lolos ke putaran kedua setelah mengalahkan juara dunia Spanyol 2-1 dan Turki 1-0 serta imbang melawan Republik Czech 2-2. Kroasia dihentikan oleh Portugal 1-0, yang akhirnya Portugal menjuarai Piala Eropa kali pertama. Dengan catatan itu, semestinya tidak ada keraguan terhadap kemampuan Kroasia.

Dengan skuat yang hampir sama, ditambah tenaga muda, pelatih brilian, pengalaman dan pembinaan pemain sepakbola dengan tim mulai U15, Kroasia menjadi negara sepakbola dengan mengirimkan 323 pemain yang mayoritas 92% bermain di liga anggota UEFA. Ada empat pemain yang ikut final liga Champions Eropa.

Pelatih Zlatko Dalic pun mempelajari Timnas Argentina yang berpusat kepada catatan Lionel Messi. Messi adalah skorer tersubur sepanjang masa Barcelona, pemain terbaik dunia berkali-kali. Rekor mentereng yang bisa menghantui pemain Kroasia.

Dengan kondisi ini dipastikan segala serangan akan bertumpu kepada Messi. Untuk itu yang harus dilakukan oleh Timnas Kroasia adalah melakukan upaya mematikan gerak Messi. Caranya adalah para pemain Kroasia harus terus bergerak menekan Argentina begitu kehilangan bola. Dengan cara ini suplai bola dari Mascherano, Higuain, dan Aguera ke Messi bisa dihentikan. Strategi yang dipakai adalah menumpuk 5 pemain dan menerapkan strategi 4-5-1.

Pemain-pemain Argentina pun merasa di bawah bayang-bayang Messi, sementara Messi merasa terbebani. Catatan beban mental seperti ini tidak pernah terjadi di Tim Barcelona di mana Messi di sana adalah penerima layanan, sementara di Timnas Argentina dia harus bekerja keras. Akibatnya, Timnas Argentina tidak bisa bermain sepenuhnya. Kondisi ini dipahami oleh pelatih Zlatko Dalic.

Dalam hal peringkat FIFA pun Argentina bertengger tegak di posisi 5. Sementara Kroasia sepuluh kali lebih bawah yakni rangking 52. Dengan posisi ini maka Argentina memiliki kepercayaan diri tinggi, sedangkan Kroasia dianggap orang dalam posisi under dog.

Terkait pelatih pun Argentina tidak memiliki pelatih sebagai ahli strategi yang hebat. Berencana tampil menyerang, menghadapi Kroasia pelatih Jorge Sampaoli justru menerapkan formasi super aneh 3-3-3-1 seperti dini hari tadi ketika menghadapi Kroasia. Dengan formasi seperti itu jelas menyulitkan peran baik Messi maupun Mascherano, Aguero, dan Higuain.

Kemenangan Anies Baswedan dan Peran Eep Saefullah Fatah

Catatan tentang Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) pun seperti catatan Messi. Ahok unggul telak dalam survei yang mencapai 74% kepuasan kinerjanya. Namun untuk elektabilias Ahok-Djarot hanya mencapai angka lebih dari 42%, sementara Anies Baswedan mencapai 58%. Sementara itu Ahok-Djarot pun didukung oleh mayoritas partai besar Golkar, PDIP, NasDem, Hanura, PKPI, dan PPP.

Publik terkesima melihat catatan kekuatan Ahok-Djarot. Karena kelengahan itu pada pemilihan sesungguhnya secara mengejutkan Ahok-Djarot kalah – terlepas dari fakta tentang sinyalemen upaya politik penyelamatan terhadap Jokowi.

Selain itu, salah satu penyebab kekalahan terbesar Ahok-Djarot adalah over confident alias terlalu percaya diri, sehingga lawan menjadi lebih siap.

Kondisi ini lebih diperparah lagi oleh kenyataan KPUD dan Bawaslu DKI Jakarta tidak bertindak tegas menyangkut pelanggaran tempat ibadah sebagai alat kampanye.

Di balik itu masih ada dorongan yang tidak diketahui sebagai modal kekuatan yakni dukungan Susilo Bambany Yudhoyono dan Jusuf Kalla serta Aburizal Bakrie dan para pengusaha.

Dan yang tak kalah pentingnya, strategi racikan Eep Saefullah Fatah secara efekif dan cerdas berhasil secara efektif mengenai alam bawah sadar. Isu yang dipakai adalah isu agama termasuk SARA. Bahkan masjid pun dijadikan alat dan strategi memenangi Pilkada DKI Jakarta 2017 tersebut.

Pelajaran Politik dari Sepakbola

Argentina yang memiliki rekor mentereng tidak bisa menghasilkan kemenangan atas Kroasia. Ini seperti halnya Ahok-Djarot yang memiliki catatan mentereng gagal memenangi Pilkada DKI Jakarta 2017.

Ada faktor pelatih sebagai ahli strategi yang membuat Kroasia menang yakni faktor Zlatko Dalic, seperti halnya Eep Saefullah Fatah yang menjadi arsitek kemenangan Anies-Sandi.

Ahok-Djarot lebih banyak mengikuti genderang yang ditabuh lawan dan tidak menyerang. Sama dengan fakta Messi hanya melepaskan satu tembakan ke arah gawang selama pertandingan.

Belajar dari peristiwa kemenangan Kroasia dan Anies-Sandi, siapa pun calon presiden baik Prabowo, Anies, Agus Harimurti Yudhoyono maupun petahana Jokowi harus memiliki ahli strategi politik yang multi-dimensi jika tidak mau tersingkir dan menjadi pecundang.