Munafik, Syarat Mutlak Untuk Jadi Politisi!

0

Sebagai manusia, kita harus beradaptasi agar dapat bertahan hidup di dunia yang tidak menentu. Sebagai manusia, kita harus tetap bertahan agar bisa menjadi orang yang hidup dalam dunia yang penuh dengan fluktuasi.

Di dalam dunia politik, kita hidup juga di dalam sebuah drama yang begitu dinamis.

Dinamika politik membuat kita terkadang agak bingung sebagai orang awam melihat mengenai makna persahabatan. Apakah mereka benar-benar berseteru?

Melihat warga pendukung paslon tertentu bentrok, tapi kok elitnya malah peluk-pelukan dan rangkulan? Apakah mereka munafik? Atau mereka hanya melakukan proses bertahan hidup yang kita kenal dengan istilah “adaptasi”?

Maka sebelum kita melihat mengenai dunia politik, khususnya di Indonesia yang penuh dinamika ini, mari kita memahami beberapa logika dasar dalam munafik dan adaptasi.

Terkadang kita sulit membedakan atau bahkan tidak ngeh membedakan antara munafik dan adaptasi.

Adaptasi adalah proses bertahan hidup yang dilakukan oleh seluruh makhluk hidup dengan cara menyesuaikan diri terhadap kondisi tertentu yang diberikan.

Adaptasi makhluk hidup ini sering dilakukan oleh spesies baik dari hewan, tumbuhan sampai kepada bahkan Homo sp. yang adalah manusia.

Adaptasi adalah proses bertahan hidup. Tumbuhan harus beradaptasi untuk menyesuaikan diri mereka ke dalam kondisi atau medan tempat mereka berada.

Contohnya kaktus harus beradaptasi dengan cara membuat daunnya setipis mungkin agar penguapan tidak terjadi.

Sedangkan tanaman di daerah hutan hujan tropis harus memiliki daun selebar mungkin agar tidak “kembung”.

Sebenarnya tidak ada istilah “kembung” dalam menampung air, tapi untuk mempermudah kita membayangkan saja. Maka daun-daun yang lebar itu akan menjadi tempat penguapan air besar-besaran agar tetap bisa bertahan.

Hewan juga melakukan adaptasi. Menurut teori yang dituliskan Darwin di dalam buku The Origin of Spesies, ada dua jenis evolusi, yakni evolusi makro dan evolusi mikro.

Saya tidak akan membahas mengenai teori evolusi makro yang sampai sekarang masih dalam perdebatan, khususnya bagi kaum agamawan.

Tapi semua orang pasti harus setuju dengan teori evolusi mikro. Teori evolusi mikro ini adalah salah satu teori yang mendasar dan fundamental dalam mengenal adaptasi.

Contoh yang paling terkenal adalah burung finch. Burung finch melakukan adaptasi terhadap paruhnya. Burung finch adalah burung yang tersebar di seluruh dunia.

Dengan kondisi hutan yang berbeda-beda dan makanan yang bervariasi, spesies ini melakukan adaptasi terhadap paruhnya, agar bisa memproses makanan yang disediakan alam kepada mereka dengan baik.

Selain ini, masih banyak sekali evolusi mikro yang terjadi di dunia. Evolusi mikro ini bisa diturunkan melalui genetika. Mengapa?

Karena evolusi mikro dengan metode adaptasi ini, bukan hanya mengubah morfologi makhluk hidup, tapi fisiologinya juga. Bukan hanya bentuk, melainkan sampai kepada fungsi-fungsinya.

Bahkan manusia pun mengalami evolusi mikro. Mereka yang tinggal di daerah khatulistiwa, memiliki kulit yang relatif lebih gelap. Ini bukan karena gosong semata.

Mereka justru membutuhkan pigmen yang lebih banyak, agar dengan kulit yang hitam, mereka bisa lebih bertahan terhadap sengatan sinar matahari. Kulit yang hitam justru memiliki sifat melindungi.

Memang secara warna, mereka akan menjadi penghisap sinar. Tapi pigmen itu justru melindungi. Orang yang berkulit gelap, cenderung lebih bertahan terhadap penyakit kulit. Banggalah jika kulit kita hitam!

Dari sini kita memahami dengan jelas bahwa adaptasi adalah cara bertahan hidup setiap makhluk hidup. Semua makhluk hidup pasti melakukan adaptasi.

Setiap manusia dan ciptaan lainnya melakukan adaptasi. Adaptasi adalah proses bertahan hidup. Tapi bagaimana dengan munafik? Rasanya, perbedaan mendasar dari adaptasi dan munafik adalah “siapa yang melakukan itu”.

Saya haqqul yakin bahwa hanya manusia yang bisa munafik. Ciptaan Tuhan lainnya tidak bisa melakukan kemunafikan. Ini adalah sebuah hal yang paling esensial terjadi.

Apalagi menjadi politisi, saya sulit melihat perbedaan antara politisi yang sedang beradaptasi, dan mana politisi yang munafik.

Memang di dalam ranah sosial dan ranah kemanusiaan, tidak ada garis tebal yang memisahkan antara manusia adaptasi dan munafik. Kedua-duanya mirip coy.

Ada pepatah mengharukan yang mengatakan seperti ini…

Karena kawan dan lawan dalam politik tidak ada yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan.

Rasanya tidak semudah dan semuach itu, Pulgoso. Kepentingan yang abadi itu tidak ada juga. Tidak ada kepentingan yang abadi. Yang ada adalah kemunafikan yang abadi. Menjadi politisi, apakah harus munafik?

Apakah munafik menjadi syarat mutlak sebagai politisi? Apakah benar demikian? Atau bagaimana? Rasanya tidak benar.

Sebagai manusia, tentu kita harus membuat politik menjadi lebih baik. Politik harus mengayomi. Politik harus mendengarkan.

Apalagi di Indonesia, politik itu bukan tempat orang makan orang. Politik itu harusnya menjadi alat untuk menghubungkan, menyambungkan dan mengkomunikasikan antara pemimpin dan rakyat.

Tapi sayangnya, politik saat ini menjadi alat untuk saling serang. Politik ditempelkan dengan agama agar terlihat lebih barokah, kalau perlu pakai V agar lebih varoookah.

Tapi di belakangnya, ternyata kepentingan sepihak saja yang terjadi.

Politik ditempelkan dengan identitas, menjadi kecelakaan terbesar bagi DKI Jakarta. Sudah lah saya tidak mau lanjutkan lagi.

Kalau dilanjutkan, nanti ada yang meringies nangies di ujung ruangan di sana sambil mengais-ngais lubang vertical drainage yang sedang mampet karena sampah kiriman dari Bogor. Itulah akibat dari politik identitas.

Tapi ada satu partai yang bagi saya, memperlihatkan bagaimana menjadi politisi. Partai apa itu? Kalian tahu sendiri. Pembaca di sini pasti sudah cukup cerdas.

Semoga saja artikel ini mencerahkan dan membuat kita memaknai hidup ini, agar tidak jadi munafik. Menjadi politisi, tidak harus munafik kok.